Teleskop Bantu Revolusi Ilmiah di Eropa
Jumat, 25 Agu 2023, 06:10 WIBPerluasan penglihatan umat manusia secara besar-besaran dengan teleskop merupakan suatu keajaiban yang menarik imajinasi ilmuwan dan khalayak. Teleskop membantu memahami pergerakan benda-benda langit sekaligus meruntuhkan teori yang salah.
Teleskop astronomi menjadi salah satu alat paling penting dari semua instrumen selama revolusi ilmiah yang terjadi di Eropa. Dengan alat-alat ini, Galileo Galilei (1564-1642) dan Isaac Newton (1642-1727) membuktikan teori-teori baru yang revolusioner tentang benda-benda langit dan sifat alam semesta.
Sebelumnya penemuan teleskop, manusia telah mempelajari langit malam selama ribuan tahun. Ptolemeus (90-168 masehi) hingga Nicolaus Copernicus (1473-1543) mampu merumuskan teori tentang hubungan Bumi dengan Matahari, Bulan, dan planet lain hanya dengan menggunakan mata telanjang.
Salah satu astronom terhebat sebelum penemuan teleskop adalah Dane Tycho Brahe (1546-1601), yang sangat sibuk mengukur ketinggian benda langit tertentu yang dapat diamati. Johannes Kepler (1571-1630) adalah tokoh pra-teleskop penting yang membuat instrumen baru versinya sendiri. Ia merumuskan seperangkat hukum baru untuk gerak planet dengan menyatakan planet-planet bergerak mengelilingi Matahari dalam orbit elips, bukan lingkaran sempurna.
Upaya dari generasi ke generasi telah mengumpulkan banyak pengetahuan tentang alam semesta telah memberi sumbangan dalam dunia sains namun juga menghasilkan banyak teori yang salah. Mereka terus menerus berdebat tentang siapa yang memiliki kebenaran, sebuah diskusi yang sering diwarnai oleh prasangka.
Laman World History menyebut bahwa teleskop dengan cepat membuka bidang penyelidikan ilmiah yang sama sekali baru dan sarana untuk menguji banyak teori yang saling bertentangan terhadap bukti fisik dari pengamatan yang terperinci dan berkepanjangan. Sejarah teleskop awal bahkan lebih kabur daripada pandangan kabur yang diperoleh dari lensa awal penemuan penting ini.
Yang jelas alat ini telah menjadi instrumen ilmiah yang krusial. Menggabungkan berbagai lensa atau lensa dan cermin dalam satu instrumen yang sudah ada sejak zaman kuno. Gagasan menggunakan komponen semacam itu dalam satu perangkat yang dapat mendekatkan objek jauh pertama kali muncul di Inggris dan Italia pada abad ke-16.
Namun, perangkat teleskop pertama yang dapat dikenali yang menggunakan lensa cembung dan lensa cekung yang dipasang dalam tabung panjang pertama dilakukan Hans Lippershey (1570-1619) pada 1608 di Belanda. Lippershey adalah pembuat kacamata, tetapi atribusinya sebagai penemu teleskop bermasalah karena dua pembuat kacamata Flemish lainnya membantah klaimnya.
Namun siapa pun yang membuat teleskop praktis pertama, kombinasi dari dua jenis lensa yang diletakkan berjauhan, satu pembesar dan yang lainnya memperkecil, telah memberikan gambaran yang jelas tentang objek yang jauh dan merevolusi cara memandang dunia dan langit. Idenya sangat sederhana sehingga orang lain dengan mudah menyalinnya dan membangun teleskop secara mandiri tanpa pernah melihat ciptaan orang lain.
Dari ide itu, Galileo menjadi peniru yang paling terkenal dengan membangun instrumen yang lebih efisien secara berurutan, untuk menciptakan teleskop paling kuat yang ada dengan pembesaran 33 kali. Teleskop Galileo, yang disebutnya occhiale, memiliki dua lensa yang dipasang di kedua ujung tabung timah dengan panjang sekitar 60 sentimeter.
Dengan perangkat itu Galileo mempelajari langit dengan sangat detail, menerbitkan hasil penelitiannya di Sidereus Nuncius (The Starry Messenger) pada 1610. Galileo dapat mengamati Bulan dan mencatat bahwa permukaannya mirip dengan Bumi dengan pegunungan dan lembah.
Hal ini menunjukkan bahwa itu tidak, seperti yang diperkirakan banyak orang sebelumnya, terbuat dari materi yang sama sekali berbeda. Galileo melihat empat bulan terbesar Jupiter, mempelajari komposisi Bima Sakti, dan mengidentifikasi fase Venus.
Banyak bintang baru yang diamati, yang memberi kepercayaan pada teori bahwa alam semesta bukanlah bola tetapi benda tak terbatas, secara harfiah ruang tak terbatas yang layak untuk huruf kapital "S". Ia juga menggambarkan bintik matahari di Matahari, yang dapat dilihatnya melalui teleskopnya, sebuah fenomena yang diketahui namun tidak secara detail saat itu.
Seperti Galileo, Kepler juga merancang teleskopnya sendiri, versi astronomi sebenarnya, pada 1611. Instrumen Kepler menggunakan dua lensa cembung, yang menghasilkan gambar lebih jelas.
Sisi negatifnya gambar terlihat terbalik oleh pengamat. Kelemahannya ini membatasi penyebaran teleskop astronomi dibandingkan dengan perangkat yang sekarang disebut teleskop laut atau terestrial untuk pengamatan objek jauh di darat atau di laut.
Pada pertengahan abad ke-17, teleskop astronomi diadopsi lebih luas. Namun, selama revolusi ilmiah, kelemahan terbesar pada perangkat ini adalah kurangnya teknologi untuk membuat lensa bermutu tinggi. Untuk itu Galileo berada di depan jalan semua orang di area ini, tetapi tidak akan mengungkapkan dengan tepat bagaimana dia memasang lensa kecilnya itu.
Semakin Rumit
Teleskop astronomi khas abad ke-17 dengan panjang sekitar 15 meter dibuat oleh Johannes Hevelius (1611-1687) di Danzig (Gdansk di Polandia saat ini). Sayangnya, Hevelius hanya menggunakan untuk memetakan Bulan dan enggan menggunakannya untuk mengukur pergerakan bintang dan planet.
Teleskop yang semakin besar dibuat menjelang akhir abad ke-17, yang memiliki sistem lensa yang lebih rumit yang terkadang berjarak beberapa meter di dalam tabung atau tanpa tabung sama sekali, sehingga alat ini disebut teleskop udara.
Ketua Royal Society di Inggris, Henry Oldenburg, memberikan gambaran tentang salah satu teleskop baru yang dibuat oleh perkumpulan tersebut pada 1664. Instrumen tersebut diperkirakan memiliki nilai 100 poundsterling atau 17.000 poundsterling atau 21.500 dollar AS saat ini.
"Kami telah membangun sebuah teleskop sepanjang 60 kaki, yang baru saja diselesaikan oleh rekan senegara kami (Richard) Reeve, yang kaca objeknya diameter sekitar lima inci memiliki bukaan 2,5 inci," tulis sejarawan Lisa Jardine dalam buku Ingenious Pursuits (2000).
Teleskop mungkin merupakan suatu keajaiban, namun ada banyak orang yang skeptis mengenai instrumen model baru ini, seperti yang dijelaskan di sini oleh sejarawan John Henry dalam buku The Scientific Revolution and the Origins of Modern Science (2008).
Henry menggambarkan beberapa orang sezaman Galileo menolak untuk melihat melalui teleskopnya. Mereka beralasan "para pesulap itu" menggunakan kombinasi cermin dan lensa untuk membodohi orang. hay/I-1
Redaktur: Ilham Sudrajat
Penulis: Haryo Brono
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.