Angka 'Stunting' Harus Turun dalam Enam Bulan

Senin, 15 Mei 2023, 05:33 WIB

JAKARTA - Jumlah anak kerdil (stunting) harus turun dalam enam bulan. Ini menjadi target Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Timur yang berkomitmen keras menurunkan angka stunting di tengah masyarakat. "Angka balita stunting maksimal harus turun dalam waktu enam bukan ke depan," tandas Wali Kota Jakarta Timur, M Anwar, pekan lalu.

Dia mengatakan pengentasan stunting di tengah masyarakat merupakan persoalan yang harus dihadapi bersama seluruh elemen masayarakat, bukan hanya dokter dan jajaran puskesmas. "Saat ini angka prevelensinya 14,4 persen. Naik satu persen dari tahun sebelumnya sebesar 13,4 persen," katanya.

Ket. Foto: Refleksi pengendara motor melintas di dekat mural "stunting" di Jakarta — Sumber: ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan

Anwar menduga peningkatan angka prevelensi penderita stunting dipicu pandemi Covid-19 yang baru saja mereda. Sebagai tindak lanjut, Anwar berharap seluruh jajarannya berupaya melakukan penanganan secara menyeluruh.

Secara teknis, jajaran puskesmas diminta menjadi leading sector penyusunan program dan penanganan medis. Kemudian, jajaran kelurahan segera membentuk Tim Percepatan Penanganan Stunting (TPPS) untuk mendukung program pengentasan yang dirumuskan.

Anwar mengharapkan TPPS tingkat kelurahan bisa memaksimalkan peran kader PKK, Dasa Wisma, kader posyandu dan seluruh potensi untuk menyukseskan pengentasan stunting di wilayah masing-masing. Sedangkan TPPS tingkat kota menginventarisir program kegiatan setiap organisasi perangkat daerah yang bisa mendukung pengentasan stunting.

Untuk jajaran aparat sipil negara (ASN) di setiap kecamatan, Anwar minta menjadi bapak asuh anak stunting. Lalu, Anwar juga minta percepatan kelurahan bebas buang air besar sembarangan (BABS). Sesuai dengan target, Anwar minta seluruh kelurahan setiap bulan bisa mendeklarasikan dua RW di wilayahnya menjadi kawasan bebas BABS.

Untuk itu, setiap kelurahan mesti mampu berinovasi dan melibatkan CSR membangun IPAL komunal sebagai solusi. "Kita berharap dalam enam bulan hasilnya sudah terlihat. Paling tidak kita bisa mengentaskan hingga setengahnya," tegas Anwar seperti dikutip jakartagoid.

Sementara itu, Plt Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur, Lysbeth Regina Pandjaitan, mengungkapkan stunting adalah situasi mal nutrisi yang berlangsung cukup lama, sehingga memicu tumbuh kembang tinggi anak tidak maksimal.Menurut Lysbeth, terdapat berbagai macam penyebab anak mengalami mal nutrisi, contoh asupan gizi dan nutrisi tidak memadai.

Faktor penyakit bawaan juga mempengaruhi seperti bisa disebabkan diare akibat bakteri Ecoli dari kotoran manusia. Selain sanitasi, Lysbeth juga mengingatkan pentingnya air minum yang dikonsumsi bebas Ecoli. "Saat ini, 23,1 persen wilayah Jakarta Timur sudah bebas BABS. Tapi, kita harus memastikan air isi ulang dimasak lagi agar tidak tercemar Ecoli," tandasnya.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Aloysius Widiyatmaka

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.