Kuasai Nikel Dunia, Mengapa Ekonomi Indonesia Masih Sulit Tumbuh?
📅 Jumat, 17 Feb 2023, 18:07 WIB | Oleh: SulianaMenulis pada laman Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Niki Pranata yang merupakan Analis Rencana Program dan Kegiatan LIPI mengartikan fenomena tersebut sebagai kondisi, di mana negara yang kaya akan sumber daya alam, terutama yang tak terbarukan seperti minyak dan hasil tambang, cenderung lebih lambat pertumbuhan ekonominya jika dibandingkan dengan negara yang terbatas sumber daya alamnya.
Menurut pendapat para ahli seperti yang dikemukakan Niki menjelaskan ada beberapa hal yang menyebabkan terjadinya paradoks tersebut. Misalnya, kebergantungan yang tinggi terhadap harga komoditas, dan volatilitas nilai tukar mata uang yang dapat mengakibatkan shock dalam perekonomian karena umumnya harga komoditas ditentukan di pasar global.
Masalah internal juga bisa menyebabkan sebuah negara yang kaya SDA memiliki pertumbuhan ekonomi yang lemah. Misalnya, kegagalan inovasi akibat terlena akan kemudahan memperoleh pendapatan dengan ekstraksi SDA, menurunnya daya saing sektor lain akibat terlalu fokus pada sektor ekstraksi SDA, serta timbulnya korupsi dan ekonomi rente yang dimanfaatkan oleh oknum-oknum pemerintah dan pengusaha dengan menggunakan momentum mudahnya pengumpulan pundi-pundi melalui pengerukan SDA.
Mematahkan Kutukan Melalui Hilirisasi
Sebaiknya Anda baca juga:
Melanjutkan videonya, Nas menjelaskan bahwa kebijakan hilirisasi nikel yang diprogramkan pemerintah Indonesia telah mendorong perusahaan kendaraan listrik untuk membangun pabrik baterai di tanah air. Langkah ini dinilainya sebagai jalan keluar karena bisa mencetak lapangan pekerjaan dan meningkatkan pendapatan negara.
"Setiap mobil baru yang kamu beli akan membuat banyak negara jadi kaya. Seperti itulah perdagangan global seharusnya berjalan. Setiap baterai dibuat dengan nikel ini," pungkasnya.
Menurut Patunru (2015) sebagaimana yang dikutip Ika (2017) dalam studi Kebijakan Hilirisasi Mineral: Reformasi Kebijakan untuk Meningkatkan Penerimaan Negara, hilirisasi sering disebut downstreaming atau value-adding, yang artinya upaya meredam ekspor bahan mentah dan sebaliknya mendorong industri domestik untuk menggunakan bahan tersebut karena meningkatkan nilai tambah domestik
Sebaiknya Anda baca juga:
Akhir Mei 2022, produsen mobil listrik ternama Tesla dilaporkan telah menyetujui pembangunan pabrik baterai dan kendaraan listrik di Indonesia. Persetujuan ini tercapai usai CEO Tesla, Elon Musk, bertemu dengan Presiden Jokowi di situs peluncuran SpaceX, Texas, Amerika Serikat (AS) pada pertengahan Mei 2022.
Menteri Investasi Indonesia, Bahlil Lahadalia, pada 19 Mei 2022 menuturkan bahwa Tesla telah setuju untuk membangun pabrik baterai dan kendaraan listrik di sebuah komplek industri di provinsi Jawa Tengah, tepatnya di Batang.
Diketahui, program hilirisasi berhasil memberi nilai tambah bagi Indonesia. Menurut Jokowi, hilirisasi nikel di tanah air berhasil menciptakan nilai tambah lebih dari Rp320 triliun bagi industri nikel di Indonesia, dari yang tadinya hanya sekitar Rp18 triliun.
"Ini bolak balik saya ceritakan. Dulu US$ 1,1 miliar jual nikel mentah, atau Rp 18 triliun. Sekarang lebih dari Rp320 triliun, 18 kali lipat," kata Jokowi dalam Rapimnas KADIN 2022 di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Jumat (2/12/2022).
Bahkan menurutnya Jokowi, Indonesia bisa meraup lebih banyak pendapatan dari hilirisasi nikel mengingat Indonesia akan mengembangkan industri baterai kendaraan listrik, dengan bahan baku yang sudah tersedia.
"Itu hanya urusan nikel mentah jadi stainless steel. Belum kalau jadi EV baterai, kalau jadi mobil atau pesawat, industrinya ada di sini, saya nggak tahu berapa puluh kali lipat," tegasnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!