Gaya Anak Muda Berkesenian
📅 Sabtu, 07 Apr 2018, 01:00 WIB | Oleh: Dini Daniswari
Doc: istimewa
Mereka bermain di sebuah panggung musikal namun tidak mendapatkan bayaran.
Anggotanya anak muda. Tim produksinya juga anak muda. Itulah profil JKTMOVEIN. Komunitas Movement of Inspiration ini secara sengaja memang memilih anak muda yang tertarik pada seni untuk berkembang bersama.
Komunitas pertunjukan drama musikal ini beranggapan, dalam jenjang usai yang tidak jauh berbeda mereka dapat berkesenian tanpa pamrih. Pemahaman tersebut perlu disadari peserta sejak awal karena setiap anggota yang tampil dalam pementasan bersifat relawan.
Mereka bermain di sebuah panggung musikal namun tidak mendapatkan bayaran. "Ini adalah proses pengembangan diri yang bersifat volunteer dan bukan untuk orang yang mencari pekerjaan," ujar Nurul Susantono, 26, atau yang biasa disapa Nuya di headquarters JKTMOVEIN di Masjid Condet, Batu Ampar, Jakarta Timur, Kamis (5/4).
Untuk itu, Nuya yang juga bertindak sebagai produser dan sutradara memilih anak muda dalam rentang usia 15 sampai 23 tahun sebagai peserta baru setiap pementasan. Ia berpendapat dalam rentang usai tersebut, rata-rata mereka belum dituntut untuk memiliki pendapatan. Berbedahalnya dengan usianya 25 tahun ke atas, usia tersebut secara psikologis menuntut adanya penghasilan. "Usia 23 tahun, usia skripsilah," ujar dia tentang komunitasnya yang telah mementaskan tiga judul drama musical, yaitu Musikal Sekolahan, Gemuruh dan Petualangan Sherina (September 2017 dan Februari 2018).
Dalam setiapkali pementasan, JKTMOVEIN selalu merekrut peserta baru. "Kita mencari yang mentah dan memiliki semangat untuk tumbuh bareng," ujar dia. "Kita tidak mau anak-anak yang kita rekrut motivasi pertamanya adalah uang," ujar dia lagi.

Untuk itu dalam setiap perekrutan untuk pementasan akan dilakukan audisi. Proses ini untuk mendapatkan pemain yang memiliki talenta sekaligus memiliki komitmen untuk bergabung dalam pementasan drama musikal. Tidak pernah disangka, ternyata peminatnya cukup membludak. Seperti untuk pementasan Petualangan Sherina, ada 2000 orang yang mendaftar namun yang diterima hanya 55 orang. Pada tahap awal, mereka menyaring melalui vocal yang dikirimkan melalui instagram, jika sesuai yang dibutuhkan mereka akan memanggil para peserta untuk melakukan audisi lanjutan.
Umumnya, peserta yang berhasil lolos seleksi adalah peserta jebolan dari les sejumlah bidang kesenian. Mereka telah terlatih sehingga lebih mudah untuk diarahkan sesuai jalan cerita. Selain melihat talenta peserta, audisi juga mencari peserta yang memiliki komimen untuk berlatih selama kurang lebih enam bulan sebelum pementasan dan pada saat pementasan.
Drama musikal yang identik dengan lakon-lakon cerita dari luar negeri bukan berarti harus mementaskan cerita-cerita dari negara lain. Nuya bersama JKTMOVEIN tidak akan menggunakan ajang pementasan ini untuk menampilkan ceritacerita dari negara lain. "Aku merasa bukan tanggung jawabku untuk memperkenalkan budaya luar di sini," ujar dia. Nuya lebih senang menggali carita-cerita yang ada di Tanah Air. JKTMOVEIN didirikan Nuya bersama salah satu temannya, Faras Safira.
Mereka samasama ingin memajukan seni pertunjukkan di Indonesia. Sebelum lulus SMA, 2009, Nuya pernah membuat drama musikal di sekolahnya, SMA Lab School. Kecintaannya terhadap dunia pertunjukan terus berlanjut hingga duduk di bangku kuliah, Departemen Komunikasi, Universitas Indonesia. Bersama Faras yang merupakan adik kelasnya di SMA, ia masih suka melatih pertunjukan drama musikal di SMA nya.
Drama musikal dianggap sebagai seni yang bisa menyatukan banyak orang dan mengembangkan talenta orang diberbagai bidang. Akhirnya, mereka sepakat untuk memperkenalkan drama musikal ke masyarakat luas dengan membuat brand dengan mengajak pemuda pemudi lainnya.
JKTMOVEIN dibentuk pada awal Desember 2013 sedangkan pertunjukan pertama dilakukan pada Agustus 2014. Anggota yang pernah tergabung kurang lebih sebanyak 500 orang sedangkan anggota yang masih rutin mengadakan pertemuan sekitar 100 orang. din/E-6
Dari Karya Terkenal ke Pentas Drama Musikal
Mengadaptasi cerita populer untuk pertunjukan drama musikal, telah dilakukan sejumlah pihak. Cerita-cerita yang telah dikenal masyarakat membuat drama musikal menjadi tontonan yang menyenangkan dan dapat dinikmati semua kalangan. Bukan hal baru kalau drama musikal mengadopsi beberapa cerita popular.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!