Langkah Tepat Menangani Gejala Postpartum Depression
📅 Minggu, 18 Des 2022, 14:01 WIB | Oleh: SulianaPostpartum depression mungkin disalahartikan sebagai baby blues syndrome pada awalnya. Akan tetapi, gejalanya yang lebih intens dan bertahan lebih lama pada akhirnya dapat mengganggu kemampuan orang tua untuk merawat bayi mereka dan bahkan kesulitan menangani tugas sehari-hari lainnya.
Gejala postpartum depression biasanya berkembang selama beberapa minggu pertama setelah melahirkan. Namun, pada sejumlah kasus, gejala depresi mungkin dimulai lebih awal, seperti selama kehamilan atau lebih lambat hingga satu tahun setelah lahir.
Hal yang paling penting untuk diketahui tentang postpartum depression adalah bahwa gangguan tersebut sangat dapat diobati dan bukan sesuatu yang perlu membuat Ibu atau Ayah merasa malu.
John Hopkins School of Medicine menyebut 98 persen orang tua yang mengalami postpartum depression cenderung merasa lebih baik usai menjalani pengobatan, bahkan dalam kasus psikosis postpartum yang paling parah.
Walau penelitian mengenai pencegahan gangguan suasana hati pasca persalinan masih jarang, salah satu penelitian menunjukkan bahwa orang tua dengan kualitas tidur yang baik memiliki tingkat postpartum depression yang lebih rendah.
Sebaiknya Anda baca juga:
Studi lain menunjukkan bahwa mengonsumsi antidepresan segera pada periode pasca persalinan dapat membantu mencegah perubahan suasana hati pada wanita dengan riwayat postpartum depression.
Lauren M. Osborne, Wakil Ketua Riset Klinis di Departemen Obstetri dan Ginekologi di Weill Cornell Medicine, Amerika, menuturkan tidur yang tepat dapat membuat perbedaan dalam mencegah gangguan suasana hati penyebab depresi.
"Jika saya melihat seorang wanita yang berisiko mengalami postpartum depression, saya meminta dia datang bersama pasangannya sehingga kami dapat membuat rencana proaktif untuk tidur," katanya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Senada, asisten profesor psikiatri di Fakultas Kedokteran Universitas Maryland, sekaligus psikiater reproduksi di Pusat Medis Universitas Maryland, Nicole Leistikow menuturkan selama dan terutama setelah kehamilan, orang tua khususnya Ibu menderita kurang tidur akut yang berlangsung selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Padahal pada periode inilah jendela biologis peningkatan risiko depresi terbuka lebar.
Atas dasar itu, Leistikow dalam tulisannya yang dimuat pada The Washington Post menyarankan pasangan orang tua untuk mengambil tanggung jawab secara bergantian dalam menjaga sang buah hati. Pastikan juga tidur yang dijalani berkualitas.
Gunakan kamar terpisah agar Anda tidak terbangun ketika mendengar bayi Anda sedang menangis dan ingatlah bahwa pasanganmu akan melakukan yang terbaik untuk menenangkannya. Apabila Ibu harus bangun untuk menyusui sang anak, maka kombinasikan metode menyusui dan memompa sehingga tidak mengganggu tidur.
Selain tidur, postpartum depression juga bisa diatasi dengan obat antidepresan seperti brexanolone, obat pertama yang disetujui oleh Food and Drug Administration (FDA) untuk mengatasi kondisi tersebut. Brexanolone diindikasikan untuk pengobatan depresi postpartum pada wanita dewasa.
Melansir John Hopkins School of Medicine, infus Brexanolone dapat meringankan kesusahan, kesedihan dan kecemasan selama postpartum depression pada beberapa orang.
Brexanolone diberikan sebagai infus di klinik atau rumah sakit selama dua atau tiga hari dengan pengamatan yang cermat karena dapat menyebabkan hilangnya kesadaran secara tiba-tiba pada beberapa orang.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!