Baik Bagi Tubuh, Dokter Sarankan Lebih Sering Jalan Cepat
Rabu, 04 Jan 2023, 18:20 WIBWalau terdengar sepele, jalan cepat ternyata memiliki manfaat bagi kesehatan tubuh. Dokter spesialis kedokteran olahraga Michael Triangto, bahkan menganjurkan masyarakat yang jarang berolahraga untuk melakukan jalan cepat secara rutin.
Michael menilai kebiasaan jalan cepat dapat menumbuhkan kebiasaan olahraga pada diri karena tidak memberikan beban baik secara fisik maupun psikologis orang yang melakukannya.
"Kenapa saya pilihkan itu? Yang pertama adalah pasti semua orang dapat melakukannya. Yang kedua tidak menjadi beban secara psikologis. Dan secara fisik juga nggak beban. Sehingga pasti mampu untuk dilakukan secara berkesinambungan," kata Michael, seperti yang dikutip dari Antara.
Sosok dokter yang tergabung Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga (PDSKO) itu menjelaskan jalan cepat tidak hanya melibatkan kedua tungkai dan kaki, tapi juga mengayunkan kedua lengan sehingga sekaligus akan melatih otot-otot tubuh bagian atas.
"Jadi bukan hanya di bawah saja (organ kaki), tungkai bawah, tungkai atas. Tapi tubuh atau core, dan juga kedua lengan, itu dapat dilatih. Hanya dengan jalan cepat," imbuh dia.
Merujuk pada saran Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk melakukan aktivitas fisik dengan intensitas sedang sebanyak 150 menit per minggu, Michael menyerahkan pengaturan frekuensi harian disesuaikan dengan kemampuan masing-masing individu.
"Kalau anggap dua hari kita melakukan istirahat untuk recovery, maka lima hari kita melakukan aktivitas fisik tadi itu hanya cukup 30 menit saja. Waktunya berapa lama? Ya 30 menit lima kali seminggu," jelas dia.
"Atau kalau mau kita ubah, 'Oh, nggak bisa kelamaan harinya atau terlalu banyak frekuensinya'. Kalau begitu, ya, kita 50 menit tiga hari dalam seminggu itu pun masih bisa," imbuh Michael.
Untuk membantu membiasakan hal ini, Michael menyarankan untuk berpegang pada prinsip Frequency, Intensity, Time, dan Type (FITT).
Frequency merujuk pada seberapa sering aktivitas fisik itu dilakukan. Jika mengikuti contoh yang diberikan Michael, maka frekuensi jalan cepat dapat dilakukan dalam 3-5 kali seminggu.
Kemudian intensity atau intensitas aktivitas fisik berupa jalan cepat sendiri masuk dalam kategori sedang.
Waktu atau time berarti durasi jalan cepat yang dibutuhkan yakni selama 30-50 menit dalam sekali latihan. Sementara jalan cepat termasuk dalam jenis atau type olahraga aerobik.
Selain jalan cepat, Michael mengatakan nantinya jenis olahraga aerobik juga perlu dilakukan setelah kebiasaan olahraga dengan intensitas sedang telah terbentuk guna melatih otot-otot tubuh.
"Mau ditingkatkan boleh-boleh saja karena mungkin jalan cepat itu intensitasnya sudah terlalu ringan buat dia karena terbiasa. Tapi bagi orang yang tidak biasa, 'Saya nggak pernah olahraga', langsung diberikan yang intensitasnya berat ya tentu nggak bisa. Atau yang obesitas dipaksa untuk jalan untuk jogging, ya, nggak bisa. Jadi itu (jalan cepat) adalah yang paling ringan," kata Michael.
Redaktur: Fandi
Penulis: Suliana
Berita Terkait:
-
Target penambahan kapasitas PLTB
-
Wajib Tahu! Kurang Tidur di Usia 40-an dan 50-an Bisa Meningkatkan Risiko Alzheimer di Kemudian Hari
-
Liga Champions: Kompany Puji Performa “Istimewa” Neuer Usai Bayern Taklukkan Madrid
-
Tarif Listrik di Turki Bakal Naik 25 Persen
-
Chelsea Akhiri Era Singkat Rosenior Usai Lima Kekalahan Beruntun
-
Line Up Synchronize Fest 2026 Fase 1: Daftar 17 Musisi dan Jadwal Festival
-
Perut Anda Buncit? Jalan Kaki 10 Menit Sehabis Makan Solusinya!
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.