Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Perbudakan Modern di Industri Fesyen, Bagaimana Cara Mengatasinya?

📅 Sabtu, 29 Apr 2023, 13:28 WIB | Oleh: Tim Penulis
Perbudakan Modern di Industri Fesyen, Bagaimana Cara Mengatasinya? Doc: Independent
Ket. Kampanye Revolusi Fashion menyoroti tenaga kerja di industri fesyen. Desainer Yunani Athena Korda bersuara dengan koleksinya pada 2015.

Anika Kozlowski, Toronto Metropolitan University

Kita seharusnya tidak perlu mengorbankan nyawa dan lingkungan kita untuk menjadi modis. Namun inilah yang terjadi saat ini. Globalisasi, sistem produksi pakaian yang cepat di negara yang tenaga kerjanya murah untuk merespons tren terkini (fast fashion), dan media sosial telah mendorong terciptanya budaya konsumsi busana yang murah, mudah, dan berlimpah. Budaya ini terlihat semakin kuat dan ditunjukkan dengan jumlah produksi pakaian yang hampir dua kali lipat dalam 15 tahun terakhir.

Pecinta fashion perlu merenungkan bagaimana kebiasaan berbelanja mereka memiliki dampak negatif baik bagi Bumi maupun manusia.

Perilaku yang tidak mengakui kesetaraan gender, merusak lingkungan, melanggar Hak Asasi Manusia (HAM) semua ada di dunia fashion. Sebuah Kampanye Revolusi Fashion dimulai karena dunia fashion diam saja terhadap tragedi yang terus-menerus terjadi dalam proses produksi mereka, seperti kematian 1.138 buruh garmen ketika Pabrik Rana Plaza runtuh di Dhaka, Bangladesh, pada 24 April 2013.

Kampanye Revolusi Fashion bertujuan untuk menyadarkan kita atas ketidakadilan ini dengan mengungkap keberadaan orang-orang di balik pakaian yang kita kenakan.

Fashion: perbudakan modern yang padat karya

Fashion adalah salah satu industri yang memperkerjakan banyak orang. Di seluruh dunia, setidaknya 60 juta orang bekerja di industri ini.

Produksi kerajinan tangan adalah industri terbesar kedua di negara-negara berkembang. Di India ada sekitar 34 juta pengrajin kerajinan tangan. Mayoritas perajin dan buruh garmen saat ini adalah perempuan. Indeks Perbudakan Global memperkirakan ada 40 juta orang yang hidup dalam perbudakan modern saat ini. Banyak di antara mereka yang tinggal di negara-negara berkembang tapi bekerja memproduksi pakaian merek fashion dari Barat.

Perbudakan modern meliputi kerja paksa, hutang yang mengikat, pernikahan paksa, praktik perbudakan maupun yang menyerupai perbudakan, serta perdagangan manusia.. Contohnya ketika seseorang dipaksa bekerja lembur tanpa dibayar, anak-anak dipaksa memetik kapas oleh pemerintah Uzbekistan padahal mereka seharusnya bersekolah, pekerja perempuan diancam dengan kekerasan jika mereka tidak menyelesaikan pesanan tepat waktu, dan buruh yang paspornya ditahan hingga mereka dapat membayar biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk mendatangkan buruh tersebut ke negara tempatnya bekerja.

Organisasi-organisasi advokasi menyatakan industri fashion adalah satu dari lima sektor industri yang terlibat dalam perbudakan moderni. Negara-negara maju G20 mengimpor produk fashion senilai $US127,7 miliar yang diduga hasil dari perbudakan modern.

Kita harus mengatasi isu kolonialisme dan rasisme terhadap lingkungan harus diatasi jika kita ingin menangani masalah di industri fashion, seperti perubahan iklim, ketidaksetaraan gender, perusakan lingkungan, dan pelanggaran hak asasi manusia. Orang-orang yang paling miskin dieksploitasi dan dibayar murah untuk membuat pakaian-pakaian modis.

Para pekerja ini adalah orang-orang yang bekerja lembur tanpa upah dan pulang ke rumah yang saluran airnya terkontaminasi oleh limbah pabrik. Mereka juga menderita penyakit yang disebabkan karena tinggal di daerah yang sangat tercemar.

Ketika negara-negara Barat sudah bosan mereka mengekspor kembali pakaian yang sudah tidak diinginkan ke negara-negara berkembang tadi. "Donasi" ini lantas menghancurkan komunitas-komunitas lokal dengan memenuhi tempat pembuangan sampah mereka dan memperburuk ekonomi lokal karena membuat perajin dan bisnis lokal tidak dapat bersaing dengan harga murah pakaian "sumbangan" tadi.

Transparansi dan keterlacakan adalah kuncinya

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Forum Ulama Satukan Komitmen Tolak Politik Uang di Muktamar ke-35 NU
    Preview komentar:
    Apakah Bank Nagari ada layanan bebas pulsa? Layanan WhatsApp ...
    Apakah Bank Nagari ada layanan bebas pulsa? Layanan WhatsApp ...
  • Cuaca Hari Minggu Cerah Berawan di Sebagian Besar Wilayah Indonesia
    Preview komentar:
    Apakah Bank Nagari ada layanan WhatsApp? Layanan WhatsApp call ...
    Apakah Bank Nagari ada layanan WhatsApp? Layanan WhatsApp call ...
  • 269 Lulusan PT Terpilih untuk Program Magang Nasional di Kemenpar
    Preview komentar:
    Berapa nomor layanan bebas pulsa Bank Nagari? Layanan WhatsApp ...
    Berapa nomor layanan bebas pulsa Bank Nagari? Layanan WhatsApp ...
Daerah
Kabut Asap Mengancam Keseha...
Luar Negeri
Utang Meningkat, Rakyat Jep...
Pendaftaran Seleksi Petugas Haji Kloter & PPIH Arab Saudi Tahun 2027 Dibuka Kemenhaj, Catat Link dan Tanggalnya!

Pendaftaran Seleksi Petugas Haji Kloter & PPIH Arab Saudi Tahun 2027 Dibuka Kemenhaj, Catat Link dan Tanggalnya!

23 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.