Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Hun Sen Kecam Kritik Internasional

📅 Jumat, 04 Agu 2023, 02:45 WIB | Oleh: Tim Penulis
Hun Sen Kecam Kritik Internasional Doc: AFP/Kenzo TRIBOUILLARD
Ket. Hun Sen

KANDAL - Perdana Menteri Kamboja, Hun Sen, pada Kamis (3/8) mengecam kritik internasional terhadap pemilu yang dimenangkan partainya melawan oposisi yang tidak berarti. Hun Sen pun membela keputusannya untuk menyerahkan kekuasaan kepada putranya dengan alasan untuk menghindari terjadinya pertumpahan darah.

Hun Sen, 70 tahun, telah memerintah Kamboja dengan tangan besi selama hampir empat dekade, tetapi pekan lalu mengumumkan bahwa dia akan mengundurkan diri agar putranya, Hun Manet, bisa mengambil alih jabatan sebagai perdana menteri bulan ini.

Langkah itu dilakukan setelah Partai Rakyat Kamboja (CPP) yang dipimpinnya, menang telak dalam pemilihan bulan lalu, sementara Amerika Serikat, PBB, dan Uni Eropa, mengecam pesta demokrasi itu tidak bebas atau adil.

Otoritas pemilihan umum Kamboja mendiskualifikasi satu-satunya partai oposisi yang mapan secara teknis, sehingga membuka jalan bagi CPP untuk memenangkan 82 persen suara dan mengklaim semua kecuali lima kursi di majelis rendah yang beranggotakan 125 orang.

"Saya dapat menyatakan bahwa demokrasi di Kamboja telah menang," kata Hun Sen saat berpidato untuk pertama kalinya sejak pemilu lalu seraya menegaskan bahwa para pengkritik tidak mewakili seluruh komunitas internasional.

Dia juga membela penyerahan kekuasaan kepada Hun Manet dengan alasan bahwa itu diperlukan untuk memastikan perdamaian di negara itu jika dia meninggal saat menjabat. "Hal itu bisa menyebabkan pertumpahan darah untuk merebut kekuasaan," kata Hun Sen, sambil menyangkal ada perselisihan di antara anggota senior partainya mengenai suksesi Hun Manet.

Hun Sen menambahkan bahwa dia akan meminta raja untuk menunjuk Hun Manet, sebagai perdana menteri pada Senin (7/8) sehingga dia dapat membentuk pemerintahan baru saat mosi kepercayaan di parlemen pada 22 Agustus.

Laporan KPU

Sementara itu dari Phnom Penh dilaporkan bahwa pejabat komisi pemilihan umum (KPU) Kamboja mengatakan hampir setengah juta surat suara rusak dalam pemilu bulan lalu. KPU mengatakan sekitar 5 persen dari semua surat suara atau lebih dari 440.000, dinyatakan tidak sah. KPU juga menambahkan bahwa jumlah pemilih tercatat 85 persen, tetapi angka itu lebih rendah dari pemilu 2018.

Sebelum pemilu, beberapa aktivis oposisi mendorong orang-orang untuk dengan sengaja memberikan suara yang tidak sah karena kandidat oposisi utama dicoret dari pencalonan.

Mengantisipasi hal itu, pemerintah Kamboja telah mengeluarkan ancaman akan melakukan tindakan hukum bagi orang-orang yang merusak surat suara atau memboikot pemilu. AFP/NHK/I-1

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Luar Negeri
Toko-toko di Bordeaux bersi...
Luar Negeri
Kenaikan Harga BBM Picu Aks...
Megapolitan
Pasar pangan murah menjangk...
Advertisement
Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.