Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Dulu Wadam Kini Transpuan, Begini Sejarah dan Maknanya

📅 Sabtu, 20 Mei 2023, 12:30 WIB | Oleh: Tim Penulis

Menurut aktivis tersebut, penting untuk memberi ruang bagi komunitas trans untuk memilih dengan kata apa mereka lebih nyaman disebut - entah sebagai waria, transpuan, atau bisa jadi keduanya.

Arum Marischa, seorang waria yang berasal dari Yogyakarta, mengatakan:


"Saya pribadi lebih suka dengan sebutan waria. Tapi, menurut saya, mau waria atau transpuan, itu monggo disepakati bersama saja."

Riset lain menemukan ada juga orang trans yang menggunakan istilah tergantung situasi. Misalnya, ia menyebut dirinya sebagai "waria" atau "transgender" dalam setting dan konteks tertentu yang dibentuk posisi ekonomi dan politik tidak setara.

Pernyataan-pernyataan tersebut memperlihatkan adanya perbedaan penggunaan istilah antara bagaimana peneliti serta komunitas mengategorisasi orang lain dan diri sendiri.

Komunitas trans di Indonesia sering menjadi objek bagi peneliti dan jurnalis. Namun sering sekali mereka tidak dilibatkan sebagai partner. Padahal, untuk konteks formal, termasuk penelitian dan konten media, penting untuk memastikan istilah mana yang tepat digunakan karena ini adalah etika dasar. Untuk memastikannya, perlu penyesuaian dengan konteks dan kemauan komunitas setempat.

Transpuan sebagai istilah perjuangan

Pada awalnya, penggunaan kata transpuan hanya familier di antara kelas menengah atau jaringan aktivisme yang berbasis di Jakarta. Namun, berdasarkan hasil observasi kami, istilah tersebut juga digunakan oleh selain kelas menengah dan di luar area metropolitan - sering kali berbarengan atau tertukar dengan waria. Beberapa aktivis transgender dan queer menggunakan istilah transpuan agar lebih mudah diterima dalam lingkup sosial yang lebih besar.

Penjelasan terkait penggunaan istilah transpuan maupun waria sebenarnya memiliki motivasi yang paralel. Keduanya muncul sebagai upaya dan keinginan untuk mendapat pengakuan dan memiliki kontrol untuk mengidentifikasi dirinya, menyebut dirinya, maupun memahami dirinya.

Penggunaan awal transpuan dalam buku berbahasa Indonesia adalah dalam buku Penerimaan: Kumpulan Cerita Penerimaan Orang Tua dengan Anak Transpuan yang ditulis oleh psikolog dan aktivis transpuan, Stephanie Halim. Pada bagian pendahuluannya, ia menawarkan definisi "trans" secara ekspansif. Definisi tersebut menunjukkan pola yang terjadi secara nasional dalam generasi konsep baru terkait transgender di Indonesia.

Ini mirip seperti yang terjadi dengan perubahan makna dalam kosakata "perempuan" dan "wanita". Istilah wanita kerap digunakan dalam proyek pembangunan Orde Baru dan menyelipkan bentuk kekuasaan pemerintah patriarkis yang lekat dengan domestikasi terhadap perempuan.

Munculnya istilah transpuan juga mengandung akses solidaritas terhadap jaringan aktivis feminisme. Kata "perempuan" (-puan) di dalam transpuan menunjukkan adanya upaya - dalam lingkup individu maupun kolektif -- mengambil alih pengakuan dari komunitas sendiri dan melepaskan diri dari istilah yang diberikan aktor-aktor negara.

Mengurai solidaritas transgender lintas negara

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Nasional
SBY: Kepercayaan Publik Jad...
Megapolitan
DKI Perluas Pelatihan Kerja...
Nasional
DPR Minta Kepala BGN Baru F...
Nasional
Huntara di Langkahan roboh ...
Nasional
Atap bangunan sekolah SDN d...
Megapolitan
Operasi uji emisi kendaraan...
Nasional
Pelaksanaan program penghap...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.