Ekspansi Industri Harus Berikan Dampak Lebih Luas terhadap Daya Beli

Selasa, 03 Nov 2026, 03:05 WIB

JAKARTA - Aktivitas industri manufaktur Indonesia menunjukkan penguatan di tengah tekanan ekonomi. Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada Oktober 2026 mencapai 54,0, meningkat dari 52,4 pada September. Capaian tersebut menjadi level tertinggi dalam 31 bulan terakhir sekaligus mencerminkan ekspansi manufaktur terkuat sejak Maret 2024.

Berdasarkan laporan S&P Global yang dirilis Senin (2/11), kenaikan PMI menunjukkan aktivitas bisnis sektor manufaktur semakin ekspansif. Posisi Indonesia juga melampaui sejumlah negara Asia Pasifik, seperti Jepang sebesar 53,3, Vietnam 52,3, Tiongkok 52,0, Korea Selatan 51,3, Malaysia 51,0, dan Australia 49,6.

Ket. Foto: Aktivitas industri manufaktur Indonesia — Sumber: antara

Direktur Masyarakat Ekonomi Politik Indonesia (MEPI), Iyuk Wahyudi, menilai peningkatan PMI tersebut merupakan sinyal positif bagi aktivitas industri nasional. Namun, capaian itu belum cukup untuk menyimpulkan bahwa seluruh persoalan sektor manufaktur telah teratasi.

Menurut dia, keberlanjutan ekspansi perlu diuji melalui perkembangan pesanan, produksi, dan investasi dalam beberapa bulan mendatang. Pasalnya, PMI menggambarkan perubahan kondisi usaha dibandingkan bulan sebelumnya sehingga perlu dibaca bersama indikator lain, seperti utilisasi kapasitas produksi, penyerapan tenaga kerja, dan perkembangan upah.

Iyuk juga menyoroti terbatasnya penambahan tenaga kerja di tengah penguatan produksi manufaktur. Kondisi tersebut perlu dicermati untuk mengetahui apakah perusahaan masih mengoptimalkan kapasitas dan pekerja yang tersedia atau belum cukup yakin terhadap kesinambungan permintaan untuk melakukan perekrutan lebih besar.

Dia mengingatkan, posisi PMI Indonesia yang lebih tinggi dibandingkan sejumlah negara kawasan tidak serta-merta menunjukkan daya saing industri nasional lebih unggul. Daya saing tetap ditentukan produktivitas, biaya energi dan logistik, kepastian kebijakan, serta kemampuan menghasilkan produk bernilai tambah.

Oleh sebab itu, Pemerintah perlu memanfaatkan momentum penguatan PMI untuk memperbaiki fondasi industri, menjaga permintaan, mengatasi hambatan produksi, dan mendorong investasi yang mampu menciptakan pekerjaan layak. Dengan demikian, ekspansi manufaktur dapat memberikan dampak lebih luas terhadap pendapatan dan daya beli masyarakat.

Masih Rentan

Sementara itu, Dosen Magister Ekonomi Terapan Unika Atma Jaya, YB Suhartoko, mengatakan PMI merupakan indikator kesehatan aktivitas bisnis sektor manufaktur. Indeks tersebut menggunakan skala 0–100, dengan angka di atas 50 menunjukkan aktivitas ekonomi berada di zona ekspansi.

“PMI angkanya 0-100. Di atas 50 berarti pada kondisi ekspansi perekonomiannya. Nilai PMI 54 walaupun pada kondisi ekspansi, namun masih pada tahap awal dan masih ada potensi turun pada bulan berikutnya jika ada gejolak atau shocks negatif,” kata Suhartoko.

Dia menjelaskan, komponen utama PMI meliputi pesanan baru, tingkat produksi, penyerapan tenaga kerja, pengiriman pemasok, dan persediaan barang. Penguatan manufaktur Indonesia saat ini ditopang peningkatan permintaan domestik, lonjakan ekspor, serta peluncuran produk baru.

Meski demikian, Suhartoko menilai ekspansi tersebut masih rentan karena permintaan domestik sangat ditopang belanja pemerintah. Oleh sebab itu, kesinambungan fiskal perlu dijaga agar pengeluaran pemerintah tetap dapat mendukung pertumbuhan ekonomi.

“Daya beli masyarakat bisa ditingkatkan jika pasar tenaga kerja dapat menyerap tenaga kerja pada pekerjaan yang berkualitas,” katanya.

Mengacu pada survei Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Universitas Indonesia, Suhartoko menyebut proporsi pekerja paruh waktu dan sektor informal masih cukup besar meskipun mayoritas tenaga kerja bekerja penuh waktu. Sebab itu, penciptaan lapangan kerja perlu disertai peningkatan kualitas pekerjaan dan upah.

Dari Surabaya, Pengamat Ekonomi Universitas Wijaya Kusuma Surabaya, Ermatry Hariani, menilai kenaikan PMI menjadi sinyal positif bagi pemulihan dan penguatan industri nasional. Peningkatan tersebut menunjukkan aktivitas produksi semakin bergairah seiring membaiknya permintaan dan kegiatan bisnis.

Posisi PMI Indonesia yang melampaui sejumlah negara Asia Pasifik juga dapat menjadi modal untuk meningkatkan kepercayaan investor terhadap prospek industri nasional.

  • Daya Beli Masyarakat

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: Eko S, Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini, Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.