- Home
-
- Luar Negeri
-
- Investor Kembali Khawatir ...
Investor Kembali Khawatir Kasus Bank Gagal di AS Meluas
Kamis, 04 Mei 2023, 00:03 WIBROMA - Saham perbankan di bursa Eropa turun tajam pada Selasa (2/5) setelah pengumuman pengambilalihan First Republic Bank di Amerika Serikat (AS) oleh JP Morgan karena mengalami kegagalan.
Pasar keuangan juga terdampak negatif oleh spekulasi terkait kenaikan suku bunga di AS dan Eropa, sehingga otoritas yang mengawasi mata uang dollar AS dan euro berusaha mengendalikan inflasi lebih jauh yang mencatat rekor tertinggi.
Suku bunga yang lebih tinggi diyakini mampu membantu memperlambat inflasi, tetapi pada saat bersamaan juga akan menambah tekanan terhadap neraca keuangan.
Bursa saham Eropa secara umum lebih rendah pada Selasa, dengan indeks blue chip di London dan Frankfurt sama-sama turun 1,2 persen, Paris turun 1,4 persen, dan Milan turun 1,6 persen.
Saham perbankan jadi katalisator penurunan tersebut, dengan STOXX Europe 600 Banks Index ditutup di angka 1,5 persen, setelah diperdagangkan di area positif hampir sepanjang hari. Indeks utama kini turun 4,0 persen dalam lima hari perdagangan terakhir.
Namun demikian, seperti dikutip Antara dari Xinhua, masalah First Republic Bank lebih signifikan. Bank yang berbasis di San Francisco itu jauh lebih besar dibandingkan dua bank lainnya, menjadikan kegagalannya sebagai yang terbesar kedua untuk bank pemberi pinjaman AS setelah kebangkrutan Lehman Brothers pada 2008. Kasus Lehman Brothers saat itu turut memicu krisis keuangan global.
Meskipun sempat mendapat suntikan dana talangan (bailout) 30 miliar dollar AS pada Maret, First Republic mengalami kebangkrutan karena para investor menarik dana (rush) karena ketakutan setelah kolapsnya Signature Bank dan Silicon Valley Bank.
Kolapsnya First Republic Bank adalah kegagalan bank signifikan ketiga di AS tahun ini, setelah bangkrutnya Silicon Valley Bank di California dan Signature Bank di New York secara beruntun pada Maret.
Sejauh ini, Eropa berhasil menghindari kolapsnya bank besar, meskipun hal itu nyaris terjadi pada Maret ketika bank pemberi pinjaman Swiss UBS menyuntikkan dana talangan kepada rivalnya yang bermasalah, Credit Suisse.
Perlu Hati-hati
Direktur Celios, Bhima Yudisthira, mengatakan situasi perbankan di AS tidak sesederhana tanpa bail out pemerintah, apalagi kalau hanya mengandalkan penyelamatan dari institusi keuangan atau investor, terbukti sulit dan akhirnya deadlock.
Hal itu membuat investor khawatir kalau krisis perbankan bisa merembet ke sektor keuangan global. Bagi Indonesia, efeknya AS mengalami double krisis, bahkan triple krisis, mulai dari krisis surat utang karena dead ceiling yang mereka belum dinaikkan, lalu ancaman resesi ekonomi dan terakhir krisis finansial.
"Indonesia perlu berhati-hati karena efek yang ditimbulkan dari gagal bayar perbankan bisa merembet pada stabilitas sektor keuangan terutama yang berkaitan dengan penanaman modal asing. Bank yang memiliki kaitan dengan perbankan di AS perlu diawasi ketat oleh OJK," kata Bhima.
Redaktur: Vitto Budi
Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini
Berita Terkait:
-
Transportasi Makin Hijau, Bus Listrik Gratis Mulai Ngetes di Bogor
-
Dapur Umum Longsor Cisarua Produksi 4.500 Paket Makanan Per Hari
-
Banjir Rendam Kabupaten Tangerang, PMI Kerahkan 160 Relawan dan Dirikan 11 Posko
-
Dinas Perpustakaan Makassar Terima Donasi Buku 1.500 Judul
-
Regulasi Baru Guncang Peta Persaingan F1
-
Stasiun Rangkasbitung Ultimate Kapasitas 83.000 Orang Mulai Beroperasi
-
Pemerintah Harus Perbaiki Komunikasi dengan Investor AS
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.