Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Tiongkok Kecam Penguatan Aliansi Militer AS-Jepang

📅 Jumat, 12 Apr 2024, 10:19 WIB | Oleh: Tim Penulis
Tiongkok Kecam Penguatan Aliansi Militer AS-Jepang Doc: ANTARA/Desca Lidya Natalia
Ket. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Mao Ning.

BEIJING - Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Mao Ning mengecam penguatan aliansi militer Amerika Serikat dan Jepang yang dinilai menyerang dan menjelak-jelekkan Tiongkok terkait masalah Taiwan dan kemaritiman.

Amerika Serikat dan Jepang terlalu mencampuri urusan dalam negeri Tiongkok, dan melanggar norma-norma dasar dalam hubungan internasional, kata Mao Ning saat menyampaikan keterangan kepada media di Beijing, Kamis (11/4).

"Tiongkok menyesalkan dan mengecam hal itu, dan telah mengirimkan protes serius akan hal itu," katanya.

Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida berada di Amerika Serikat sejak Senin (8/4) untuk bertemu dengan Presiden AS Joe Biden dan pejabat terkait lainnya.

Kedua pemimpin mengumumkan rencana untuk mengatur ulang komando militer AS di Jepang.

Langkah yang menandai perubahan terbesar sejak 1960-an ini dimaksudkan untuk membuat pasukan AS dan Jepang lebih gesit dalam menghadapi ancaman, seperti invasi Tiongkok ke Taiwan.

Menurut MaoNing, hubungan AS-Jepang tidak boleh menargetkan negara lain, merugikan kepentingan negara lain atau merusak perdamaian dan stabilitas regional.

"Tiongkok dengan tegas menentang mentalitas Perang Dingin dan persekongkolan politik kelompok kecil," tambah Mao Ning.

Dia kembali menegaskan masalah Taiwan adalah murni urusan dalam negeri Tiongkok dan pemerintahnya tidak mengizinkan campur tangan pihak luar.

"Baik pemerintah AS maupun Jepang telah membuat komitmen serius kepada Tiongkok mengenai masalah Taiwan. Secara khusus, Jepang memikul tanggung jawab historis serius atas agresinya terhadap Taiwan dan pemerintahan kolonial atas pulau tersebut sehingga Jepang harus bertindak lebih hati-hati," ungkapnya.

Ia juga mendesak AS untuk menerjemahkan komitmen Presiden Biden yang tidak mendukung "kemerdekaan Taiwan" menjadi tindakan nyata.

Mengenai kekhawatiran AS dan Jepang mengenai kekuatan nuklir Tiongkok, menurut Mao Ning, itu adalah narasi palsu yang disengaja.

"Kami dengan tegas menentangnya dan tidak akan menerimanya. Tiongkok mengikuti kebijakan 'tidak menggunakan senjata nuklir lebih dulu' dan telah berkomitmen untuk tidak menggunakan senjata nuklir terhadap negara-negara yang tidak memiliki senjata nuklir dan zona bebas senjata nuklir," tambah Mao Ning.

Tiongkok, menurut Mao Ning, juga selalu menjaga kemampuan nuklirnya pada tingkat minimum yang disyaratkan oleh keamanan nasional.

"Kami tidak pernah terlibat dalam perlombaan senjata dalam bentuk apa pun. Bagi negara mana pun, selama mereka tidak menggunakan senjata nuklir untuk melawan Tiongkok, mereka tidak akan merasa terancam oleh senjata nuklir Tiongkok," katanya.

Lebih lanjut, Mao Ning menilai AS dan Jepang melakukan tindakan aktif di bidang nuklir misalnya dengan berinvestasi besar-besaran untuk persenjataan nuklir, menarik diri dari perjanjian dan organisasi pengendalian senjata, memperkuat aliansi nuklir NATO dan memperluas kerja sama dengan sekutu mengenai teknologi militer canggih.

Sementara Jepang sebagai korban ledakan nuklir, alih-alih meminta AS melakukan pelucutan senjata nuklir, Tokyo malah memilih untuk mengandalkan payung nuklir AS dengan mengembangkan kemampuan serangan rudal dan pertahanan lanjut serta bekerja sama dengan AS dalam pengerahan kekuatan strategisnya.

"Tindakan negatif yang dilakukan oleh AS dan Jepang telah merusak keseimbangan dan stabilitas strategis di kawasan dan dunia, menghambat proses pengendalian dan perlucutan senjata internasional, serta mengganggu perdamaian dan ketenangan kawasan," kata Mao Ning.

Diberitakan sebelumnya, AS dan sekutu-sekutunya, termasuk Jepang, terus memperkuat militer mereka guna melawan yang mereka sebut sebagai ancaman yang semakin besar dari Tiongkok di Laut Tiongkok Selatan dan Laut Tiongkok Timur.

AS dan Jepang akan membentuk forum kerja sama di bidang industri pertahanan yang akan mengidentifikasi bidang pengembangan bersama seperti produksi rudal, pertahanan udara, dan pemeliharaan kapal perang AS.

Direncanakan, kerja sama itu diikuti dengan pembentukan kelompok kerja untuk pelatihan pilot pesawat tempur, termasuk pelatihan dengan kecerdasan buatan dan simulator canggih.

Presiden Biden juga menjadi tuan rumah pertemuan trilateral antara Presiden Joe Biden, Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida, dan Presiden Filipina, Ferdinand Marcos Jr di Washington pada Kamis (11/4) malam.

Terkait dengan kerja sama keamanan dengan AS dan Jepang, Filipina telah mengizinkan sejumlah pangkalan militer negara itu diakses tentara AS berdasarkan Perjanjian Kerja Sama Pertahanan yang Ditingkatkan.

Saat ini, Manila pun tengah membahas sejumlah isu serupa dengan Jepang, terutama terkait perjanjian akses timbal balik yang akan memungkinkan kehadiran pasukan Jepang di wilayah Filipina.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Nasional
Atap bangunan sekolah SDN d...
Ekonomi
Nilai tukar rupiah terendah...

Operasi uji emisi kendaraan di Tangerang

32 menit yang lalu | Wahyu AP

Megapolitan
Operasi uji emisi kendaraan...
Megapolitan
Pemkot Jakut Vaksinasi Ribu...
Ekonomi
Industri sepatu rumahan kua...

Pelaksanaan program penghapusan bentor

37 menit yang lalu | Wahyu AP

Nasional
Pelaksanaan program penghap...
Megapolitan
Pemprov DKI gelar program o...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.