Cangkok Jantung Babi Kepada Manusia Kedua Berhasil Dilakukan
📅 Senin, 02 Okt 2023, 06:10 WIB | Oleh: Haryo Brono
Doc: University of Maryland School of Medicine
Untuk kedua kali kalinya Universitas Maryland melakukan cangkok jantung babi ke manusia. Melalui persetujuan khusus oleh FDA, xenotransplantasi berhasil dilakukan kepada pasien penyakit jantung yang mengalami gangguan pada pembuluh darah perifer.
Setelah melakukan cangkok jantung jantung babi kepada manusia untuk pertama kalinya di dunia pada pada 2022, Fakultas Kedokteran Universitas Maryland (UMMC) kembali melakukannya untuk kali kedua. Cangkok jantung babi ke manusia atau disebut xenotransplantasi ini dilakukan pada 20 September 2023 lalu.
Tim xenotransplantasi melakukan cangkok jantung babi kedua kepada Lawrence Faucette yang berusia 58 tahun. Ia dianggap sebagai pasien yang tidak memenuhi syarat untuk transplantasi jantung tradisional, karena mengalami gangguan pada pembuluh darah perifer yang parah yang menimbulkan komplikasi perdarahan internal.
"Ia sedang dalam masa pemulihan dan berkomunikasi dengan orang-orang yang dicintainya," tulis laman laman University of Maryland School of Medicine. "Dia saat ini bernapas sendiri, dan jantungnya berfungsi dengan baik tanpa bantuan alat pendukung," lanjut laman ini.
Xenotransplantasi ini dilakukan mencangkok jantung babi hasil rekayasa genetika ke pasien yang masih hidup. Kedua operasi bersejarah tersebut dilakukan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Maryland (UMSOM) di Pusat Medis Universitas Maryland (UMMC).
Sebaiknya Anda baca juga:
Cangkok organ jenis ini adalah satu-satunya pilihan yang tersedia bagi Faucette yang hampir pasti menghadapi kematian akibat gagal jantung. Pasien, yang tinggal di Frederick, MD, adalah ayah dua anak yang sudah menikah. Ia merupakan seorang veteran Angkatan Laut, selama 20 tahun dan terakhir bekerja sebagai teknisi laboratorium di Institut Kesehatan Nasional sebelum pensiun.
"Satu-satunya harapan saya yang tersisa adalah menjalani cangkok jantung babi atau xenotransplantasi," kata Faucette saat wawancara dari kamar rumah sakitnya beberapa hari sebelum operasinya. "Dr Griffith, dan Dr Mohiuddin, serta seluruh staf mereka sungguh luar biasa, tetapi tidak ada yang tahu sejak saat ini. Setidaknya sekarang saya punya harapan, dan saya punya kesempatan," kata dia.
Dalam wawancara itu istrinya, Ann Faucette menambahkan: "Kami tidak memiliki harapan selain berharap untuk lebih banyak waktu bersama," ucap dia.
Sebaiknya Anda baca juga:
Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA) Amerika Serikat memberi persetujuan darurat untuk operasi tersebut Jumat tanggal 15 September 2023 melalui jalur "alasan belas kasih" (compassionate use) bagi obat baru yang diselidiki untuk pasien tunggal (IND).
Proses persetujuan ini digunakan ketika produk medis eksperimental, dalam hal ini jantung babi yang dimodifikasi secara genetik, merupakan satu-satunya pilihan yang tersedia bagi pasien yang menghadapi kondisi medis serius atau mengancam jiwa. Persetujuan tersebut diberikan dengan harapan dapat menyelamatkan nyawa pasien.
"Kami sekali lagi menawarkan pasien yang sekarat kesempatan untuk hidup lebih lama, dan kami sangat berterima kasih kepada Faucette atas keberanian dan kesediaannya untuk membantu memajukan pengetahuan kami di bidang ini," kata Bartley P Griffith, MD, yang melakukan pembedahan mentransplantasikan jantung babi ke pasien pertama dan kedua di UMMC.
Griffith adalah profesor kehormatan di institusi Thomas E and Alice Marie Hales dalam Bedah Transplantasi dan Direktur Klinis Program Xenotransplantasi Jantung di UMSOM. "Kami berharap dia segera pulang untuk menikmati lebih banyak waktu bersama istri dan seluruh keluarga tercintanya," tutur dia.
Dianggap sebagai salah satu pakar xenotransplantasi terkemuka di dunia, Muhammad M Mohiuddin, MD, profesor bedah di UMSOM, bergabung dengan fakultas UMSOM tujuh tahun lalu. Keduanya lalu mendirikan program xenotransplantasi jantung. Pada program ini, Mohiuddin menjabat sebagai direktur program/ilmiah program tersebut, ia memimpin prosedur ini bersama Dr Griffith.
"Kami terus menempuh jalur uji klinis dengan menyediakan data penting baru mengenai penelitian praklinis yang telah diminta oleh FDA," kata Dr Mohiuddin. "FDA menggunakan data kami dari penelitian baru ini, serta pengalaman kami dengan pasien pertama, untuk menentukan bahwa kami siap melakukan transplantasi kedua pada pasien penyakit jantung stadium akhir yang tidak memiliki pilihan pengobatan lain," imbuh dia.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!