Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Malaysia Usir Masyarakat Suku Bajau Laut dengan Alasan Keamanan

📅 Sabtu, 08 Jun 2024, 13:27 WIB | Oleh: Tim Penulis
Malaysia Usir Masyarakat Suku Bajau Laut dengan Alasan Keamanan Doc: CNA/Reuters
Ket. Asap mengepul saat sebuah rumah dibongkar di Taman Laut Tun Sakaran, Sabah, Malaysia, dalam tangkapan layar yang diperoleh dari video media sosial, dirilis pada 4 Juni 2024.

KUALA LUMPUR - Pihak berwenang Malaysia membela keputusan mereka mengusir ratusan pengembara laut dari rumah mereka di lepas pantai negara bagian Sabah minggu ini, dengan mengatakan bahwa hal itu bertujuan untuk meningkatkan keamanan dan memerangi kejahatan lintas batas.

Lebih dari 500 orang dari Bajau Laut, sebuahkomunitas pelaut yang sebagian besar tidak memiliki kewarganegaraandan tinggal di rumah perahu reyot atau gubuk pantai yang dibangun di atas panggung, melihat rumah mereka dibongkar atau dibakar oleh petugas penegak hukum pada minggu ini, kata para aktivis setempat.

Operasi di distrik Semporna di Sabah dikritik oleh kelompok hak asasi manusia, yang meminta pemerintah menghentikan penggusuran dan menjamin keselamatan dan perlindungan masyarakat Bajau Laut.

Menteri Pariwisata, Kebudayaan dan Lingkungan Hidup Sabah Christina Liew mengatakan pihak berwenang diberi wewenang untuk menindak aktivitas ilegal, seperti penangkapan ikan, bangunan, dan pertanian tanpa izin, di kawasan lindung yang dikendalikan oleh Sabah Parks, sebuah badan konservasi negara.

Kedaulatan hukum negara dalam masalah ini harus ditegakkan, ujarnya dalam keterangannya, Jumat (7/6).

Liew mengatakan pemberitahuan evakuasi dikirim ke 273 pemukiman tidak sah bulan lalu, dengan 138 bangunan dihancurkan antara Selasa dan Kamis di "titik panas" di sekitar Taman Laut Tun Sakaran, sebuah objek wisata yang terkenal dengan tempat menyelamnya.

Mengutip sumber polisi, Liew menuduh beberapa pemilik rumah membakar rumahnya sendiri untuk mendapatkan simpati dan menjadi viral di media sosial.

Operasi itu dilakukan dengan mempertimbangkan faktor keamanan, termasuk kejahatan lintas batas, katanya. Semporna terletak di ujung timur laut Kalimantan, berbatasan dengan Filipina bagian selatan.

Suku Bajau Laut tercatat tinggal di wilayah tersebut selama berabad-abad, namun banyak yang lahir tanpa dokumen kewarganegaraan dan dianggap oleh pihak berwenang sebagai migran.

Kelompok hak asasi manusia Pusat Komas meminta negara untuk menyediakan rumah alternatif dan mengatasi masalah dokumentasi untuk memastikan masyarakat Bajau Laut menerima perlakuan yang adil dan akses terhadap layanan penting.

"Pengusiran paksa mereka menimbulkan pertanyaan serius mengenai perlakuan adil terhadap etnis minoritas di Malaysia," kata kelompok tersebut.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Nasional
Huntara di Langkahan roboh ...
Nasional
Atap bangunan sekolah SDN d...
Ekonomi
Nilai tukar rupiah terendah...

Operasi uji emisi kendaraan di Tangerang

38 menit yang lalu | Wahyu AP

Megapolitan
Operasi uji emisi kendaraan...
Megapolitan
Pemkot Jakut Vaksinasi Ribu...
Ekonomi
Industri sepatu rumahan kua...

Pelaksanaan program penghapusan bentor

43 menit yang lalu | Wahyu AP

Nasional
Pelaksanaan program penghap...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.