Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Menteri Asean Akselerasi Konektivitas Energi Dukung Ketahanan Kawasan

📅 Jumat, 25 Agu 2023, 00:09 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Menteri Asean Akselerasi Konektivitas Energi Dukung Ketahanan Kawasan Doc: ANTARA/Dewa Ketut Sudiarta Wiguna
Ket. Menteri ESDM Arifin Tasrif pada Pertemuan Menteri Energi Asean Ke-41 dan Forum Bisnis Energi Asean di Nusa Dua, Kabupaten Badung, Bali, Kamis (24/8/2023).

Badung - Menteri energi di Asean berkomitmen mengakselerasi konektivitas pasokan energi untuk mendukung ketahanan dan menjamin berkelanjutan di kawasan Asia Tenggara.

"Kami akan meningkatkan interkonektivitas melalui saluran pipa gas trans-Asean, jaringan pembangkit listrik dan juga komitmen antarpihak lainnya," kata Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif saat membuka Pertemuan Menteri Energi Asean Ke-41 dan Forum Bisnis Energi Asean di Nusa Dua, Kabupaten Badung, Bali, Kamis.

Menurut dia, konektivitas energi diperlukan untuk menjawab tantangan permintaan energi yang terus meningkat di Asia Tenggara yang rata-rata mencapai tiga persen per tahun sesuai proyeksi Badan Energi Internasional (IEA).

Melalui energi yang saling terkoneksi, lanjut dia, negara-negara di kawasan Asia Tenggara dapat menjamin kebutuhan, keberlanjutan sekaligus ketahanan energi, sejalan dengan pertumbuhan ekonomi negara di kawasan Asean yang dipastikan terus bertumbuh.

Adapun laju pertumbuhan di Asean mencapai sebesar 4,6 persen pada 2023 berdasarkan proyeksi Bank Pembangunan Asia (ADB).

Menteri ESDM RI menyebutkan konektivitas energi dapat mendukung kawasan Asean sebagai pusat pertumbuhan sesuai dengan komitmen bersama di Asean.

"Dalam skenario ambisius di masa depan, dua per tiga dari permintaan energi yang tumbuh itu dapat dicapai dengan energi terbarukan," imbuh Arifin.

Konektivitas energi menjadi salah satu topik yang dibahas dalam pertemuan gabungan antara unsur pemerintah dan bisnis di kawasan Asean selama 24-25 Agustus 2023 di Nusa Dua, Bali.

Pada pertemuan itu juga ditargetkan mencetuskan investasi dan kemitraan khususnya dalam tiga pilar energi di Asean yakni keberlanjutan, ketahanan dan konektivitas.

"Ini akan menuntun pencapaian rencana Asean dalam kerja sama energi dan target emisi nol karbon," ujarnya.

Sementara itu, khusus untuk Indonesia, pemerintah memiliki ambisi menurunkan emisi karbon hingga 93 persen pada 2060 menjadi 129,4 juta ton setara CO2 dari perkiraan sekitar 1.927.4 juta ton setara CO2 dari aktivitas bisnis misalnya industri, perumahan, transportasi, komersial hingga pembangkit listrik.

Ada pun strateginya di antaranya elektrifikasi, pengembangan BBM nabati, pensiun dini pembangkit listrik tenaga batu bara, sumber baru energi seperti hidrogen dan amonia, dan efisiensi energi.

Selain itu, teknologi penangkapan, utilisasi, dan penyimpanan karbon ataucarbon capture, utilization, and storage(CCS/CCUS).

Berdasarkan kajian IEA dalam laporan bertajuk the IEA's Energy Sector Roadmap to Net Zero Emissions in Indonesia pada September 2022, Indonesia membutuhkan hampir tiga kali lipat investasi energi pada 2030 yakni tambahan investasi sebesar 8 miliar dolar AS per tahun.

Sementara itu, Direktur Celios, Bhima Yudisthira mengatakan, persediaan energi di kawasan Asean perlu mempertimbangkan ketersediaan pendanaan yang murah sehingga diperlukan dorongan bagi sektor perbankan, asuransi, dana pensiun dan lembaga keuangan lainnya untuk lebih banyak lagi terlibat dalam penyaluran pembiayaan dengan bunga murah ke sektor energi terbarukan.

Selain itu, tambah Bhima, kebutuhan energi perlu dipenuhi dengan sumber yang berkelanjutan dan pasokan yang stabil karena berbagai negara dengan ketergantungan energi fosil yang tinggi mengalami kenaikan inflasi saat harga energi naik tajam.

"Kolaborasi antar negara Asean bisa dimulai dengan memasukkan berbagai energi terbarukan kedalam pipeline investasi yang fokus. Dilengkapi dengan pembangunan riset, dan rantai pasok lokal dalam komponen energi terbarukan," tegas Bhima.

Bhima juga mengatakan negara negara Asean juga bisa berkolaborasi menciptakan sumber pendanaan sendiri untuk mendanai EBT, sehingga tidak bergantung pada kucuran dana negara negara maju seperti skema Just Energy Transition Partnerships (JETP) yang sampai saat ini belum turun juga dananya.

"Kolaborasi itu bisa melalui lewat dorongan implementasi taksonomi hijau di Asean, dan insentif bagi lembaga keuangan yang mendanai EBT," ucap Bhima.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Daerah
SPMB 2026 Bengkulu Tanpa Ti...
Megapolitan
Pemutihan Pajak Kendaraan B...
Megapolitan
30 Rumah di Tanah Tinggi Ja...
Megapolitan
Dua WNA Ditemukan Meninggal...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.