Tak Hanya Maskapai, Ini Ragam Bisnis Para Konglomerat Aviasi Indonesia
📅 Rabu, 21 Okt 2026, 21:16 WIB | Oleh: Mohammad Zaki AlatasPada Juni 2026, Whitesky bersama SkyDrive memperkenalkan teknologi eVTOL di Cengkareng Heliport dan mengumumkan pemesanan 30 unit pesawat listrik tersebut. Pada Agustus, perusahaan menyampaikan target pengembangan hingga 200 unit eVTOL sampai 2036. Keduanya merupakan bagian dari rencana pengembangan yang masih membutuhkan kesiapan operasional, regulasi, dan pasar.
Dari sisi diversifikasi, perkembangan ini menarik karena memperluas cakupan peluang bisnis di luar pengoperasian helikopter. Pengembangan ekosistem AAM dapat melibatkan penyediaan infrastruktur, teknologi pengisian daya, pemeliharaan, pelatihan, pembiayaan, dan kemitraan dengan produsen pesawat.
Pada September 2026, Whitesky juga menjajaki mitra strategis di China, Hong Kong, Jepang, dan Korea Selatan untuk mendukung pengembangan teknologi, pendanaan, serta infrastruktur.
Meski demikian, potensi bisnis tersebut tidak berarti seluruh segmen telah mencapai tahap komersial yang matang. Kesiapan regulasi, sertifikasi pesawat, standar keselamatan, infrastruktur, dan permintaan pasar akan menjadi faktor penting dalam menentukan perkembangannya.
Denon merepresentasikan pendekatan diversifikasi yang berangkat dari layanan penerbangan khusus dan infrastruktur menuju peluang teknologi mobilitas udara masa depan.
Susi Pudjiastuti: Penerbangan Perintis dan Layanan Udara Khusus
Susi Pudjiastuti membangun Susi Air, perusahaan penerbangan yang didirikan pada 2004. Perusahaan tersebut memulai operasinya dengan dua pesawat dan pada awalnya melayani penerbangan carter untuk mendukung kebutuhan organisasi kemanusiaan setelah bencana di Aceh.
Seiring waktu, Susi Air memperluas layanan ke penerbangan terjadwal dan berbagai rute di Indonesia. Perusahaan ini dikenal dengan operasinya yang menjangkau wilayah-wilayah yang memiliki keterbatasan akses transportasi darat.
Model bisnis penerbangan perintis memiliki kebutuhan operasional yang berbeda dari maskapai yang melayani rute padat penumpang. Pemilihan pesawat, kondisi landasan, jarak antarlokasi, cuaca, serta karakteristik permintaan menjadi pertimbangan penting dalam menjalankan layanan.
Penerbangan perintis juga berkaitan dengan kebutuhan konektivitas wilayah. Di sejumlah daerah, layanan udara membantu menghubungkan masyarakat dengan pusat ekonomi, layanan kesehatan, pendidikan, dan transportasi lanjutan.
Dari perspektif bisnis, segmen ini menunjukkan bahwa peluang penerbangan dapat tumbuh dari kebutuhan yang tidak selalu dilayani oleh pasar komersial arus utama. Namun, operasinya tetap membutuhkan pengelolaan biaya, keselamatan, dan kesiapan infrastruktur yang cermat.
Susi Pudjiastuti merepresentasikan model bisnis aviasi yang berfokus pada penerbangan perintis, layanan carter, dan konektivitas wilayah dengan karakteristik geografis khusus.
Chandra Lie: Bisnis Maskapai dan Jaringan Penerbangan Komersial
Chandra Lie dikenal sebagai pendiri Sriwijaya Air, maskapai yang mulai beroperasi pada 2003. Perusahaan tersebut menjadi bagian dari perkembangan pasar penerbangan komersial Indonesia.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!