Kisah Jenderal Marinir Memprotes Presiden | Koran Jakarta
Koran Jakarta | January 19 2021
No Comments

Kisah Jenderal Marinir Memprotes Presiden

Kisah Jenderal Marinir Memprotes Presiden

Foto : Istimewa.
A   A   A   Pengaturan Font

JAKARTA- Saat masih jadi Gubernur DKI Jakarta, mendiang Ali Sadikin atau biasa dipanggil Bang Ali, pernah merasa kecewa ketika pangkatnya diloncati para yunior. Kekecewaan Bang Ali dipicu, karena jabatannya sebagai gubernur seperti dianggap kurang prestisius dibanding jabatan di institusi militer, sehingga para yuniornya yang lebih didahulukan naik pangkat. 

Kekecewaan Bang Ali ini dituangkan dalam buku biografinya Ali Sadikin: Membenahi Jakarta Menjadi Kota yang Manusiawi, yang ditulis Ramadhan KH. Di buku itu, Bang Ali, jenderal bintang tiga marinir ini mengungkapkan kekecewaannya ketika ia diloncati oleh dua yuniornya di Angkatan Laut yang terlebih dahulu naik pangkat.

“Saya diloncati oleh Laksamana OB Sjaaf dan Laksamana Soebiakto. Waktu itu mereka ditugaskan di Hankam, dan dinaikkan pangkatnya menjadi bintang tiga. Padahal saya lebih tua. Saya bersama-sama dengan Yos Sudarso dan Martadinata yang keduanya sudah tidak ada waktu itu," kata Bang Ali di buku biografinya yang ditulis Ramadhan KH.

Tidak terima diloncati, Bang Ali pun kemudian mengirim surat 'protes' berisi keberatannya kepada Presiden Soeharto. Dalam surat itu, Bang Ali mempertanyakan kenapa ia yang lebih senior diloncati oleh dua yuniornya.

“Resmi saya mengirimkan surat kepada Presiden, bertanya, mengapa saya diloncati. Saya tidak bisa terima begitu saja diloncati tanpa ditanya lebih dulu. Saya lebih senior. Saya ingat, menurut kode etik Angkatan Laut, kalau saya diloncati saya harus ditanya dulu," tutur Bang Ali.

Bang Ali juga mempertanyakan, apakah kedudukan seorang gubernur dianggap lebih rendah. Apalagi ia adalah mantan Menteri Koordinator. Dan, juga dirinya belum pensiun. Ia juga bertanya, apa kesalahannya. Waktu itu menurut Bang Ali di buku biografinya, surat yang ia layangkan ke Presiden bikin geger. Karena memang, baru pertama kali terjadi. 

Ia dituding macam-macam. Bahkan ia dengar selentingan, agar dirinya dijadikan duta besar saja.

Tapi setelah itu, keluar surat keputusan presiden yang mengatur tentang jabatan gubernur mana saja yang bisa diisi oleh brigadir jenderal dan mayor jenderal. 

Dan khusus untuk gubernur Jakarta, yang mengisi adalah seorang Letnan Jenderal. "Dengan begitu, jadilah saya Letjen dan tetap jadi gubernur," kata Bang Ali. ags/N-3

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment