Kuasai Nikel Dunia, Mengapa Ekonomi Indonesia Masih Sulit Tumbuh?
📅 Jumat, 17 Feb 2023, 18:07 WIB | Oleh: SulianaHilirisasi nikel di Indonesia manjadi sorotan usai Vlogger terkemuka Nas Daily menyinggung program hilirisasi nikel yang dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi).
Vlogger pemilik nama asli Nurseir Yassin bercerita bahwa Indonesia merupakan rumah bagi salah satu bahan baku mobil listrik, yakni nikel yang merupakan bahan baku baterai kendaraan bertenaga energi terbarukan itu.
"Tahukah Anda bahwa sebagian besar bahan baku produksi Tesla hanya dari satu negara dan Anda tidak akan pernah menebak negara mana. Bahan bakunya itu sangat sulit didapatkan, kira kira 25% nikel di dunia hanya ada di satu negara, selamat datang di Indonesia," ujarnya dalam video yang diunggah di Instagramnya, dikutip Rabu (15/2).
Lihat postingan ini di Instagram
Sebaiknya Anda baca juga:
Faktanya, Indonesia memang gudang nikel. Menurut Menteri Energi Sumber Daya dan Mineral (ESDM) Arifin Tasrif pada 2021, melaporkan 23 persen cadangan nikel dunia berada di Indonesia. Angka ini membawa Indonesia berada di peringkat nomor satu sebagai negara dengan cadangan nikel terbanyak di dunia, mengalahkan Australia dan Brazil.
Jika dibarengi dengan nikel limonite, Indonesia tercatat memiliki cadangan nikel sebesar 72 juta ton nikel. Menurut Booklet Nikel yang dirilis Kementerian ESDM pada 2020, berdasarkan data United States Geological Survey (USGS), jumlah cadangan nikel RI mencapai 52% dari total cadangan nikel dunia sebesar 139.419.000 ton nikel.
Dengan jumlah itu, Indonesia jauh meninggalkan Australia dengan cadangan nikel yang hanya mencapai 15%, membuatnya bertengger pada posisi kedua sebagai negara dengan cadangan nikel terbesar di dunia.
Sebaiknya Anda baca juga:
Disusul Brazil dengan 8%, dan Rusia 5%. Cadangan nikel yang dimiliki Indonesia bahkan melebihi gabungan cadangan nikel sejumlah negara lainnya seperti Filipina,Tiongkok, Kanada, dan lainnya yang hanya menguasai 20% cadangan nikel dunia.
Meski begitu, Nas Daily menyelipkan kritik yang berkaitan dengan perdagangan nikel Indonesia yang dinilainya merugikan negara ini. Pasalnya, Indonesia yang merupakan gudang nikel dunia, dahulu hanya mengekspor nikel mentah saja sehingga keuntungan yang diperoleh dari industri tersebut tidak memuaskan.
Sedangkan Eropa yang menerima nikel dari Indonesia mampu memperoleh keuntungan yang lebih besar berkat kemampuan mereka memproduksi mobil.
"Eropa menjual mobil untuk mendapatkan banyak uang, sedangkan negara pemilik nikel hanya mendapatkan sedikit uang. Perdagangan dunia ini rusak," lanjutnya.
Kutukan Sumber Daya Alam
Apa yang dijelaskan Nas Daily memberi sedikit gambaran mengenai sebuah fenomena ironis yang dikenal dengan istilah "kutukan sumber daya alam".
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!