Peneliti Kembangkan Pil dengan Sensor untuk Mengatasi Gangguan Usus
📅 Kamis, 16 Feb 2023, 00:38 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo S
Doc: Istimewa
WASHINGTON DC -Para peneliti di California Institute of Technology (Caltech) dan Institut Teknologi Massachusetts, baru-baru ini telah mengembangkan pil dengan sensor yang dapat dicerna.
Hasil studi yang diterbitkan pada Senin (13/), di jurnal Nature Electronic ini,dapat dipantau saat bergerak melalui saluran pencernaan dan telah diuji pada usus babi.
Dilansir oleh France 24, pil dapat untuk meredakan sembelit, atau mendiagnosis gangguan pencernaan.
"Ini adalah bidang yang sangat berkembang pesat," kata Saransh Sharma, mahasiswa doktoral Caltech yang terlibat dalam pengembangan sensor diagnostik yang dapat dicerna.
"Anda memiliki robot medis yang sangat kecil sehingga Anda dapat mengirimkannya ke dalam tubuh seseorang menggunakan saluran oral dan mereka dapat melakukan banyak penginderaan dan aktuasi di dalam usus," kata Sharma kepada AFP.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sekitar 16 dari setiap 100 orang dewasa di Amerika Serikat menderita gejala sembelit, menurut otoritas kesehatan AS, dan jumlahnya dua kali lipat untuk orang Amerika yang berusia di atas 60 tahun.
Para peneliti di Massachusetts Institute of Technology (MIT) dan Caltech telah mengembangkan sensor yang dapat ditelan yang dapat dipantau saat bergerak melalui saluran pencernaan.
Perangkat, dengan panjang 20 milimeter dan diameter delapan mm, dapat membantu dokter mendiagnosis gangguan motilitas gastrointestinal yang mencegah makanan bergerak secara normal melalui saluran pencernaan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Lokasi kapsul mengungkapkan di mana pelambatan terjadi. "Itu memberi dokter banyak informasi penting untuk melakukan pekerjaan yang lebih baik dalam penyembuhan dan diagnosis serta rencana perawatan," kata Sharma.
Sensor juga bisa memberikan alternatif untuk prosedur invasif seperti endoskopi atau teknik diagnostik lainnya seperti pencitraan nuklir, sinar-X atau kateter.
Ini telah diuji pada babi dan tim di belakang penelitian berharap pada akhirnya mendapatkan persetujuan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (Food and Drug Administration/FDA) untuk uji klinis pada manusia.
"Jika kita dapat mendemonstrasikan perangkat di dalam hewan besar seperti babi dengan tingkat kepercayaan yang sangat tinggi, kita dapat mengatakan bahwa alat itu akan berskala sangat baik dalam anatomi manusia juga," kata Sharma.
Mereka mengatakan, sensor tersebut bekerja dengan cara mendeteksi medan magnet yang dihasilkan oleh kumparan elektromagnetik yang terletak di luar tubuh.
Kekuatan medan magnet bervariasi dengan jarak dari koil dan posisi sensor dalam saluran pencernaan dapat dihitung dalam milimeter berdasarkan pengukuran medan magnet.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!