Konflik Brutal Awak Kapal Batavia, Pembantaian Paling Barbar dalam Sejarah Maritim
📅 Selasa, 31 Jan 2023, 06:40 WIB | Oleh: Tim PenulisPelsaert, Jacobsz, dan perwira lainnya mendirikan kemah di tempat yang kemudian dikenal sebagai Pulau Pengkhianat. Cornelisz dan sekelompok kecil tetap bersama kapal sampai benar-benar tenggelam sembilan hari kemudian. Bahkan saat ini Pulau Houtman Abrolhos terisolasi dan sebagian besar tidak berpenghuni. Ada sedikit atau tidak ada air segar atau makanan yang tersedia di kamp-kamp yang terdampar.
Hal itu membuat Pelsaert berpikir untuk mendapatkan perbekalan dengan berlayar ke daratan Australia yang tidak diketahui atau menempuh jarak 3.000 kilometer ke utara ke koloni Batavia. Ia memilih menggunakanlong boatyang memiliki panjang hanya 9,1 meter untuk berlayar ke Pulau Jawa.
Pada malam hari, Pelsaert berangkat berlayar dengan perwira dan awak seniornya termasuk Jacobsz. Jumlah rombongan mencapai 48 orang. Kapal tiba di Batavia 33 hari kemudian. Sebuah keajaiban karena kapal tersebut sangat kecil untuk membawa orang sebanyak itu.
Sesampai di Batavia, Jacobsz ditangkap karena kelalaian, atas laporan Pelsaert. Gubernur Jenderal Coen kemudian mengatur pelayaran agar Pelsaert kembali bersama kapal Saardam untuk mencoba menyelamatkan orang-orang yang terlantar di Kepulauan Houtman Abrolhos.
Sebaiknya Anda baca juga:
Tetapi Pelsaert akhirnya tidak ikut bersama rombongan 63 orang penyelamatan rombongan yang tertinggal. Sebanyak 63 hari kemudian, keputusasaan dan barbarisme terjadi dan mendatangkan malapetaka. Ketidakhadiran pemimpin itu, membuat Cornelisz menjadi seorang diktator.
Dia mendengar kabar bahwa Pelsaert telah diberitahu tentang rencana hukuman kepada para pemberontakan sebelumnya. Ia tahu bahwa penyelamatan apa pun akan menyebabkan hukuman dan kemungkinan kematiannya.
Dengan licik, Cornelisz berusaha merebut kendali di antara para penyintas untuk menggagalkan upaya penyelamatan apapun sebelum dia dapat ditangkap. Dia mulai menjatah makanan dan mengambil benda berguna yang terdampar di pantai dari bangkai kapal. Sebuah dewan dibentuk dengan Cornelisz sebagai ketuanya dan anggotanya terdiri dari orang-orang setianya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Cornelisz menuntut agar semua senjata diserahkan kepada anak buahnya. Rakit apa pun yang dibuat oleh orang yang selamat lainnya juga harus diserahkan kepada dewan. Dia membagi populasi menjadi kelompok-kelompok kecil dan menyebarkannya di antara pulau-pulau terdekat.
Selama beberapa pekan berikutnya, Cornelisz memerintahkan anak buahnya untuk membantai kamp yang tersisa. Pembunuhan itu dikatakan termasuk memotong leher orang di malam hari dan membawa orang lain keluar untuk ditenggelamkan di rakit darurat.
Orang sakit dan lemah menjadi sasaran untuk ditenggelamkan. Para perempuan diperkosa. Cornelisz mengancam bahwa bertahan hidup membutuhkan kesetiaan penuh kepadanya. Diperkirakan 125 pria, wanita dan anak-anak dibunuh oleh Cornelisz dan anak buahnya selama masa teror mereka.
Sebanyak 22 tentara diangkut ke Pulau Wallabi Barat, delapan kilometer jauhnya, dan diberi tahu bahwa mereka harus mencari air bersih. Begitu sampai di sana, senjata mereka dilepaskan dan dibiarkan mati dengan sendirinya.
Cornelisz salah sangka. Orang-orang tersebut berhasil bertahan hidup dengan memakan apa yang ditemui di Pulau Wallabi Kecil. Orang-orang itu mengirimkan sinyal asap untuk mengumumkan bahwa mereka telah menemukan air tawar.
Berita adanya air tawar memperumit rencana dominasi Cornelisz, karena dia khawatir penyelamat mana pun akan melihat kelompok itu di pulau itu terlebih dahulu. Untuk menghalangi upaya apa pun dari pihak penyelamat ia mengirim sekelompok penjahatnya untuk mengakhiri situasi Pulau Wallabi tetapi mereka tidak berhasil kembali.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!