BNPT Sebut Pola Paparan Ekstremisme Berkembang Seiring Perubahan Ekosistem Digital
📅 Kamis, 08 Okt 2026, 13:40 WIB | Oleh: SriyonoJAKARTA - Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengungkapkan pola paparan ekstremisme terhadap anak dan remaja kini berkembang seiring dengan perubahan ekosistem digital.
Dalam acara penandatanganan MoU di Sleman, Yogyakarta, Jumat (2/10), Kepala BNPT Eddy Hartono mengungkapkan terdapat 620 anak usia 11–18 tahun di 34 provinsi yang teridentifikasi terpapar ekstremisme dan ideologi kekerasan melalui ruang digital pada periode Januari–Agustus 2026.
"Ditemukan dalam berbagai forum dan komunitas digital, termasuk ekosistem True Crime Community (TCC)," ucap Eddy, seperti dikonfirmasi di Jakarta, Kamis (8/10).
Ia menegaskan TCC pada dasarnya bukan jaringan terorisme, namun perubahan perilaku ketika anak mulai menormalisasi atau mengglorifikasi kekerasan menjadi salah satu hal yang perlu diwaspadai.
Eddy mengatakan kondisi tersebut menunjukkan pencegahan perlu dilakukan sedini mungkin dengan melihat anak tidak hanya sebagai individu, tetapi sebagai bagian dari lingkungan sosialnya.
"Anak-anak ini kami sentuh dengan rehabilitasi dulu dengan pendekatan mikroekologi anak. Artinya melibatkan lingkungan terdekat anak yang mencakup orang tua, sekolah/kampus, serta masyarakat sekitar," ungkapnya.
Ia menjelaskan pendekatan tersebut sejalan dengan pentingnya intervensi pada fase awal ketika terdapat perubahan perilaku yang mengarah pada normalisasi kekerasan.
Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti-Teror Polri sebelumnya juga menekankan pentingnya pendekatan kolaboratif dalam menghadapi perkembangan ekstremisme berbasis kekerasan di ruang digital yang menyasar anak dan remaja.
Kepala BNPT mengungkapkan ruang digital menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan generasi muda. Di sisi lain, ruang yang sama dapat menjadi pintu masuk paparan konten kekerasan dan ekstremisme.
Merespons tantangan tersebut, BNPT menggandeng 13 perguruan tinggi di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) untuk memperkuat pencegahan ekstremisme berbasis kekerasan yang mengarah pada terorisme.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara BNPT dan pimpinan 13 perguruan tinggi di DIY.
Dijelaskan bahwa kolaborasi diarahkan untuk memperkuat peran perguruan tinggi sebagai ruang pendidikan, dialog, pengembangan berpikir kritis, sekaligus lingkungan yang mampu membangun ketahanan generasi muda dan kelompok rentan terhadap pengaruh ideologi kekerasan.
Ia menegaskan pencegahan tidak dapat dilakukan oleh pemerintah sendiri, di mana perguruan tinggi memiliki posisi strategis karena bersentuhan langsung dengan generasi muda dan memiliki kapasitas pengetahuan untuk membaca perubahan sosial, termasuk perkembangan ancaman di ruang digital.
"Mari kita jaga Jogja, jangan sampai anak-anak kita terpapar. Generasi mereka aktif di ruang digital ini perlu kita jaga bersama melalui kolaborasi dan sumbang pikir para rektor agar langkah mitigasi ini berjalan efektif dan tidak sia-sia," ungkap Eddy.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!