Presiden Prabowo Turun ke Sawah di Gorontalo, Saksikan Langsung Cara Tanam Petani di PENAS KTNA XVII.
Minggu, 28 Jun 2026, 10:05 WIBDi tengah hamparan sawah di Kabupaten Gorontalo, Rabu (24/6), Presiden Prabowo Subianto tidak cukup berdiri di atas panggung memberi pidato kepada ribuan petani dan nelayan yang menghadiri Pekan Nasional (PENAS) KTNA XVII. Ia memilih turun langsung ke petak sawah, menyaksikan cara tanam yang berbeda dari praktik yang selama ini lazim diterapkan di sebagian besar lahan pertanian Indonesia.
Di lokasi itu, Prabowo melihat demonstrasi Pertanian Modern-Advanced Agriculture System (PM-AAS), sebuah pendekatan budi daya yang sedang dikembangkan Kementerian Pertanian untuk meningkatkan produktivitas padi. Nama sistem tersebut mungkin belum akrab di telinga banyak petani. Namun, angka yang menyertainya cukup menarik perhatian. Dari produktivitas rata-rata sekitar lima hingga enam ton gabah per hektare, PM-AAS diklaim mampu mendorong hasil panen hingga lebih dari 10 ton, bahkan mencapai 12,4 ton per hektare pada sejumlah uji lapangan.
Bagi pemerintah, peningkatan produktivitas semacam itu bukan sekadar persoalan statistik. Di tengah kebutuhan menjaga ketahanan pangan nasional dan mengurangi ketergantungan terhadap impor, setiap tambahan ton gabah memiliki arti strategis.
"Yang tadinya menghasilkan 5 ton gabah sekarang bisa 10 ton lebih, 12 ton. Kalau begitu kan naik 100 persen produktivitas kita," kata Prabowo kepada wartawan di sela kegiatan PENAS XVII.
Pernyataan itu, sekaligus menggambarkan arah kebijakan yang sedang dibangun pemerintah. Dengan produksi beras nasional yang terus naik dalam dua tahun terakhir, pemerintah kini menatap tahap berikutnya untuk menjaga kenaikan itu tetap berjalan dan mendorong produktivitas naik dari waktu ke waktu. PM-AAS menjadi salah satu instrumen yang dipersiapkan menuju tujuan tersebut.
Sistem ini bukan teknologi yang diimpor secara utuh dari luar negeri. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menjelaskan PM-AAS merupakan hasil riset dan pengujian lapangan selama hampir dua tahun dengan menggabungkan pengalaman budi daya di Indonesia dan praktik pertanian modern dari sejumlah negara.
Fondasi utamanya tetap menggunakan sistem jajar legowo yang secara turun temurun telah lama dikenal petani Indonesia. Di atas fondasi itu, Kementerian Pertanian mengadopsi sejumlah teknik budi daya yang dipelajari dari Arkansas, Amerika Serikat, serta pendekatan pertanian presisi yang berkembang di China.
Dari kombinasi tersebut lahir tiga prinsip utama PM-AAS, yakni mengoptimalkan proses fotosintesis melalui pengaturan jarak tanam dengan pola 4:1 dan 6:1, meningkatkan populasi tanaman secara bertahap dalam satu hamparan, serta menerapkan pertanian presisi agar penggunaan benih, pupuk, maupun air menjadi lebih efisien.
Di tingkat lapangan, pendekatan tersebut diwujudkan melalui metode tanam benih langsung dengan populasi tanaman yang jauh lebih padat dibandingkan pola konvensional, tetapi tetap menjaga ruang bagi cahaya matahari dan sirkulasi udara. Kepadatan tanaman dapat meningkat hingga dua sampai tiga kali lipat, sementara dosis pemupukan disesuaikan hingga sekitar satu setengah kali rekomendasi standar agar kebutuhan nutrisi tanaman tetap terpenuhi.
Pendekatan itu membawa peningkatan hasil panen yang tidak hanya bergantung pada penambahan luas lahan. Produktivitas juga dapat didorong melalui rekayasa sistem budi daya yang lebih efisien, selama tetap mempertimbangkan karakteristik tanaman dan kondisi lingkungan.
Untuk menguji efektivitasnya, Kementerian Pertanian menugaskan Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) sebagai pelaksana utama pengembangan PM-AAS. Sebanyak 15 BRMP tingkat provinsi, kini menjalankan berbagai demplot di sejumlah daerah.
Banten menjadi provinsi ketiga yang melaksanakan tanam perdana dengan target areal 100 hektare. Sementara di Kalimantan Selatan, pengembangan dilakukan di Kabupaten Tabalong seluas 60 hektare dan Kabupaten Barito Kuala seluas 50 hektare. Demplot-demplot tersebut menjadi laboratorium lapangan untuk melihat bagaimana teknologi yang sama beradaptasi pada kondisi agroekosistem yang berbeda. Meski demikian, PM-AAS bukan penyebab utama meningkatnya produksi beras nasional saat ini.
Visi lumbung pangan
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan produksi beras Indonesia sepanjang 2025 mencapai 34,69 juta ton atau meningkat lebih dari empat juta ton dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan sekitar 13 persen tersebut menjadi salah satu peningkatan terbesar dalam satu dekade terakhir dan telah melampaui kebutuhan konsumsi nasional yang berada pada kisaran 30 hingga 31 juta ton per tahun.
Menteri Pertanian, bahkan menyebut Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) menempatkan Indonesia sebagai produsen beras terbesar keempat di dunia dengan produksi sekitar 38 juta ton.
Capaian tersebut lahir dari kombinasi berbagai kebijakan yang telah dijalankan pemerintah dalam beberapa tahun terakhir, mulai dari penggunaan benih unggul, rehabilitasi jaringan irigasi, mekanisasi pertanian, optimalisasi lahan rawa, hingga perluasan areal tanam.
Dengan begitu, PM-AAS lebih tepat dipandang sebagai tahapan berikutnya dalam strategi peningkatan produktivitas nasional. Ketika produksi nasional mulai menunjukkan surplus, perhatian pemerintah bergeser pada bagaimana menghasilkan lebih banyak gabah dari lahan yang sama tanpa terus bergantung pada pembukaan areal baru.
Kunjungan Presiden yang turun langsung ke petak sawah di Gorontalo memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar meninjau demonstrasi teknologi.
Presiden melihat hasil panen yang sudah dicapai, sekaligus mengamati kemungkinan yang masih dapat dikembangkan. Teknologi yang kini masih diterapkan pada lahan-lahan percontohan diproyeksikan menjadi model yang dapat diperluas ke berbagai daerah apabila terbukti konsisten meningkatkan produktivitas.
Presiden Prabowo secara tegas menginginkan teknologi tersebut diperkenalkan kepada petani di seluruh Indonesia.
"Kita ingin supaya disosialisasikan, diajarkan ke semua daerah. Kita mau tiap desa bisa swasembada, tiap kecamatan swasembada, tiap kabupaten swasembada, tiap provinsi swasembada, minimal kalau bisa provinsi produksi untuk ekspor ke tempat lain. Ini kita punya strategi ke depan," ujarnya.
Namun, Presiden juga mengingatkan bahwa peningkatan produksi tidak boleh berhenti sebagai pencapaian jangka pendek. Dalam pandangannya, keberhasilan itu harus dibangun sebagai sistem yang berkelanjutan, bukan sekadar fenomena yang berlangsung satu atau dua tahun.
Tantangan terbesar PM-AAS justru berada di luar petak demonstrasi. Keberhasilan di lahan percontohan memang penting sebagai pembuktian awal, tetapi tantangan sesungguhnya adalah memastikan teknologi yang sama dapat diterapkan secara konsisten dan presisi di jutaan hektare sawah Indonesia yang memiliki kondisi tanah, iklim, sumber air, hingga kapasitas petani yang sangat beragam.
Indonesia memiliki sekitar 7,4 juta hektare lahan sawah dengan karakteristik yang berbeda-beda, mulai dari sawah irigasi teknis di Pulau Jawa hingga lahan rawa pasang surut di Sumatera dan Kalimantan. Sistem budi daya yang berhasil di satu wilayah belum tentu memberikan hasil serupa di wilayah lain, tanpa penyesuaian.
Namun, PM-AAS sejak awal sudah dirancang sebagai sistem yang adaptif, mengingat beragamnya faktor geografis Indonesia. Prinsip-prinsip utamanya dapat diterapkan secara fleksibel sesuai kondisi masing-masing daerah sehingga tidak menjadi paket teknologi yang seragam.
Perjalanan PM-AAS masih panjang. Dari ratusan hektare lahan percontohan menuju jutaan hektare sawah nasional, terdapat banyak tahapan yang harus dilalui, mulai dari penyuluhan, pendampingan petani, penyediaan sarana produksi, hingga kesiapan infrastruktur pendukung. Jika seluruh mata rantai itu dapat berjalan beriringan, maka peningkatan produktivitas yang kini terlihat di Gorontalo berpeluang menjadi bagian dari transformasi pertanian nasional yang lebih luas.
- PENAS KTNA XVII
Redaktur: Yebdi Trismar
Penulis: Yebdi Trismar
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.