Pengetatan Moneter The Fed Belum Berhenti

Rabu, 13 Sep 2023, 10:29 WIB

JAKARTA - Bank Sentral AS atau Federal Reserve (the Fed) bakal mengerem kebijakan normalisasi moneternya. Pelaku pasar memperkirakan the Fed masih akan mempertahankan suku bunga acuan atau Fed Funds Rate (FFR) di level 5,5 persen bulan ini.

Keputusan the Fed untuk menaikkan atau mempertahankan suku bunga acuan akan dibahas dalam rapat Federal Open Market Commitee (FOMC) pada 20 September 2023.

Ket. Foto: — Sumber: ISTIMEWA

"Sepertinya probabilitas pada September ini masih sangat kecil. Kalau lihat dari ekspektasi market-nya di atas 90 persen untuk probabilitas tetap stay di 5,5 persen," kata Ekonom Senior, Rully Arya Wisnubroto, dalam Media Day: September 2023 oleh Mirae Asset Sekuritas di Jakarta, Selasa (12/9).

Rully menjelaskan the Fed akan berhati-hati dalam mengambil keputusan untuk mempertahankan suku bunga. Pascapandemi Covid-19, arah the Fed dalam pengambilan keputusan sangat bergantung pada data yang ada (data dependent), terutama yang berkaitan dengan tingkat inflasi dan lapangan kerja.

"Itu memang karena mereka sudah menaikkan secara sangat agresif dari awal bulan 2022, dari 0,25 persen, saat ini 5,5 persen. Mereka masih harus berhati-hati, karena apabila terlalu agresif menaikkan suku bunga, ini akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi. Sementara kalau kurang agresif maka akan berdampak pada inflasi yang akan terus naik," ujar Rully.

Meski demikian, Rully menilai masih sangat terbuka kemungkinan bagi the Fed untuk menaikkan suku bunga lebih tinggi dalam rapat selanjutnya pada November dan Desember mendatang, mengingat masih ada tiga pertemuan komite lagi.

Tahun ini, the Fed diperkirakan masih akan menaikkan suku bunga acuan hingga 25 basis poin (bps) di level 5,75 persen. Kemungkinan kenaikan tersebut akan terjadi dalam pertemuan FOMC pada November dengan mengacu pada data ekspektasi pasar yang mencatatkan 43,6 persen berekspektasi akan naiknya suku bunga The Fed.

Hal itu disebabkan oleh tingkat inflasi AS yang masih cukup tinggi di level 3,2 persen pada Juli 2023. Kemudian, inflasi Indeks Harga Belanja Personal (PCE) Inti AS yang saat ini tengah diawasi secara ketat juga dinilai masih tinggi. Inflasi PCE secara bertahap telah turun menjadi 4,3 persen pada Juli 2023, meskipun tercatat masih melampaui target the Fed yang sebesar 2 persen.

"Pada November (2023), mereka masih akan tetap data dependent, namun kalau kita lihat terutama dari kondisi inflasi yang masih di atas target yaitu 2 persen, mungkin the Fed masih harus tetap menaikkan suku bunga. Kalau kita lihat 25 bps ke 5,75 persen," jelasnya.

Langkah Antisipasi

Lebih lanjut, Rully menambahkan apabila suku bunga the Fed naik di level 5,75 persen maka akan setara dengan suku bunga acuan Bank Indonesia atau BI-7 Day Reverse Repo Rate (BI7DRR). Menurutnya, BI telah mengantisipasi langkah the Fed tersebut.

Adapun pekan lalu, Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, juga telah memperkirakan suku bunga the Fed masih akan berpotensi meningkat hingga 6 persen. Sebagai langkah antisipasi, Perry menyampaikan bahwa BI akan terus melakukan langkah stabilisasi rupiah untuk menghalau dampak dari rambatan ketidakpastian pasar keuangan global.

Sementara itu, Menteri Keuangan, Sri Mulyani, mengatakan para pemimpin dunia harus terlibat aktif dalam upaya mengatasi berbagai masalah yang terjadi dalam skala global, seperti situasi ketidakpastian di bidang geopolitik, suku bunga, hingga perjanjian dagang antarnegara.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara, Muchamad Ismail

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.