• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Korban Bully di Sekolah Be...

Korban Bully di Sekolah Berisiko Lebih Besar untuk Bunuh Diri

Senin, 06 Mar 2023, 12:00 WIB

Siswa yang mengalami intimidasi atau bullying selama pada masa sekolah lebih berisiko melaporkan perilaku terkait bunuh diri.

Sebuah penelitian yang dipimpin oleh Park Ae-ri di Sunchon National University dan Kim Yu-na dari Yuhan University terhadap 1.030 partisipan berusia antara 19 hingga 27 tahun, menunjukkan bahwa siswa yang pernah mengalami kekerasan di sekolah memiliki kemungkinan 2,6 kali lebih besar untuk mencoba bunuh diri daripada rekan-rekan mereka yang tidak pernah mengalami kekerasan atau pernah terlibat dalam insiden seperti itu.

Ket. Foto: Ilustrasi. — Sumber: Freepik/Dashu83

Melansir Korea Herald, penelitian yang dilakukan pada September 2020 itu mengungkapkan sebanyak 34 persen peserta, atau 353 individu, dilaporkan mengalami pelecehan verbal, perundungan, dan kekerasan fisik di tangan teman sebayanya selama masa kanak-kanak mereka.

Kekerasan di sekolah dalam penelitian itu sendiri didefinisikan oleh tim peneliti sebagai serangan fisik atau pelecehan antara siswa atau oleh siswa yang menargetkan teman sebayanya. Ini termasuk pemerasan dan serangan psikologis seperti pelecehan verbal dan emosional, serta menggoda atau mengolok-olok teman sebaya.

Korea Selatan memang telah lama dihadapi dengan kasus bully di berbagai lembaga pendidikan. Pelecehan oleh teman sebaya di Korea juga tengah meningkat.

Ironinya, meski segala bentuk kekerasan atau intimidasi di sekolah dapat menyebabkan depresi berat pada korban. Pelaku kekerasan di sekolah di bawah usia 14 tahun tidak dikenai hukuman pidana berdasarkan Undang-Undang Pidana. Sementara mereka yang berusia antara 10 dan 14 tahun dapat menerima perintah perlindungan di bawah Undang-Undang Remaja.

Dari 34 persen peserta yang mengaku menjadi korban kekerasan di sekolah, 54,4 persen di antaranya mengatakan pernah mempertimbangkan untuk bunuh diri, sementara 13 persen responden menjawab pernah mencoba bunuh diri.

Namun, mereka tidak mengalami kekerasan semasa sekolah juga tidak terlepas dari risiko bunuh diri.

Di antara 677 peserta yang tidak mengalami kekerasan atau intimidasi di sekolah, 36,2 persen mengatakan bahwa mereka pernah berpikir untuk bunuh diri, sementara 5,2 persen mengatakan bahwa mereka pernah mencoba bunuh diri, menunjukkan insiden perilaku bunuh diri yang lebih rendah daripada mereka yang pernah mengalami bullying di sekolah.

Karena pelecehan teman sebaya di Korea sedang meningkat, penelitian menyarankan agar universitas memeriksa siswa mereka untuk memastikan apakah mereka pernah mengalami kekerasan di sekolah di masa lalu, menjelaskan bahwa kekerasan di sekolah di masa kanak-kanak dapat berdampak pada masa dewasa awal.

Redaktur: Fiter Bagus

Penulis: Suliana

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.