• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • YJI Lanjutkan Skrining Pen...

YJI Lanjutkan Skrining Penyakit Jantung Rematik, 958 Anak di Bekasi Jalani Pemeriksaan

Senin, 03 Agu 2026, 19:45 WIB

JAKARTA — Yayasan Jantung Indonesia (YJI) melanjutkan program nasional skrining Penyakit Jantung Rematik (PJR) dengan menyasar anak-anak sekolah dasar di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.

Kabupaten Bekasi menjadi daerah ketiga dalam rangkaian program skrining nasional tersebut setelah sebelumnya kegiatan serupa digelar di Malang dan Tulang Bawang, Lampung. Setelah Bekasi, program akan dilanjutkan ke Minahasa Utara.

Ket. Foto: Petugas sedang melakukan skrining Penyakit Jantung Rematik (PJR) di sekolah dasar di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Yayasan Jantung Indonesia melanjutkan program ini dengan memeriksa 958 anak sebagai bagian dari target 8.000 siswa di Indonesia. — Sumber: YJI

Dalam tahap pertama pelaksanaan di Kabupaten Bekasi, sebanyak 958 anak dari SDN Cibuntu 01 dan SDN Warnasari 01 menjalani pemeriksaan. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari target YJI untuk melakukan skrining terhadap 8.000 anak usia sekolah dasar di seluruh Indonesia.

Skrining dilakukan untuk mendeteksi secara dini PJR, penyakit yang dapat muncul sebagai komplikasi infeksi tenggorokan akibat bakteri streptokokus yang tidak ditangani dengan baik. Kondisi tersebut dapat menyebabkan kerusakan pada katup jantung dan berujung pada masalah kesehatan jangka panjang.

Di Kabupaten Bekasi, pemeriksaan difokuskan pada siswa kelas 5 dan 6 SD. Pemeriksaan menggunakan perangkat ekokardiografi portabel untuk mendeteksi kemungkinan kelainan pada katup jantung.

Hasil pemeriksaan terhadap 958 anak tersebut selanjutnya akan dianalisis untuk menentukan langkah intervensi yang diperlukan.

Anak Usia Sekolah Jadi Sasaran Utama

PJR menjadi perhatian karena kelompok usia anak dan remaja merupakan salah satu kelompok yang rentan mengalami penyakit tersebut. Berdasarkan data yang disampaikan YJI, sekitar 60 persen kasus radang tenggorokan berulang berpotensi berkembang menjadi PJR.

YJI juga menyebut lebih dari 50 persen kasus PJR dapat tidak menunjukkan gejala hingga memasuki stadium lanjut. Pada penderita PJR berat, risiko kematian dini disebut dapat meningkat dua hingga tiga kali lipat.

Kelompok usia 5–15 tahun menjadi salah satu kelompok yang paling rentan sehingga skrining berbasis sekolah dinilai penting untuk menemukan kasus lebih awal.

Ketua Bidang Medis sekaligus Project Director Rheumatic Heart Disease Screening YJI, dr. Ario Soeryo Kuntjoro, Sp.JP(K), mengatakan pemeriksaan di sekolah dapat membantu menjangkau anak-anak yang mungkin belum mendapatkan pemeriksaan jantung secara khusus.

“Skrining di sekolah sangat krusial karena kelompok usia 5–15 tahun adalah yang paling rentan terhadap PJR. Dengan deteksi dini, kita bisa mencegah kerusakan jantung permanen dan memberikan intervensi sebelum terlambat,” ujar Ario melalui siaran pers pada hari Senin (3/8).

Menurut dia, pemeriksaan terhadap 958 anak di SDN Cibuntu 01 dan SDN Warnasari 01 merupakan bagian dari upaya untuk memperluas deteksi dini PJR pada anak.

Libatkan Guru dan Orang Tua

Program di Kabupaten Bekasi tidak hanya berfokus pada pemeriksaan kesehatan siswa. YJI juga memberikan edukasi kepada guru dan orang tua mengenai PJR.

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dilibatkan untuk memberikan informasi mengenai gejala awal penyakit, pentingnya menangani infeksi tenggorokan dengan tepat, serta langkah pencegahan yang dapat dilakukan di lingkungan keluarga.

Ketua Bidang Komunikasi sekaligus Project Leader Rheumatic Heart Disease Screening YJI, Iwet Ramadhan, mengatakan keterlibatan guru dan orang tua menjadi bagian penting dalam upaya deteksi dini.

“Kami tidak hanya memeriksa anak-anak, tetapi juga membangun kesadaran di lingkungan sekolah. Guru dan orang tua adalah garda terdepan. Dengan pengetahuan yang cukup, mereka bisa mengenali gejala awal dan segera mengambil tindakan,” kata Iwet.

Edukasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai hubungan antara infeksi tenggorokan dan risiko PJR, sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat ketika gejala muncul.

Menargetkan 8.000 Anak

Program nasional skrining PJR YJI mencakup empat wilayah prioritas, yakni Malang, Tulang Bawang di Lampung, Kabupaten Bekasi, dan Minahasa Utara.

Setelah pelaksanaan di Malang dan Tulang Bawang, Bekasi menjadi lokasi ketiga. Rangkaian kegiatan selanjutnya akan diarahkan ke Minahasa Utara.

Ketua Umum YJI, Annisa Pohan Yudhoyono, mengatakan program tersebut diarahkan untuk memastikan anak-anak mendapatkan kesempatan untuk mengetahui kondisi kesehatan jantungnya sejak dini.

“Kami tidak ingin ada orang tua yang baru mengetahui anaknya mengidap PJR ketika sudah terlambat. Program ini adalah wujud nyata dari ‘Use Heart for Action’—kami bertindak sekarang untuk melindungi masa depan mereka,” ujar Annisa.

Menurut YJI, program skrining tersebut tidak hanya ditujukan untuk menemukan kasus, tetapi juga menjadi bagian dari upaya pencegahan kecacatan permanen dan kematian dini akibat penyakit jantung rematik.

Iwet mengatakan program tersebut akan terus dilanjutkan ke daerah prioritas berikutnya.

“Kami memulai dari Malang, Tulang Bawang, kemudian Bekasi dan akan terus bergerak ke Minahasa Utara. Ini adalah perjalanan panjang, tetapi setiap anak yang kami skrining adalah nyawa yang kami selamatkan,” ujarnya.

Hasil Skrining Akan Dikaji

YJI menyatakan hasil pemeriksaan anak-anak di Bekasi akan dikompilasi dengan hasil skrining dari daerah lain. Data tersebut akan dianalisis secara komprehensif dan direncanakan untuk dipublikasikan dalam jurnal ilmiah.

Hasil penelitian tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu dasar dalam penyusunan rekomendasi kebijakan mengenai skrining PJR di sekolah-sekolah Indonesia.

Dalam jangka panjang, program ini ditargetkan dapat berkontribusi terhadap penurunan kematian dini akibat PJR, meningkatkan kualitas hidup anak, serta mengurangi beban biaya kesehatan melalui deteksi dan intervensi lebih awal.

PJR yang ditemukan pada tahap lanjut dapat membutuhkan penanganan yang lebih kompleks dibandingkan kondisi yang terdeteksi dan ditangani sejak dini.

Menggunakan Teknologi Ultrasound Portabel

Untuk mendukung pemeriksaan, program skrining menggunakan perangkat Lumify, teknologi ultrasound portabel dari Philips. Perangkat tersebut menggunakan transduser ultrasonik yang dapat dihubungkan dengan perangkat Android atau iOS yang kompatibel.

Penggunaan teknologi portabel memungkinkan pemeriksaan dilakukan lebih fleksibel di lokasi yang memiliki keterbatasan akses terhadap layanan spesialis jantung.

Program ini juga mendapat dukungan dari Philips Foundation melalui kemitraan dengan World Heart Federation (WHF). Dukungan tersebut ditujukan untuk membantu YJI memperluas jangkauan skrining ke wilayah prioritas dan menjangkau anak-anak yang memiliki keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan jantung.

Melalui rangkaian skrining tersebut, YJI menargetkan deteksi PJR dapat dilakukan sedini mungkin. Dengan demikian, anak-anak yang membutuhkan pemeriksaan atau penanganan lebih lanjut dapat segera diarahkan ke layanan kesehatan yang sesuai.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.