Ambisi untuk Mencegah Kenaikan Suhu Bumi Belum Jelas

Kamis, 19 Jan 2023, 00:03 WIB

ANKARA - Forum Ekonomi Dunia (WEF), pada Selasa (17/1) waktu setempat, meluncurkan inisiatif untuk membuka pendanaan tiga triliun dollar AS atau sekitar 45,51 kuadriliun rupiah yang dibutuhkan setiap tahun untuk mengatasi perubahan iklim dan kerusakan alam.

Inisiatif yang dinamai The Giving to Amplify Earth Action (GAEA) itu menurut WEF didukung oleh lebih dari 45 mitra dari kalangan dermawan, lembaga publik, dan sektor swasta.

Ket. Foto: Ketua Eksekutif WEF, Klaus Schwab — Sumber: FABRICE COFFRINI/AFP

WEF menyatakan krisis energi dan kesulitan biaya hidup yang saat ini terjadi menunjukkan bahwa ambisi untuk mencegah suhu bumi naik menjadi 1,5 derajat Celsius belum menemui kejelasan. "Pendanaan saat ini lambat dan tidak mencukupi sehingga diperlukan pendekatan baru untuk mengalirkan modal," kata WEF dalam siaran persnya seperti dikutip dari Antara.

Dalam pernyataan itu, juga disebut bahwa pemberian dari kalangan filantropis dapat mengatasi masalah pendanaan itu. "Kita berada di titik kritis dalam upaya kita untuk mengembalikan planet ini ke jalurnya demi memenuhi ambisi iklim kita," kata pendiri sekaligus Ketua Eksekutif WEF, Klaus Schwab.

"Untuk mencapai kecepatan dan skala yang dibutuhkan untuk memulihkan bumi, kita perlu membuka (pendanaan) tidak hanya dari modal swasta dan dana pemerintah, tetapi juga kalangan filantropi sebagai kekuatan untuk mencapai percepatan yang diperlukan," sambung Schwab.

Meskipun pendanaan untuk mengatasi perubahan iklim dari kalangan filantropis meningkat dalam beberapa tahun terakhir, jumlah keseluruhan dana yang dikumpulkan pada 2021 mencapai 810 miliar dollar AS. Namun demikian, hanya dua persen dari jumlah itu yang digunakan dalam upaya untuk mengurangi emisi.

Komitmen Setiap Negara

Pakar Hubungan Internasional dari Universitas Brawijaya, Malang, Adhi Cahya Fahadayna, mengatakan, selama ini yang menjadi masalah paling utama dalam upaya iklim adalah kesungguhan komitmen negara-negara di dunia.

"Jadi yang terpenting dari inisiasi global dalam mengatasi ancaman lingkungan bukan sekadar pendanaan yang dibutuhkan, melainkan komitmen setiap negara dalam mengatasi isu lingkungan di negara masing-masing," kata Adhi.

Dia mencontohkan komitmen untuk mengurangi emisi karbon. Mereka harus mewujudkan komitmen dengan membuat kebijakan yang tegas dalam mengurangi emisi karbon. Tanpa komitmen yang serius dari setiap negara dalam mengambil kebijakan berkaitan dengan konteks menyelamatkan lingkungan maka akan sangat sulit bagi inisiasi global dalam mengatasi dampak perubahan iklim dan kerusakan alam.

"Sejauh ini, satu-satunya inisiasi global yang masih belum optimal adalah inisiasi global di bidang lingkungan. Rendahnya komitmen negara di dunia membuat problem lingkungan ini sering dikesampingkan karena alasan-alasan domestik," ungkap Adhi.

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.