• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Di Balik Kebun Hantu, Roy ...

Di Balik Kebun Hantu, Roy Julian Ungkap Naskah Kejutan yang Disimpan hingga 2027

Selasa, 13 Okt 2026, 03:04 WIB

Jakarta - Sutradara sekaligus pemain teater "Kebun Hantu" Roy Julian mengungkapkan masih menyimpan satu naskah kejutan setelah menjalani persiapan selama 10 bulan untuk pementasan di Teater Wahyu Sihombing, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, pada Senin (12/10) dan Selasa (13/10) malam.

Roy mengatakan naskah berjudul "Kaktus dan Kuping Gajah" terpaksa ditunda akibat perubahan komposisi pemain selama proses persiapan. Kelompok Kantor Teater akhirnya memilih berfokus mementaskan "Kebun Hantu" dalam program Kanal Teater Dewan Kesenian Jakarta (DKJ).

Ket. Foto: Salah satu adegan dalam pertunjukan "Kebun Hantu" di Teater Wahyu Sihombing, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Senin (12/10). — Sumber: Antara

"Sepuluh bulan dua naskah pendek, satu lagi (judulnya) Kaktus dan Kuping Gajah, cuma waktu itu sebelas orang pemainnya, ah, lima orang mundur. Jadi gue bikin naskah baru lagi," kata Roy kepada ANTARA seusai pertunjukan perdana "Kebun Hantu", Senin.

Roy menjelaskan, keputusan menunda pementasan "Kaktus dan Kuping Gajah" diambil setelah lima dari 11 pemain mengundurkan diri. Kondisi tersebut membuat kelompoknya perlu menyesuaikan proses kreatif dan menyiapkan naskah baru.

Menurut Roy, konsep Kanal Teater DKJ yang mengangkat tema "arsip tubuh" menjadikan pengalaman personal para pelakon sebagai bagian penting dari pertunjukan. Karena itu, peran yang sebelumnya dibangun berdasarkan pengalaman tubuh para aktor tidak bisa begitu saja dialihkan kepada pemain pengganti.

"Kalau arsip tubuh dia kan mesti dia yang mainin, kalau orang yang lain yang mainin kan lain rasanya. Nah, jadi waktu yang pertama itu lima pemain mengundurkan diri, enggak kuat latihan," jelas pendiri Kantor Teater tersebut.

Meski belum dipentaskan, Roy memastikan "Kaktus dan Kuping Gajah" tidak dibatalkan. Naskah tersebut masih disimpan dan dipersiapkan untuk kemungkinan pementasan lain pada 2027.

Sementara itu, "Kebun Hantu" dikembangkan dengan menempatkan pengalaman tubuh aktor sebagai sumber pengetahuan, bukan sekadar sarana membangun karakter atau menjalankan alur cerita. Pengalaman tersebut dipandang memiliki bentuk dan logika tersendiri yang tidak selalu harus diterjemahkan menjadi kritik atau dijelaskan melalui hubungan sebab-akibat.

Roy mencontohkan pengalaman berselancar di media sosial yang menjadi salah satu pokok pembahasan dalam naskahnya. Dalam waktu singkat, seseorang dapat menyaksikan beragam peristiwa yang kontras, mulai dari bencana alam, pasangan yang berpacaran, hingga kasus kriminal seperti pembegalan.

Berbagai pengalaman itu hadir secara bertumpuk dan acak dalam pikiran, tanpa selalu membentuk hubungan sebab-akibat yang logis. Kritik sosial, menurut Roy, muncul sebagai implikasi dari kesaksian orang-orang modern yang mengalami langsung dinamika tersebut.

"Di antara tubuh yang mengalami, bahasa yang menjelaskan, dan teknologi yang merekam, selalu ada sesuatu yang luput, tidak kelihatan, seperti hantu. Jadi hantu dalam Kebun Hantu bukanlah sosok yang datang dari dunia lain, tapi sesuatu yang hadir, mungkin sudah berlalu, tetapi belum selesai meninggalkan tubuh," kata Roy.

Melalui pertunjukan tersebut, Roy berharap penonton dapat merasakan kembali pengalaman yang membekas setelah menyaksikan berbagai peristiwa di media sosial, terutama ketika pengalaman itu belum sepenuhnya dipahami atau selesai diproses.

  • Pentas Teater

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.