Protes Sistem Pendidikan, Para Siswa di Prancis Kembali Blokade Sekolah

Selasa, 03 Nov 2026, 03:10 WIB

PARIS - Gelombang demonstrasi pelajar sekolah menengah di Prancis kembali meluas dengan aksi blokade di sejumlah kota, termasuk Paris, Lyon, Rennes, Marseille, dan Ivry-sur-Seine. Para siswa menuntut perbaikan kondisi sekolah, penambahan tenaga pengajar, serta reformasi sistem penerimaan mahasiswa di perguruan tinggi.

Penyiar BFMTV melaporkan, aksi blokade mulai berlangsung pada Senin setelah Ketua Serikat Siswa Sekolah Menengah Pierre Sourzat menyerukan mobilisasi terhadap institusi pendidikan pada 1 November. Ia juga mengumumkan rangkaian demonstrasi awal pekan ini dengan puncak aksi blokade diperkirakan berlangsung mulai Selasa.

Ket. Foto: Aksi demo di depan SMA Internasional Montebello di Lille, Prancis. — Sumber: Francois LO PRESTI/AFP

Di Paris, para siswa memblokade Lycee Helene Boucher. Aksi serupa terjadi di sejumlah sekolah di Lyon, Rennes, Marseille, dan Ivry-sur-Seine. Di Paris dan Marseille, para demonstran dilaporkan membarikade pintu masuk sekolah menggunakan tempat sampah untuk menghalangi akses ke gedung.

Gelombang protes tersebut merupakan bagian dari demonstrasi yang telah berlangsung sejak pertengahan September. Saat itu, siswa sekolah menengah dan mahasiswa turun ke jalan di kawasan pinggiran Paris untuk menyuarakan ketidakpuasan terhadap sistem pendidikan dan kondisi sekolah.

Aksi kemudian meluas setelah para pelajar bergabung dengan kelompok masyarakat yang memprotes kenaikan biaya hidup. Mobilisasi tersebut berkembang menjadi gerakan demonstrasi di berbagai wilayah Prancis.

Generasi Z

Demonstrasi terbesar sejauh ini berlangsung pada 17 Oktober. Berdasarkan data Kementerian Dalam Negeri Prancis, sekitar 550.000 orang mengikuti aksi pada hari tersebut. Dalam sejumlah demonstrasi sebelumnya, aparat keamanan menggunakan gas air mata, granat kejut, dan meriam air untuk membubarkan massa.

France 24 melaporkan, gelombang protes yang dikenal sebagai gerakan “Generasi Z” juga melanda sejumlah negara Eropa, termasuk Jerman, Italia, Belgia, dan Albania. Aksi-aksi tersebut dipicu berbagai persoalan, mulai dari biaya hidup, buruknya kondisi pendidikan, hingga dugaan korupsi.

Di Prancis, demonstrasi bulan lalu bahkan berujung pada bentrokan dengan polisi dan kerusuhan di beberapa kota, disertai penjarahan toko. Situasi tersebut menjadi ujian bagi pemerintahan minoritas Presiden Emmanuel Macron.

Menteri Pendidikan Prancis Edouard Geffray menyatakan, aksi blokade sekolah masih tergolong terbatas. Ia mengatakan kepada radio France Inter pada Senin bahwa hanya sejumlah kecil sekolah yang terdampak.

Menurut Geffray, demonstrasi merupakan hak siswa, tetapi tindakan menghalangi akses ke sekolah melanggar hukum. Rekaman televisi menunjukkan aparat kepolisian telah ditempatkan di lokasi aksi, meskipun sebagian petugas tidak mengenakan perlengkapan antihuru-hara lengkap.

  • Gelombang demonstrasi

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.