Studi IHDC: 68,5 Persen Siswa di SD Jakarta Mengalami Kesulitan Kognitif Harian
📅 Senin, 19 Okt 2026, 17:05 WIB | Oleh: Haryo BronoJAKARTA — Sebanyak 68,5 persen dari 1.007 siswa sekolah dasar di empat sekolah dasar negeri (SDN) di Jakarta masuk dalam kategori fungsi kognitif sehari-hari kurang baik. Temuan studi Indonesia Health Development Center (IHDC) tersebut juga menunjukkan adanya hubungan antara risiko gangguan penglihatan dan masalah kesehatan jiwa dengan kesulitan kognitif pada anak.
Studi yang dilakukan melalui program pengabdian masyarakat itu melibatkan siswa berusia 9–14 tahun. Penelitian mencakup pemeriksaan penglihatan, penilaian asupan gizi, serta skrining kesehatan jiwa dan perilaku untuk mengidentifikasi berbagai faktor yang berkaitan dengan kemampuan anak dalam menjalani aktivitas belajar sehari-hari.
Selain itu, sebanyak 49,3 persen peserta memiliki skor harapan masa depan yang rendah. Penilaian ini mengukur keyakinan anak dalam berusaha dan menemukan jalan untuk mencapai tujuan, bukan sekadar cita-cita atau kemampuan membayangkan masa depan.
Pendiri sekaligus Ketua Dewan Pembina IHDC—yang juga Menteri Kesehatan RI periode 2014–2019—Prof. Nila F. Moeloek, menegaskan bahwa kesehatan anak perlu menjadi bagian krusial dalam agenda pendidikan dan pembangunan sumber daya manusia (SDM).
“Indonesia Emas 2045 dimulai dari anak-anak yang duduk di bangku sekolah hari ini. Kita perlu memastikan mereka dapat melihat dengan jelas, belajar dengan tenang, dan memiliki keyakinan untuk meraih masa depan. Kesehatan anak harus menjadi bagian dari agenda pendidikan dan pembangunan bangsa,” ujar Prof. Nila dalam pemaparan hasil penelitian bertajuk Determinan Perkembangan Kognitif dan Imajinasi Anak Usia Sekolah di DKI Jakarta Tahun 2026, di Jakarta, Senin (19/10/2026).
Ia menilai temuan tersebut perlu ditindaklanjuti melalui kerja sama erat antara sektor kesehatan dan pendidikan agar hambatan belajar anak dapat dikenali dan ditangani sejak dini.
Direktur Eksekutif IHDC sekaligus Ketua Tim Peneliti, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, menjelaskan bahwa fungsi kognitif sehari-hari mencakup kemampuan memusatkan perhatian, mengingat informasi, dan mengolah materi yang dipelajari. Kesulitan pada aspek tersebut dapat terlihat dalam aktivitas belajar sehari-hari, tetapi memerlukan penelaahan lebih jauh untuk mengetahui kebutuhan spesifik masing-masing anak.
Pemeriksaan refraksi dalam studi ini menemukan 303 siswa (sekitar 30 persen peserta) mengalami gangguan refraksi yang memerlukan koreksi penglihatan. Kondisi ini menjadi salah satu aspek utama yang disoroti karena kemampuan melihat materi pelajaran secara jelas sangat memengaruhi keterlibatan anak dalam belajar.
“Anak yang sulit fokus perlu diperiksa, bukan buru-buru dicap malas. Kesulitan melihat materi pelajaran atau kecemasan yang tidak tertangani dapat berkaitan langsung dengan kesulitan belajar sehari-hari. Temuan ini mengajak orang tua dan guru melihat kebutuhan kesehatan di balik perilaku anak di kelas,” jelas Ray.
Analisis penelitian menunjukkan bahwa siswa dalam kelompok dengan risiko gangguan penglihatan sedang hingga tinggi memiliki peluang (odds) mengalami fungsi kognitif harian kurang baik sebesar 3,1 kali dibandingkan kelompok berisiko rendah atau tanpa risiko.
Hubungan serupa ditemukan pada aspek kesehatan jiwa. Siswa dengan risiko ansietas tinggi memiliki odds mengalami fungsi kognitif harian kurang baik sebesar 3,3 kali, sedangkan siswa dengan risiko depresi tinggi memiliki odds sebesar 2,5 kali dibandingkan kelompok pembanding.
Meski demikian, tim peneliti menegaskan angka-angka tersebut menunjukkan hubungan statistik dan tidak membuktikan hubungan sebab-akibat (cause-and-effect). Menggunakan desain potong lintang (cross-sectional), studi ini tidak dapat memastikan apakah faktor-faktor tersebut mendahului kesulitan kognitif atau bagaimana dinamika keduanya berkembang dari waktu ke waktu. Hasil skrining kesehatan jiwa ini juga bukan diagnosis klinis sehingga tetap memerlukan penilaian medis profesional lebih lanjut.
“Yang kita temukan adalah hubungan yang perlu ditindaklanjuti. Studi ini tidak membuktikan bahwa penglihatan atau kecemasan menjadi penyebab tunggal kesulitan kognitif. Namun, temuan tersebut memberi arah yang jelas untuk pemeriksaan dan pendampingan anak,” tambah Ray.
Penelitian ini turut melibatkan Dr. Kianti Raisa Darusman, Dr. Levina Chandra Khoe, dan Bunga Pelangi, MKM. Tim mengukur fungsi kognitif sehari-hari menggunakan instrumen PedsQL Cognitive Functioning Scale dan menilai harapan anak menggunakan Children’s Hope Scale.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!