Butuh Solusi Jangka Pendek Atasi Polusi Udara

Jumat, 09 Jun 2023, 10:44 WIB

JAKARTA - Kualitas udara di sejumlah wilayah di Indonesia beberapa waktu terakhir dalam kondisi mengkhawatirkan. Di Jakarta, misalnya, kualitas udaranya kian memburuk dengan indikasi data IQAir bahwa indeks kualitas udara hampir tak kurang dari 150 pada Mei lalu.

Karena itu, pemerintah perlu segera bertindak memperbaiki kualitas udara di daerah perkotaan. Sebab jika tidak, anak-anak merupakan kelompok yang paling rentan terkena dampak buruk udara kotor. Selain mendorong penggunaan kendaraan listrik, aksi nyata phase out atau penghentian aktivitas pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara harus secepatnya dilakukan.

Ket. Foto: — Sumber: ISTIMEWA

Anggota Komisi IX DPR RI, Arzeti Bilbina, mendorong pemerintah menyiapkan solusi jangka pendek untuk mengatasi polusi udara terhadap anak. Dia menekankan anak dan lansia menjadi korban paling rentan menderita penyakit akibat kualitas udara yang buruk.

"Dampak kualitas buruk pada kesehatan anak bisa sangat mengkhawatirkan. Anak-anak yang kurang daya tahan tubuhnya bisa dengan mudah terjangkit penyakit, termasuk juga bagi lansia dan orang yang memiliki komorbid," kata Arzeti, di Jakarta, Kamis (8/6).

Pemerintah memang tengah menyiapkan solusi jangka panjang dalam upaya perbaikan kualitas udara dengan menggencarkan program kendaraan listrik guna mengurangi polusi. Meski begitu, Arzeti menilai harus ada upaya jangka pendek di sektor kesehatan dalam menghadapi ancaman kualitas udara yang buruk.

"Ancaman polusi udara meningkatkan risiko infeksi pernafasan akut seperti ISPA dan pneumonia. Dan kita tidak bisa menutup mata polusi udara bisa berdampak pada risiko penyakit jantung dan kanker untuk jangka panjang. Ini harus menjadi perhatian serius," jelasnya

Ditambahkannya, persoalan kesehatan tidak bisa menunggu pencapaian program-program jangka panjang pemerintah, apalagi untuk kelompok rentan seperti anak. Arzeti pun menyoroti banyaknya laporan mengenai anak-anak yang belakangan gampang terkena penyakit.

Dilansir dari berbagai sumber, para dokter telah mengimbau kelompok sensitif lebih waspada terhadap kualitas udara saat ini, khususnya di Jakarta. Kelompok sensitif yang dimaksud adalah yang rentan terhadap polusi udara, misalnya ibu hamil, balita, dan lansia.

Sekali lagi, legislator Dapil Jawa Timur I itu menegaskan perlu adanya solusi jangka pendek yang komprehensif dalam menangani ancaman polusi udara dari sisi kesehatan. Hal itu juga harus berkesinambungan dengan kesadaran dari masyarakat yang juga berperan penting akan membantu memulihkan kondisi udara saat ini.

Aksi Nyata

Sementara itu, Senior Campaign Strategist, Greenpeace International, Tata Mustaya, menegaskan buruknya kualitas udara di Tanah Air menandakan langkah nyata diperlukan untuk mewujudkan dekarbonisasi. Dia menyebut antara 2017-2020 kapasitas PLTU batu bara naik 44 persen dan bauran energi terbarukan masih ada di angka 12 persen dari target 23 persen pada 2025.

"Artinya, prioritas bagi pemerintahan Jokowi adalah memulai transisi energi dengan memulai langkah phase out PLTU batu bara dan akselerasi energi terbarukan, yang aksi nyatanya belum jelas," tegas Tata dalam kesempatan terpisah.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.