Kembangkan Pangan Lokal agar RI Tidak Terus Bergantung Impor
📅 Rabu, 30 Agu 2023, 00:04 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: ANTARA/AMPELSA
» Pemerintah harus segera memperbaiki jaringan irigasi yang tingkat kerusakannya mencapai 60 persen.
» Kalau tidak memulai pengembangan komoditas lokal maka semuanya akan terlambat.
JAKARTA - Dalam menyikapi gangguan rantai pasok global yang diperkirakan berlangsung hingga akhir tahun depan, pemerintah perlu mendorong pengembangan pangan lokal, terutama di luar Jawa.
Research Director Indef (Institute For Development of Economics and Finance), Berly Martawadaya, di Jakarta, Selasa (29/8), mengatakan dengan kondisi saat ini maka sangat sulit menggenjot produksi beras. Perkiraan dari ahli-ahli pertanian, produksi padi tahun ini turun karena El Nino.
Di sisi lain, RI tidak bisa terus-terusan berharap ke pasokan komoditas impor karena negara-negara produsen sudah mulai memperketat ekspor berasnya seperti yang dilakukan India.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pemerintah, papar Berly, harus belajar dari Vietnam dalam hal mendorong produksi pangan. Di Vietnam, mereka membuat hasil tes tanah per kecamatan. Misalnya, untuk tanam karet tidak bisa terlalu luas juga. Kalau luas maka dampaknya akan seperti sekarang.
"Indonesia semestinya begitu. Daerah-daerah luar Jawa jangan dipaksa tanam padi atau singkong," kata Berly dalam diskusi bertajuk "Hati-hati Gejolak Dunia Bisa Merembet ke Indonesia", di Jakarta, Selasa (29/8).
Menurut Berly, pola pengembangan pangan luar Jawa beda dengan Pulau Jawa. Kalau di Jawa mengandalkan tanaman padi, maka luar Jawa bisa dengan pangan lokal. Daerah di luar Jawa perlu menanam pangan lokal, seperti ubi, sagu, dan jagung.
Sebaiknya Anda baca juga:
Diakui, tekanan ekonomi global memang tidak terlalu berdampak luas ke Indonesia karena ekonomi masih ditopang oleh konsumsi. Namun demikian, jika terus-menerus dibiarkan, perekonomian bakal terganggu.
Saat ini, dengan harga gandum melonjak, tentu merugikan konsumen produk yang berbahan baku gandum. "Ini yang perlu diantisipasi agar gejolak ekonomi global tidak berdampak ke kita, optimalkan sumber-sumber pangan lokal," tandas Berly.
Secara terpisah, pengamat pangan lokal Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti Jakarta, Saptarining Wulan, berharap agar pemerintah mempercepat diversifikasi pangan sesuai dengan kearifan dan kekayaan lokal.
"Kita memiliki sekitar 77 jenis tanaman sumber yang diperoleh dari hutan yang subur. Begitu pula di Nusa Tenggara Timur (NTT), banyak tumbuh sorgum, maka masyarakat di sekitar sudah terbiasa konsumsi beras sorgum, atau olahan dari tepung sorgum," kata Wulan.

Irigasi Rusak
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!