Defisit Transaksi Berjalan Membengkak, Rupiah Terancam Kian Tertekan

Selasa, 03 Nov 2026, 03:15 WIB

» Stabilitas rupiah tidak hanya bergantung pada perkembangan dollar AS, tetapi juga pada kemampuan ekonomi nasional menjaga keseimbangan eksternal dan memperkuat sumber penerimaan devisa.

Jakarta - Pelebaran defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) menjadi salah satu risiko domestik yang dapat memperbesar tekanan terhadap rupiah. Penyusutan surplus perdagangan, kuatnya pertumbuhan impor, serta potensi penurunan cadangan devisa menunjukkan bahwa ketahanan eksternal Indonesia menghadapi tantangan yang harus diwaspadai.

Ket. Foto: Faisal Rachman Head of Macroeconomic & Financial Market Research Permata Bank - Tren penurunan tersebut diperkirakan berlanjut pada 2027, dengan cadangan devisa diproyeksikan tetap berada di bawah tekanan pada kisaran 141-145 miliar dollar AS. — Sumber: antara

Head of Macroeconomic & Financial Market Research Permata Bank Faisal Rachman menilai tekanan terhadap rupiah tidak hanya dipengaruhi gejolak global, tetapi juga kondisi fundamental dalam negeri, terutama melemahnya kinerja perdagangan dan meningkatnya kebutuhan pembiayaan dari luar negeri.

"Faktor-faktor tersebut dapat semakin memperkuat sentimen risk-off dan memicu arus modal keluar (capital outflows) lebih lanjut," kata Faisal, sebagaimana diberitakan Antara di Jakarta, Senin (2/11).

Tim ekonom Permata Bank memperkirakan CAD melebar menjadi 2,49 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) pada 2026, dibandingkan 0,09 persen pada 2025. Defisit tersebut diproyeksikan tetap di kisaran 2,49 persen terhadap PDB pada 2027.

Faisal mengingatkan pelebaran CAD yang disertai perubahan arus investasi portofolio menjadi arus keluar bersih (net outflows) dalam neraca pembayaran Indonesia berpotensi menekan cadangan devisa.

Permata Bank memperkirakan cadangan devisa turun menjadi 143-147 miliar dollar AS pada akhir 2026, dari 156,47 miliar dollar AS pada akhir 2025. Pada 2027, cadangan devisa diproyeksikan berada di kisaran 141-145 miliar dollar AS.

"Tren penurunan tersebut diperkirakan berlanjut pada 2027, dengan cadangan devisa diproyeksikan tetap berada di bawah tekanan pada kisaran 141-145 miliar dollar AS," kata dia.

Tekanan eksternal tersebut muncul ketika surplus perdagangan Indonesia menyusut tajam. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), neraca perdagangan September 2026 mencatat surplus 3,36 miliar dollar AS. Namun, secara kumulatif surplus Januari-September 2026 hanya mencapai 10,61 miliar dollar AS, jauh lebih rendah dibandingkan 33,54 miliar dollar AS pada periode yang sama tahun sebelumnya.

"Kami masih melihat adanya risiko penurunan kinerja neraca perdagangan Indonesia hingga akhir 2026 dan sepanjang 2027. Risiko tersebut didorong oleh pertumbuhan impor yang tetap kuat serta kondisi ekspor yang penuh tantangan," kata Faisal.

Kenaikan Suku Bunga

Dari sisi moneter, Permata Bank memperkirakan Bank Indonesia (BI) menaikkan BI-Rate satu kali menjadi 6,00 persen sebelum akhir 2026 dan mempertahankannya sepanjang 2027.

"Namun, apabila ketidakpastian eksternal dan domestik meningkat secara signifikan, kami melihat adanya ruang bagi kenaikan suku bunga tambahan setidaknya sebesar 50 basis poin (bps) pada 2027," kata Faisal.

Permata Bank memperkirakan rupiah berada di kisaran 18.200-18.400 rupiah per dollar AS. Risiko pelemahan diperkirakan berlanjut pada 2027, bahkan kemungkinan menembus 19.000 rupiah per dollar AS dinilai meningkat.

Pada penutupan perdagangan Senin, rupiah melemah 9 poin atau 0,05 persen menjadi 18.156 rupiah per dollar AS dari posisi sebelumnya 18.147 rupiah per dollar AS.

Analis mata uang sekaligus Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuabi mengatakan surplus perdagangan September ditopang ekspor sebesar 27,59 miliar dollar AS dan impor 24,23 miliar dollar AS. Kenaikan harga minyak turut meningkatkan nilai impor Indonesia.

“Surplus perdagangan sebesar 3,36 miliar menjadi sentimen positif bagi fundamental ekonomi Indonesia dan berpotensi mendukung rupiah. Namun, pasar tetap perlu mencermati kualitas pertumbuhan ekspor, perkembangan impor, serta arus modal asing. Sebab, surplus perdagangan yang kuat belum tentu secara langsung membuat rupiah menguat apabila tekanan dari dollar AS dan faktor eksternal masih tinggi,” ungkapnya.

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Eko S, Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.