Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
pasang iklan di koran jakarta
Ads

Terapi Hutan untuk Redakan Stres, Belajar Tenang di Tengah Hidup Serba Cepat

31 Minggu, 11 Okt 2026, 04:00 WIB | Oleh: Tim Penulis
Terapi Hutan untuk Redakan Stres, Belajar Tenang di Tengah Hidup Serba Cepat Terapi Hutan untuk Redakan Stres, Belajar Tenang di Tengah Hidup Serba Cepat Doc: Antara
Ket. Terapi Hutan.

Jakarta - Berdiam diri mungkin terdengar mudah. Namun, bagi Wira, seorang ibu rumah tangga sekaligus wirausaha berusia 33 tahun, menenangkan pikiran tanpa memikirkan pekerjaan justru menjadi tantangan terbesar saat mengikuti sesi terapi hutan di Kebun Raya Bogor pada Agustus lalu.

"Awalnya ada sedikit rasa tidak terbiasa, karena saya selalu hidup dalam ritme cepat yang membuat diam terasa seperti tidak melakukan apa pun," ujar Wira kepada Xinhua setelah mengikuti sesi tersebut.

Pengalaman memperlambat ritme hidup itulah yang ditawarkan terapi hutan atau forest therapy, sebuah praktik yang berakar dari shinrin-yoku atau mandi hutan di Jepang. Praktik tersebut mulai diperkenalkan sebagai pendekatan kesehatan sejak 1980-an dan kini menjadi bagian dari upaya kesehatan preventif di negara itu.

Menurut situs resmi Organisasi Pariwisata Nasional Jepang (JNTO), sejumlah penelitian di Jepang menunjukkan aktivitas tersebut berpotensi memperbaiki kualitas tidur, suasana hati, dan kemampuan berkonsentrasi, sekaligus membantu mengurangi stres.

Dari sisi ilmiah, manfaat terapi hutan antara lain dikaitkan dengan fitonsida, yakni senyawa volatil alami yang dihasilkan tumbuhan sebagai mekanisme pertahanan terhadap mikroorganisme, serangga, dan tekanan lingkungan.

Guru Besar IPB University Prof. Siti Badriyah Rushayati, dalam orasi ilmiahnya pada 27 Juni lalu, menjelaskan bahwa paparan udara hutan dapat meningkatkan aktivitas sel pembunuh alami (natural killer cells) yang berperan dalam melawan infeksi dan sel kanker. Paparan fitonsida secara teratur juga disebut berpotensi membantu menurunkan tekanan darah, mengurangi stres, dan meningkatkan kesejahteraan mental.

Di Indonesia, terapi hutan mulai dikenal sebagai salah satu pilihan wisata kebugaran. Peserta biasanya diajak berjalan perlahan, mendengarkan suara alam, menghirup aroma dedaunan, merasakan tekstur objek di sekitarnya, hingga berbaring di atas rumput. Beberapa kegiatan juga melibatkan berjalan tanpa alas kaki dengan memperhatikan keamanan medan.

Tujuan utamanya adalah membantu peserta memusatkan perhatian pada pengalaman saat ini melalui pancaindra, bukan terus-menerus memikirkan pekerjaan, persoalan, atau berbagai tuntutan kehidupan.

Pendekatan tersebut relevan di tengah peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia setiap 10 Oktober, terutama ketika masyarakat menghadapi tekanan hidup, stres, dan kelelahan emosional akibat ritme aktivitas yang semakin cepat.

Tantangan kesehatan mental juga dialami anak-anak. Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) Kementerian Kesehatan periode 2025–2026 mendeteksi gangguan kecemasan pada 4,4 persen atau sekitar 338.000 anak serta gejala depresi pada 4,8 persen atau sekitar 363.000 anak, dari sekitar tujuh juta anak yang telah menjalani skrining.

Salah satu elemen penting dalam terapi hutan adalah kesadaran penuh atau mindfulness. Psikolog sekaligus dosen Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Luh Surini Yulia Savitri, dalam artikel yang diterbitkan pada 28 Maret 2024 di situs resmi fakultas tersebut, menjelaskan bahwa mindfulness merupakan kesadaran untuk berada di sini dan saat ini.

Ia juga merujuk pada Jon Kabat-Zinn, profesor asal Amerika Serikat, yang mendefinisikan mindfulness sebagai kesadaran dari waktu ke waktu tanpa menghakimi pikiran dan perasaan diri sendiri maupun orang lain.

Wira mengakui bahwa melepaskan kebiasaan berpikir berlebihan bukan perkara mudah.

"Tantangan terbesar adalah melepaskan kebutuhan untuk selalu berpikir dan melakukan sesuatu," ungkapnya.

"Saya terbiasa memikirkan banyak kemungkinan dan mempersiapkan banyak hal. Dalam kegiatan seperti ini, saya belajar tidak semua hal perlu dianalisis. Ada kalanya kita cukup hadir, merasakan, dan membiarkan sesuatu berlangsung tanpa harus segera mencari makna atau solusinya," ujarnya.

Berpikir Berlebihan

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Kapasitas Produksi Menganggur, Industri Didesak Bangkit
    Berita yang sangat melegakan bagi kita yang bergerak ...
  • Jakarta Timur Bersiap Jadi Magnet Investasi Baru, Kawasan 370 Hektare Ini Dilirik
    Tidak akan sukses. Catat ini. Ormas sm warlok ...
  • Industri Makanan dan Minuman Tumbuh 7,04 Persen, KRISTA InterFOOD 2026 Perluas Peluang Bisnis
    Pencapaian kinerja industri mamin yang impresif ini tentu ...
  • Ekspor Tembus 4,85 Miliar Dolar AS, UGM Dorong Teknologi Hijau Industri Kulit
    Ekspor kulit tembus 4,85 miliar dolar AS, UGM ...
  • GrabMart Catat Lonjakan Pesanan Dini Hari, Strategi Pemasaran Brand Perlu Berubah
    Banyak sekarang pekerja kantoran sampe rumah malam, lalu ...
pasang iklan di koran jakarta
pasang iklan di koran jakarta
Megapolitan
Pemkot Bekasi Segera Bangun...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Gubernur Jabar Prihatin Banyak Warganya Terjerat Pinjol dan Judol

Gubernur Jabar Prihatin Banyak Warganya Terjerat Pinjol dan Judol

31 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.