Umat Kristiani Harus Aktif Bangun Demokrasi Pancasila dengan Pemilu Cerdas
📅 Sabtu, 29 Jul 2023, 12:59 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: istimewa
SURABAYA - Umat Kristiani diharapkan dapat mengerti perannya dalam masyarakat serta senantiasa menanamkan Pancasila dalam setiap perkataan dan perbuatan, khususnya dalam menghadapi Pemilu 2024.
Yayasan Terang Bagi Sejahtera Bangsa bersama masyarakat Kristiani di Surabaya dan sekitarnya menggelar diskusi publik bertema Warga Negara yang Ber-Pancasila di Bon Café, Surabaya pada Jumat 28 Juli 2023. Acara ini mengundang staf khusus Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Dr Antonius Benny Susetyo atau Romo Benny sebagai pembicara.
Dalam sambutannya, Ketua Yayasan Terang Bagi Sejahtera Bangsa Tina Agung Purnomo menyatakan, masyarakat Kristiani dan Gereja, suka atau tidak, harus menyadari posisi sebagai bagian dari masyarakat dan negara, dengan cara memahami posisi dan mengamalkan Pancasila dalam setiap kata dan perbuatan.
"Dengan menjalankan kedua hal tersebut hendaknya kita dapat proaktif berperan dalam masyarakat menjadi penetralisir narasi perpecahan, politik identitas, dan berita bohong dalam masyarakat khususnya menjelang pemilu sehingga persatuan dan kesatuan dalam kebhinekaan benar-benar terjaga," katanya.
Sementara Romo Benny menyatakan, pemilu adalah bukti bahwa Demokrasi Pancasila menjunjung tinggi hak setiap warga negara untuk berpartisipasi dalam pemerintahan, setiap warganegara dipersilakan menyampaikan aspirasi dengan memilih siapa orang yang akan menakhodai, tidak hanya individu dan kelompok identitas, namun seluruh bangsa Indonesia.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Karena itu hendaknya kita tidak terjebak dalam romantisme masa lalu, hoaks maupun narasi negatif yang berujung perpecahan, dalam perjalanannya kita harus sadar bahwa walau pemilu sebagai sarana demokrasi yang Ideal dan benar benar adil, kita harus berpegang bahwa setiap gerak kita sebagai umat Kristiani dan warga negara menentukan nasib kita untuk lima tahun kedepan," katanya.
Karenanya, lanjut Romo Benny, warga negara perlu memperhatikan calon pemimpin dengan melihat rekam jejak, kestabilan psikologis, dan kemampuan berdiri bersama rakyat dan pemilih. Kita harus bisa melihat pemimpin mana yang memiliki keutamaan yaitu mereka yang menghormati keberagaman, hak asasi manusia, dan peduli pada mereka yang terpinggirkan.
Kenyataan di lapangan, kata Romo Benny, pemilu yang benar-benar jujur dan adil adalah hal yang utopis, karena ongkos pemilu yang mahal menjadikan yang seharusnya menjadi perayaan dan penghormatan terhadap demokrasi ini menjadi hal yang penuh intrik, dinamika, dan transaksi.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Pada akhirnya kita harus kembali pada pandangan Romo Magnis tentang Minus Mallum atau Lesser Evil yang menyatakan bahwa kita harus memilih mereka yang dosanya paling sedikit. Dan karenanya, kita harus meneliti dengan baik dan objektif mengenai siapa yang kita pilih terkait rekam jejak dan program yang ditawarkan. Bukan lagi terjebak pada romantisme masa lalu atau lebih buruk, politik identitas," paparnya.
"Suka atau tidak, kita harus menyadari dalam era digital ini, sifat buruk bangsa Indonesia benar-benar tergali. Kita tak sadar menjadi pribadi yang melodramatis, mudah terjebak pada romantisme dan masa keemasan masa lalu, serta menjadi mereka yang bersumbu pendek, mereka yang menjadi komunitas pengiya kata yang membagikan hal dan Informasi tanpa menyaringnya terlebih dahulu," lanjutnya.
Setiap umat Kristiani khususnya para peserta diskusi publik diharapkan dapat selalu menjadi agen perubahan, agen demokrasi, dan agen pengedukasi dalam upaya menjaga pemilu yang berkualitas.
Lebih lanjut, doktor Komunikasi Politik itu juga menyatakan, para pemilih potensial adalah generasi Z. Mereka dengan segala keunikannya merupakan potensi besar dalam pemilu, bukan sekadar pemilih, mereka dengan talenta berteknologi dan bermedia sosial mampu membuat konten-konten segar yang suka atau tidak, sangat efektif menyampaikan pesan dan informasi khususnya terkait pemilu dan pesta demokrasi.
"Kita harus merangkul mereka dan membuat mereka mengerti bahwa martabat tidak bisa direduksi dengan uang dan identitas , dan menjadi bermartabat berarti bisa memilih atas dasar pikiran sehat, dan terhormat. Mereka memilih berdasarkan kenyataan bahwa demokrasi tidak memberi jaminan kesejahteraan namun memberi jaminan mengenai kemanusiaan, kehormatan, dan kesempatan.
Romo Benny juga menyatakan, umat Kristiani khususnya peserta diskusi diharapkan menjadi agen perubahan menggaungkan Pemilu Cerdas yang dapat memberikan contoh dan edukasi politik kepada masyarakat di sekitarnya. Peserta diskusi dapat memulai dari keluarga, komunitas, hingga gereja untuk memberikan informasi bagaimana cara memilih pemimpin, misalnya, dengan metode analisa kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses), peluang (opportunities), dan ancaman (threats)pada setiap calon pemimpin sehingga didapatkan pemimpin yang efektif dan mampu bekerja sesuai ekspektasi masyarakat.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!