IMF Peringatkan Negara Miskin Rentan Guncangan Energi

Rabu, 14 Okt 2026, 01:00 WIB

BANGKOK – Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan pertumbuhan ekonomi global pada 2026 melambat lebih kecil dari proyeksi sebelumnya berkat ketahanan negara-negara maju menghadapi kenaikan harga energi akibat perang. Namun, lembaga tersebut memperingatkan negara-negara berpendapatan rendah tetap rentan terhadap guncangan pasokan.

Dilansir dari AFP, dalam laporan World Economic Outlook (WEO) yang dirilis pada Selasa (13/10) di Bangkok, IMF menaikkan proyeksi pertumbuhan global 2026 sebesar 0,1 poin persentase menjadi 3,1 persen, dibandingkan 3,5 persen pada 2025.

Ket. Foto: Kepala Ekonom IMF, Silvana Tenreyro — Sumber: AFP/Lillian SUWANRUMPHA

Kepala Ekonom IMF Silvana Tenreyro mengatakan perekonomian dunia masih menunjukkan ketahanan, tetapi tekanan semakin meningkat dan risiko pertumbuhan cenderung mengarah ke bawah.

Perang AS terhadap Iran yang dimulai pada Februari telah memicu kekerasan di Timur Tengah dan mendorong kenaikan harga energi global. Harga produk minyak olahan masih berada 70–95 persen di atas tingkat sebelum perang, menekan negara-negara yang bergantung pada impor energi.

Tenreyro memperingatkan konflik berkepanjangan dapat semakin mendorong inflasi dan memperlambat pertumbuhan. Menurut IMF, negara-negara pengimpor energi yang tidak menikmati lonjakan investasi kecerdasan buatan (AI) menjadi kelompok paling rentan.

Dalam laporan tersebut, IMF menggambarkan perekonomian dunia yang semakin terfragmentasi akibat dua kekuatan utama, yakni perang Iran dan pesatnya perkembangan teknologi AI. Konflik berkepanjangan berisiko meningkatkan inflasi, membebani keuangan pemerintah, dan memperburuk posisi eksternal negara-negara berpendapatan rendah. Sementara itu, perubahan ekspektasi terhadap keuntungan dan produktivitas AI dapat menghambat investasi serta memperketat kondisi keuangan.

Dampak konflik terlihat pada proyeksi kawasan Timur Tengah dan Asia Tengah, yang diperkirakan mengalami kontraksi ekonomi 0,3 persen pada 2026. Arab Saudi bahkan diproyeksikan mengalami kontraksi 3,3 persen, turun 5 poin persentase dari perkiraan sebelumnya.

IMF memperkirakan kawasan tersebut dapat pulih cepat setelah perang berakhir. Namun, ketidakpastian mengenai waktu berakhirnya konflik masih tinggi.

Sebaliknya, perekonomian negara-negara maju diproyeksikan tumbuh 2,1 persen pada 2026. Negara-negara dalam rantai pasokan AI, seperti Taiwan dan Korea Selatan, diperkirakan mencatat pertumbuhan lebih tinggi.

Pertumbuhan ekonomi Tiongkok diperkirakan melambat 0,5 poin persentase menjadi 4,5 persen, terutama akibat lemahnya permintaan domestik. Sementara itu, inflasi global diproyeksikan meningkat menjadi 4,7 persen pada 2026 di tengah tekanan perang dan perkembangan pesat AI.

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Eko S, Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.