Investasi Berdampak, Cara Strategis untuk Hadapi Tantangan Sosial dan Lingkungan
📅 Selasa, 14 Jan 2025, 20:05 WIB | Oleh: Haryo Brono
Doc: Istimewa
JAKARTA– Kerusakan lingkungan akibat praktik yang tidak bertanggung jawab telah mencapai tahap kritis, sementara ketidakadilan sosial-ekonomi terus memperburuk kualitas hidup banyak masyarakat. Kondisi ini menuntut langkah nyata yang tidak hanya menghentikan dampak buruk, tetapi juga mendorong perubahan positif.
Dalam situasi ini, diperlukan pendekatan strategis yang mampu menciptakan keseimbangan antara keuntungan bisnis dengan tanggung jawab terhadap masyarakat dan lingkungan. Salah satu instrumen unggulan dari pendekatan ini adalah investasi berdampak (impact investing), yang memungkinkan langkah konkret untuk memperbaiki kerusakan yang telah terjadi, mengurangi ketimpangan sosial, dan menciptakan keseimbangan baru.
Di Indonesia, tren investasi berdampak terus berkembang, sejalan dengan arus global yang menunjukkan pertumbuhan signifikan. Berdasarkan laporan Global Impact Investing Network (GIIN), sebanyak 88 persen investor berdampak melaporkan bahwa investasi mereka tidak hanya memenuhi atau melampaui ekspektasi keuntungan, tetapi juga memberi dampak sosial yang nyata.
“Dengan memprioritaskan manfaat sosial dan lingkungan jangka panjang, investasi berdampak menarik investor yang mencari lebih dari sekadar keuntungan finansial,” kata Fikri Syaryadi, pegiat dan investor berdampak melalui siaran pers pada hari Senin (1/1).
Ia menjelaskan lebih jauh bahwa investasi berdampak menawarkan pendekatan unik yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan finansial tetapi juga memberi solusi konkret terhadap isu-isu kritis di sektor sosial dan lingkungan. Investasi ini mencakup sektor-sektor seperti energi terbarukan, pertanian, kehutanan, perikanan, dan pengelolaan limbah.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Tujuannya bukan hanya investment return, tetapi juga social dan environmental return yang terukur. Berbeda dari donasi, investasi berdampak tetap menggunakan prinsip pasar dan keuangan untuk menjaga keberlanjutan usaha,” papar Fikri.
Krisis Lingkungan yang Genting di Indonesia
Indonesia tengah menghadapi kepemilikan lingkungan yang serius, mulai dari deforestasi hingga pengelolaan sumber daya alam yang kurang optimal. Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) mencatat bahwa Indonesia kehilangan hingga 26 juta ton ikan setiap tahun akibat praktik penangkapan ilegal.
Sebaiknya Anda baca juga:
Selain itu, data menunjukkan bahwa dalam satu tahun, deforestasi di Indonesia mencapai lebih dari 1.000 km persegi hampir setara dengan dua kali luas Kota Jakarta. Environmental Performance Index (EPI) 2024 menempatkan Indonesia di peringkat ke-162 dari 180 negara, dengan skor hanya 33,8 dari 100.
“Di Asia Tenggara, kita tertinggal dari negara-negara seperti Singapura, Thailand, dan Malaysia. Dalam menghadapi tantangan ini, investasi berdampak hadir sebagai kekuatan transformatif di Indonesia,” kata dia.
Tantangan Lokal
Pemerintah telah mengambil berbagai langkah untuk mendorong praktik bisnis berkelanjutan melalui kebijakan dan insentif. Data Australian Agency for International Development (AusAID) menunjukkan bahwa antara 2020-2022, 131 rancangan undang-undang (RUU) yang disahkan berhasil menarik investasi sebesar 1,5 miliar dollar AS atau 23,08 triliun rupiah, menciptakan peluang usaha baru serta solusi untuk masalah sosial dan lingkungan.
“Namun, keterbatasan anggaran pemerintah menjadikan investasi berdampak sebagai katalis penting untuk memperbesar skala solusi lokal yang relevan,” ungkapanya.
Indonesia memiliki peluang potensi besar untuk investasi yang mendorong pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB). Hal ini didorong sebagai salah satu negara dengan dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di Asia Tenggara, populasi lebih dari 270 juta, sumber daya alam melimpah, dan ekosistem kewirausahaan dinamis.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!