Terapi Hutan untuk Redakan Stres, Belajar Tenang di Tengah Hidup Serba Cepat
Minggu, 11 Okt 2026, 04:00 WIB | Oleh: Tim PenulisPraktisi terapi hutan sekaligus dosen psikologi Universitas Gunadarma Dr. Hendro Prabowo mengatakan kecenderungan berpikir berlebihan atau overthinking menjadi salah satu tantangan dalam memandu peserta. Kebiasaan menganalisis berbagai hal secara terus-menerus dapat membuat mereka kesulitan memusatkan perhatian pada pengalaman di alam.
Untuk membantu peserta mengenali perubahan yang dirasakan, Hendro menggunakan metode visual bernama pain drawing. Sebelum kegiatan dimulai, peserta menerima gambar anatomi tubuh manusia untuk menandai bagian yang terasa sakit dan memberikan skala intensitas nyeri. Setelah sesi berakhir, mereka diminta menilai kembali gambar yang sama.
Menurut Hendro, perbandingan tersebut membantu peserta mengamati perubahan keluhan fisik yang mereka rasakan selama kegiatan. Namun, perubahan yang dirasakan setiap orang dapat berbeda dan perlu dipahami sesuai kondisi masing-masing.
Ia juga menganjurkan aktivitas ringan di medan yang relatif datar, berbeda dari mendaki gunung yang membutuhkan tenaga lebih besar. Udara sejuk, pepohonan rindang, tingkat kebisingan rendah, serta aliran sungai yang aman menjadi sejumlah unsur yang mendukung suasana relaksasi.
Hendro turut mengaitkan kontak langsung kaki dengan tanah dengan konsep earthing atau grounding. Ia berpendapat bahwa elektron dari permukaan bumi dapat berperan sebagai antioksidan alami. Meski demikian, klaim mengenai manfaat kesehatan earthing masih memerlukan dukungan bukti ilmiah yang kuat dan tidak dapat dianggap sebagai pengganti perawatan medis.
Prof. Siti juga menekankan pentingnya suasana alam yang mendukung proses relaksasi. "Jika tingkat kebisingan terlalu tinggi, proses relaksasi pun tidak akan berjalan optimal," ujarnya, seperti dikutip dari situs resmi IPB University.
Ke depan, sosialisasi dan edukasi yang lebih luas serta penambahan jumlah pemandu terlatih diharapkan dapat memperluas akses masyarakat terhadap terapi hutan. Hendro berharap kegiatan tersebut dapat diperkenalkan kepada kelompok lansia, pekerja yang mengalami stres, hingga remaja yang menghadapi masalah penggunaan gawai berlebihan.
Selain mendukung upaya menjaga kesehatan mental, meningkatnya kesadaran terhadap manfaat alam diharapkan dapat mendorong kepedulian terhadap kelestarian hutan dan pengembangan ruang terbuka hijau di perkotaan.
Bagi Wira, pengalaman mengikuti terapi hutan memberinya pemahaman baru tentang ketenangan. Ia menyadari bahwa ketenangan tidak selalu berarti hidup tanpa masalah, melainkan kemampuan untuk tetap menyadari keadaan diri di tengah berbagai tuntutan.
"Setelah mengikuti terapi ini, saya menyadari bahwa ketenangan bukan berarti hidup sedang tidak memiliki masalah. Ketenangan adalah kemampuan untuk tetap hadir dan tidak kehilangan diri sendiri di tengah berbagai hal yang sedang terjadi," ujarnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!