Presiden Optimistis Neraca Perdagangan Tetap Surplus

Senin, 27 Feb 2023, 00:03 WIB

JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menegaskan bahwa perubahan besar ekonomi Indonesia saat ini salah satunya tecermin pada surplus neraca perdagangan. Surplus tersebut dicapai karena neraca perdagangan dengan negara-negara mitra utama, seperti Amerika Serikat (AS), India, dan Uni Eropa positif dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Kepala Negara saat membuka Rapat Koordinasi Nasional Partai Amanat Nasional (PAN) di Semarang, Jawa Tengah, Minggu (26/2), mengatakan pada 2022, surplus neraca perdagangan Indonesia mencapai 54 miliar dollar AS atau sekitar 831 triliun rupiah.

Ket. Foto: — Sumber: Sumber: BPS - KORAN JAKARTA/ONES

"Perubahan besar, itu ada di mana? Kelihatan di perdagangan kita. Coba dilihat. Kita itu seumur-umur tidak pernah yang namanya perdagangan itu surplus. Selalu defisit, selalu minus, coba dilihat di tahun 2022, kita surplus 54 miliar dollar AS. Itu kalau dirupiahkan 831 triliun rupiah. Menteri perdagangannya siapa coba? Menteri perdagangannya siapa, jawab? Bapak Zulkifli Hasan," kata Jokowi.

Saat ini, neraca perdagangan Indonesia terhadap AS, jelas Presiden, tercatat surplus 16,6 miliar dollar AS atau sekitar 253 triliun rupiah. "Barang kita yang ke Amerika sama barang mereka yang ke Indonesia itu lebih banyak barang kita yang ke Amerika," kata Jokwi.

Dengan India, Indonesia mengalami surplus 14,1 miliar dollar AS atau 215 triliun rupiah. Sedangkan dengan negara-negara Uni Eropa, Indonesia juga surplus 9,8 miliar dollar AS atau 149 triliun rupiah.

"Seumur-umur, kita dengan Tiongkok itu selalu defisit, minus 17 miliar dollar AS. Gede sekali. Sekarang catatan kita dengan Tiongkok masih minus, tapi tinggal 1,7 miliar dollar AS. Dari 17 miliar menjadi 1,7 miliar dollar AS. Tapi catatan yang ada di Kementerian Luar Negeri Tiongkok, kita ini sudah surplus enam miliar dollar AS. Itu beda catatan saja," kata Presiden Jokowi.

Presiden memperkirakan surplus neraca perdagangan Indonesia akan lebih besar lagi tahun ini, jika melihat angka surplus yang besar pada tahun lalu.

Diversifikasi Pasar

Ekonom dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia (LPEM-UI), Teuku Riefky, mengatakan apa yang disampaikan Presiden benar, tetapi jangan sampai membuat terlena. Sebab, ada kecenderungan surplus bisa melambat jika sewaktu-waktu harga komoditas berubah.

"Neraca perdagangan pada Januari 2023 tercatat sebesar 3,87 miliar dollar AS sedikit menurun dari 3,96 dollar AS pada Desember 2022," ungkap Riefky.

Ekspor pada Januari 2023 terkoreksi tipis 6,36 persen dari bulan sebelumnya menjadi 22,31 miliar dollar AS. Beruntung, impor juga turun sebesar 7,15 persen menjadi 18,44 miliar dollar AS pada periode yang sama.

Dengan kecenderungan harga komoditas di pasar global yang relatif stabil maka pemerintah perlu mencari solusi lain agar neraca perdagangan tetap surplus, bahkan surplusnya berkualitas.

"Pemerintah perlu mendorong hilirisasi dan diversifikasi pasar ekspor. Hilirisasi akan memberi banyak nilai tambah," tandas Teuku.

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini, Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.