Dari Kapuas Hulu ke Jakarta Fashion Week, Tenun Iban Perluas Pasar
Sabtu, 31 Okt 2026, 20:35 WIB | Oleh: Haryo BronoMembuka Akses Pasar Melalui Pendopo
Selain pelatihan dan pengembangan produk, akses pasar menjadi aspek penting dalam keberlanjutan usaha para penenun. Yayasan Kawan Lama menjembatani hasil produksi komunitas dengan pasar melalui Pendopo, kanal ritel yang memasarkan produk berbasis budaya lokal.
Hingga 2026, sebanyak 29 motif kain tenun Iban telah tersedia melalui Pendopo. Pemasaran melalui jaringan ritel tersebut menjadi salah satu cara mempertemukan produk penenun dengan konsumen di luar wilayah asalnya.
Sementara itu, kolaborasi dengan Cita Tenun Indonesia dan Wilsen Willim dalam Jakarta Fashion Week 2027 memberikan ruang bagi tenun Iban untuk diolah menjadi busana kontemporer. Sebanyak 15 rancangan yang ditampilkan mengangkat karakter tenun Dayak Iban, termasuk teknik Sidan dan Pileh.
Sebaiknya Anda baca juga:
Penggunaan kain tradisional dalam rancangan busana modern juga memperlihatkan kemungkinan pengembangan produk tanpa harus melepaskan identitas budaya asalnya. Tenun tidak hanya diposisikan sebagai kain untuk kebutuhan adat, tetapi juga sebagai bahan yang dapat masuk ke pasar fesyen dengan karakter dan nilai budaya tersendiri.
Bagi komunitas penenun, perluasan pasar menjadi faktor penting karena keberlanjutan tradisi juga berkaitan dengan kemampuan menghasilkan pendapatan. Semakin luas akses pemasaran, semakin besar pula peluang produk tenun untuk memiliki nilai ekonomi yang dapat mendukung kehidupan para pembuatnya.
Menjaga Tradisi Melalui Penguatan Komunitas
Yayasan Kawan Lama berencana memperluas sinergi dengan berbagai pihak, termasuk institusi pendidikan setempat, untuk mendukung keberlanjutan program. Kolaborasi tersebut diarahkan agar penenun memiliki kemampuan lebih kuat dalam mengembangkan usaha sekaligus mewariskan keterampilan kepada generasi berikutnya.
Tasya mengatakan keberhasilan program tidak hanya diukur dari terjaganya motif dan teknik tenun, tetapi juga dari manfaat ekonomi yang dapat dirasakan oleh perempuan penenun dan keluarganya.
Melalui penguatan keterampilan, pengembangan produk, dan perluasan akses pasar, para penenun diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan sekaligus mempertahankan tradisi yang menjadi identitas komunitas Dayak Iban.
“Bagi kami, keberhasilan program Aram Bekelala Tenun Iban bukan hanya tentang menjaga warisan budaya, tetapi juga memastikan bahwa para perempuan penenun dapat merasakan manfaat nyata dari keterampilan yang mereka miliki. Kami berharap, melalui penguatan kapasitas, pengembangan produk, dan perluasan akses pasar, para indai dapat terus mengembangkan usaha, meningkatkan kesejahteraan keluarga, serta membangun kemandirian komunitasnya,” ujar Tasya.
Keterlibatan tenun Dayak Iban dalam Jakarta Fashion Week 2027 menjadi salah satu jalur untuk memperluas pengenalan warisan budaya tersebut. Pada saat yang sama, peningkatan pendapatan dan penguatan kapasitas penenun memperlihatkan bahwa pelestarian tradisi dapat berjalan beriringan dengan pengembangan ekonomi komunitas.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!