Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

PM Ishiba Sebut Kesepakatan Tarif dengan AS Saling Menguntungkan

📅 Selasa, 05 Agu 2025, 01:00 WIB | Oleh:
PM Ishiba Sebut Kesepakatan Tarif dengan AS Saling Menguntungkan Doc: AFP/Kazuhiro NOGI
Ket. PM Jepang Shigeru Ishiba (kiri) dan Menteri Revitalisasi Ekonomi sekaligus kepala negosiator dalam perundingan tarif perdagangan, Ryosei Akazawa, menghadiri sidang komite anggaran mengenai isu tarif AS di Dewan Perwakilan Rakyat di Parlemen Tokyo.

Tokyo - Perdana Menteri (PM) Jepang, Shigeru Ishiba pada Senin (4/8), menyatakan bahwa perjanjian tarif bea cukai yang disepakati dengan Amerika Serikat (AS) merupakan solusi yang saling menguntungkan bagi kedua negara. Pernyataan ini disampaikan setelah negosiasi panjang untuk merespons kebijakan tarif baru yang diberlakukan oleh AS.

"Ini akan menciptakan lapangan kerja di Amerika, dan tidak akan menyebabkan hilangnya lapangan kerja di Jepang, serta akan membawa sesuatu yang lebih baik bagi dunia. Ini adalah hubungan yang saling menguntungkan," ujar Ishiba dalam rapat komite anggaran parlemen Jepang, yang disiarkan di situs resmi majelis rendah parlemen negara tersebut.

Seperti dikutip dari Antara, setelah beberapa putaran negosiasi tarif, Jepang dan AS menyepakati investasi Jepang dalam perekonomian Amerika sebesar 550 miliar dollar AS (sekitar 9 kuadriliun rupiah), sementara kedua negara menerapkan tarif perdagangan bersama sebesar 15 persen.

Kesepakatan juga dicapai untuk mengurangi setengah tarif tambahan untuk mobil Jepang, bila mempertimbangkan tarif yang ada maka akan berjumlah 15 persen.

Sebelumnya, PM Ishiba sempat menyayangkan keputusan AS yang memberlakukan tarif impor 25% terhadap Jepang, terutama untuk produk otomotif. Kebijakan ini dianggap sebagai pukulan berat bagi industri ekspor andalan Jepang.

Namun, dalam pernyataan terbarunya, Ishiba menegaskan bahwa pemerintah Jepang akan terus menjalin koordinasi intensif dengan AS. Tujuannya adalah untuk mencapai kesepakatan yang saling menguntungkan tanpa mengorbankan kepentingan nasional Jepang.

"Kami akan terus melakukan negosiasi dengan Amerika Serikat untuk mencari kemungkinan tercapainya kesepakatan yang saling menguntungkan sambil melindungi kepentingan nasional kami," kata Ishiba.

Pada 2 April lalu, Presiden AS Donald Trump menandatangani perintah eksekutif yang memperkenalkan tarif "timbal balik" untuk impor dari negara lain dengan tarif minimum dasar ditetapkan sebesar 10 persen.

Pada saat yang bersamaan, sebagian besar negara akan menghadapi tarif yang lebih tinggi sebagaimana dijelaskan oleh Kantor Perwakilan Dagang AS, dengan perhitungan berdasarkan defisit perdagangan AS dengan negara tertentu sehingga akan terjadi keseimbangan, alih-alih defisit.

Kemudian pada 9 April, Trump mengumumkan bahwa AS akan segera menangguhkan penerapan tarif balasan selama 90 hari untuk lebih dari 75 negara.

Sebelumnya, Jepang menghadapi tarif 25 persen untuk baja dan aluminium (12 Maret) dan 25 persen untuk mobil yang tidak diproduksi di AS (3 April).

Di Jepang, situasi serupa itu dianalogikan dengan krisis nasional, dan media setempat mulai menggunakan istilah "kejutan Trump" yang dianalogikan dengan sebutan krisis 2008-2009 sebagai "kejutan Lehman" (Lehman Shock), yang kebangkrutannya memicu krisis ekonomi global.

Terdapat pula istilah "kejutan Corona" (Corona Shock), yang menandai krisis ekonomi yang berkaitan dengan pandemi tersebut.

Batas Waktu

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.