Keuntungan Panen Gabah Hanya 30 Persen tapi Tengkulak Jual Beras Bisa Untung 70 Persen, Padahal Petani Tanggung Risiko Cuaca dan Hama
Kamis, 06 Jan 2022, 16:31 WIBTren kenaikan nilai tukar petani (NTP) belum sepenuhnya dinikmati para petani lantaran baru terjadi di sebagian subsektor pertanian dan ada disparitas harga di tingkat petani dan konsumen. Kenaikan di masing-masing subsektor NTP merupakan dampak dari momen akhir tahun dan kondisi cuaca saat ini.
"Tahun ini, kenaikan terlihat signifikan mengingat curah hujan yang cukup tinggi berdampak pada produksi petani. Bahkan, kita lihat di beberapa wilayah Indonesia terjadi bencana banjir karena curah hujan yang cukup tinggi," kata Sekretaris Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Serikat Petani Indonesia (SPI), Agus Ruli Ardiansyah, dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, Rabu (5/1).
Menanggapi hal itu Dewan Penasehat Institut Agroekologi Indonesia (Inagri), Ahmad Yakub, mengatakan bahwa bahwa pendekatan NTP untuk mengukur kesejahteraan petani perlu ditambah dengan ukuran penguasaan lahan sewa atau milik sendiri, penguasaan teknologi on farm maupun off farm serta tingkat kedaulatan pangan rumah tangga petani desa.
"Menurut risetm ada gap distribusi keadilan harga atau keekonomian, misalnya keuntungan gabah petani menjadi beras sekitar 30% banding 70% untuk non-petani, padahal petani menanggung risiko yg paling tinggi yaitu terkait cuaca, hama, dan variabel alami lainnya yg memungkinkan panen tidak bagus bahkan gagal panen," tandas Yakub saat dihubungi Koran Jakarta, hari ini.
Menurut Yakub, sudah selayaknya petani dan pekerja di pedesaan membangun industuri pasca panen atau pengolahan hasil panen yang dimana petani juga menjadi bagian pemilik usahanya dengan modal dihitung dari hasil panen. Skemanya adalah bagi hasil atas penjualan hasil olahan komoditi pertanian, misalnya dari GKP menjadi beras, dari pisang menjadi keripik pisang, dan seterusnya.
"Kita harus beranjak dari on farm menuju industri pedesaan berbasis hasil peratanian. BUMDes dan BUMD dan koperasi atau perusahaan (petani dan warga desa) level kabupaten bisa jadi inisiator utama," tandas Yakub.
Untuk diketahui, kemarin, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis NTP nasional pada Desember 2021 sebesar 108,34 atau naik 1,08 persen dibandingkan bulan sebelumnya yakni 107,18. Kenaikan NTP nasional disebabkan Indeks Harga yang Diterima oleh Petani (lt) naik sebesar 1,72 persen lebih tinggi dibanding kenaikan Indeks Harga yang Dibayar Petani (lb) sebesar 0,63 persen.
Kenaikan NTP nasional tersebut ditopang oleh subsektor-subsektor NTP yang menunjukkan tren positif pada Desember 2021. Kenaikan subsektor NTP yang paling signifikan terjadi di subsektor hortikultura (6,38 persen), perkebunan rakyat (0,91 persen), dan perikanan (0,76 persen), lalu diikuti subsektor tanaman pangan (0,40 persen). (YK/N-3)
Redaktur: Eko S
Penulis: Eko S
Berita Terkait:
-
Rupiah Nyaris Rp17.000, Dampak Perang Asia Barat Makin Ngeri, Dompet Rakyat Terancam?
-
Cerita Audy Item Berjuang Melawan Obesitas
-
ASN Turun Langsung Perkuat Literasi Masyarakat Melalui Program Bakti Perpusnas
-
Pesan Tegas Prastawa: Pemain Santai Tak Punya Tempat di Pelita Jaya
-
Menag Nasaruddin Umar Minta Reformasi Birokrasi Kemenag Berbasis Validitas Data dan Penguasaan Teknologi
-
Hadapi Ancaman El Nino, Mentan Santai: Indonesia Sudah Punya Pengalaman
-
Rupiah Masih Tertekan, 19 Januari 2025
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.