Liga Bangsa-Bangsa Gagal Menciptakan Perdamaian
📅 Rabu, 08 Nov 2023, 06:10 WIB | Oleh: Haryo Brono
Doc: Wikimedia
Di tengah berkecamuknya Perang Dunia I, AS di bawah pimpinan Presiden Woodrow Wilson menawarkan inisiatif pembentukan organisasi negara-negara. Sayangnya organisasi yang kemudian dinamakan Liga Bangsa-Bangsa ini gagal menciptakan perdamaian seperti yang menjadi tujuannya pembentukannya.
Upaya pertama di dunia dalam bentuk badan internasional yang mencakup seluruh dunia untuk mempromosikan perdamaian dan diplomasi adalah Liga Bangsa-Bangsa (LBB) atau The League of Nations. Setelah Perang Dunia I, sekutu yang menang bertekad untuk mencegah pertumpahan darah serupa terjadi lagi.
Menurut laman The Collector, usulan pembentukan LBB datang dari Presiden Amerika Serikat (AS), Woodrow Wilson. Kala itu pada 1919, ia tiba di Konferensi Perdamaian Paris (La Conférence de Paix de Paris) dengan gagasan tentang liga formal negara-negara.
Setelah didirikan pada tahun tersebut, LBB berjuang untuk mencapai tujuan mulianya dalam mencegah konflik. Sayang upaya tersebut tidak berhasil dan berujung pada pecahnya Perang Dunia II. Meskipun mulia dan inovatif, gagasan ini dengan cepat mendapat penolakan dari para pemimpin AS dan asing lainnya.
Perang Dunia I (1914-1918) tidak seperti perang sebelumnya. Dengan persenjataan industri dan taktik baru perang parit, pertempuran itu telah menyebabkan kematian dan kehancuran dalam skala yang tidak terbayangkan. Selama empat tahun, senjata modern seperti senapan mesin, senjata kimia, dan artileri akurat, mengubah medan perang menjadi medan pembunuhan tanpa pandang bulu.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pada 1918, kebuntuan perang parit di front barat di Prancis terpecahkan. Kemenangan Jerman melawan Russia memberikan cukup tenaga kerja di front timur untuk mengalahkan kekuatan gabungan Prancis, Inggris, dan Amerika Serikat (AS).
Untungnya bagi sekutu, penambahan tentara AS berhasil mempertahankan garis pertahanan. Sekutu berhasil bertahan dalam Serangan Musim Semi Jerman dan membalasnya dengan Serangan Seratus Hari, yang menyebabkan Jerman meminta gencatan senjata.
Karena tidak dapat melanjutkan perang, Jerman berharap untuk menerima persyaratan perdamaian yang dapat diterima setelah seruan gencatan senjata pada November 1918. Untuk menuntaskan syarat perdamaian, para pemimpin sekutu sepakat untuk bertemu di Paris. Namun, setiap delegasi memiliki gagasannya sendiri tentang seperti apa perdamaian pascaperang. Prancis, yang paling menderita akibat perang, menginginkan hukuman yang berat bagi Jerman.
Sebaiknya Anda baca juga:
AS yang terlambat memasuki perang, menginginkan kesepakatan adil yang tidak akan membuat Jerman merasa sakit hati dan berpotensi membalas dendam. Inggris berada di antara keduanya. Italia, yang telah beralih dari kekuatan sentral menjadi kekuatan sekutu pada 1915, berharap mendapatkan sebagian wilayah dari sekutu Jerman yang kalah yaitu Austria-Hongaria.
Konferensi yang dimulai pada Januari 1919 ini penuh dengan komplikasi. Hanya Inggris dan Prancis yang menjadi sekutu sejak pecahnya perang. Sementara AS secara teknis ikut berperang di pihak sekutu. Sedangkan Russia yang telah menjadi sekutu sejak pecahnya perang tetapi telah meninggalkan perang pada Maret 1918.
Melalui Perjanjian Brest-Litovsk, Russia menyerahkan sebagian besar wilayahnya ke Jerman. Blok sentral tidak diikutsertakan dalam konferensi tersebut pada dasarnya akan dijanjikan "kemenangan" setelah perjanjian tersebut selesai dibuat.
Para Konferensi Perdamaian Paris, Presiden Wilson dengan idealismenya membawa serta rencana perdamaian pascaperang yang akan menguntungkan semua pihak. Dalam Empat Belas Poin, ia menyatakan semua pihak tidak boleh menerima perjanjian rahasia, kebebasan bernavigasi di laut lepas, dan pembentukan asosiasi umum negara-negara.
Di khalayak umum, terdapat dukungan kuat terhadap pembentukan asosiasi umum negara-negara, yang akan mengutamakan diplomasi dan mencegah perang di masa depan. Namun, para pemimpin sekutu lain di konferensi tersebut tak tertarik dengan idealisme Wilson.
Inggris, dengan angkatan laut kerajaan yang terkemuka di dunia, tidak tertarik dengan kebebasan bernavigasi oleh semua negara. Prancis menginginkan hukuman yang berat, khususnya pampasan perang, untuk Jerman, dan menganggap Wilson terlalu murah hati terhadap musuh yang kalah.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!