Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Tantangan Besar demi Selamatkan Pesut Sungai Irrawaddy dari Kepunahan

📅 Sabtu, 18 Mar 2023, 02:14 WIB | Oleh: Tim Penulis
Tantangan Besar demi Selamatkan Pesut Sungai Irrawaddy dari Kepunahan Doc: AFP/TANG CHHIN Sothy
Ket. Amati Pesut | Turis yang menumpang kapal wisata sedang mengamati gerombolan pesut yang berkeliaran di Sungai Mekong, Kamboja, pada 16 Februari lalu. Populasi pesut di sungai ini kian menurun akibat terjerat jaring nelayan serta perubahan iklim.

Sejumlah kepala abu-abu menyembul memecah air keruh Sungai Mekong di Kamboja saat segerombolan pesut Irrawaddy yang langka muncul ke permukaan untuk bernapas, menarik perhatian para turis yang menonton dari sebuah perahu.

Pemandangan yang mendebarkan itu mungkin akan segera menjadi kenangan, karena jumlah mamalia yang terancam punah ini terus berkurang meskipun ada upaya untuk melestarikannya.

Kamboja telah mengumumkan pembatasan baru yang keras terkait penangkapan ikan di sungai itu untuk mencoba dan mengurangi jumlah pesut yang terbunuh karena jaring. Namun di negara dengan sumber daya keuangan yang terbatas, merupakan tantangan besar untuk menegakkan aturan di sungai selebar ratusan meter yang dihiasi pulau-pulau kecil dan ditumbuhi semak belukar yang lebat itu.

"Kami khawatir tidak bisa melindungi mereka," ucap Phon Pharong, seorang penjaga konservasi sungai saat berpatroli mencari jaring ikan ilegal beberapa hari lalu.

"Jaring ikan ilegal yang dibiarkan di air dalam waktu lama, telah menjebak ikan tanpa pandang bulu dan merupakan penyebab utama kematian pesut di Mekong," imbuh dia.

Pharong adalah salah satu dari lebih dari 70 penjaga sungai yang berpatroli di hamparan Mekong sepanjang 120 kilometer dari timur laut Provinsi Kratie hingga dekat perbatasan Laos. Para penjaga konservasi sungai kerap mengeluhkan bahwa upaya mereka terhambat oleh sumber daya yang terbatas dan intimidasi oleh geng nelayan.

Mok Ponlork, seorang pejabat dinas perikanan yang memimpin penjaga konservasi pesut di Kratie, memiliki 44 orang untuk memantau bentangan sepanjang 85 kilometer. Namun jumlah itu menurut dia masih amat minim karena untuk melakukan tugas pekerjaan secara efektif, ia membutuhkan setidaknya 60 orang.

Tanpa staf, para penjaga konservasi tahu bahwa mereka sedang bermain kucing-kucingan yang kalah jauh dengan jumlah nelayan yang memancing di sungai. "Kalau kami berpatroli malam hari, mereka tidak pergi memancing, namun saat kami kembali siang hari, mereka pergi ke sungai," kata Pharong.

Upah rendah berarti para penjaga konservasi ini terpaksa mengambil pekerjaan ekstra di darat untuk menghidupi keluarga mereka dan hal itu membuat mereka kesulitan dalam melaksanakan tugas patroli. Setiap penjaga konservasi itu menerima upah sekitar 65 dollar AS sebulan dari pemerintah, sementara WWF memberikan tambahan dana sebesar 5 dollar AS untuk satu hari patroli.

Kian Langka

Pesut Irrawaddy merupakan makhluk kecil pemalu dengan dahi berkubah dan paruh pendek yang pernah berkeliaran melewati sebagian besar Mekong yang amat panjang hingga ke delta sungai di Vietnam.

Penangkapan ikan ilegal dan sampah plastik telah membunuh banyak hewan ini dan habitat pesut ini telah berkurang akibat bendungan di hulu dan perubahan iklim, yang berdampak besar pada ketinggian air di sungai.

Populasi pesut di Mekong menyusut dari 200 ekor ketika sensus pertama dilakukan pada 1997, menjadi hanya 89 ekor saja pada 2020. Spesies ini, menurut WWF, hanya hidup di dua sungai lain yaitu Sungai Ayeyarwady di Myanmar dan Mahakam di Indonesia.

Ketiga populasi pesut di sungai tersebut terdaftar sebagai sangat terancam punah dalam daftar merah spesies terancam IUCN (International Union for Conservation of Nature's).

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Daerah
Taman Safari Prigen Perkena...
Megapolitan
PIN SPMB Belum Masuk? Ini P...
Megapolitan
DKI Perluas Pelatihan Kerja...
Nasional
DPR Minta Kepala BGN Baru F...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.