Angkat Cerita dari Budaya Tiongkok, Film Animasi “All Wishes Come True” Hadir di Bioskop Indonesia
📅 Kamis, 17 Sep 2026, 05:47 WIB | Oleh: OpikSebelum hadir di Indonesia, “All Wishes Come True” sudah lebih dulu menjadi sensasi di negara asalnya. Dirilis di Tiongkok pada 18 Juli, film ini meraup 400 juta yuan (1 yuan = Rp2.630) hanya dalam lima hari pertama penayangannya, sekaligus membuka dengan skor 8,3 dari 10 di situs ulasan Douban.
Momentum itu berlanjut sepanjang musim panas. Berdasarkan data Maoyan, “All Wishes Come True” meraup 1,90 miliar yuan per Jumat (11/9). Film ini juga menjadi film dengan pendapatan tertinggi ketiga pada musim panas 2026, di bawah “Kung Fu Soccer” yang meraih 2,32 miliar yuan dan “Once Upon a Time in the Middle East” dengan 2,11 miliar yuan.
Setelah sukses di pasar domestik, “All Wishes Come True” mulai merambah pasar internasional. Film ini lebih dulu tayang di Australia, Selandia Baru, Amerika Utara, Inggris, hingga sejumlah negara Eropa. Pada 13 Agustus, film tersebut menggelar pemutaran perdana di Los Angeles sebelum resmi dirilis di bioskop Amerika Serikat (AS) dan Kanada sehari kemudian. Film ini ditayangkan dalam bahasa Mandarin dengan teks bahasa Inggris di lebih dari 100 bioskop terpilih.
Respons penonton di pasar Amerika Utara turut menunjukkan daya tarik lintas budaya film tersebut. Penulis lagu sekaligus kreator konten Hannah Avison memberi nilai sempurna 10 dari 10 setelah menghadiri pemutaran perdananya. “Animasi film sangat indah dan memanjakan mata. Ada begitu banyak kejutan dan plotnya sungguh menarik. Saya terus dibuat penasaran sepanjang film,” ujarnya.
Sementara itu, aktor dan produser Hollywood John Kyle Sutton mengaku tetap terpaku sepanjang film meski biasanya tidak menyukai film berdurasi panjang. Dia menilai film semacam ini berpotensi mendorong lebih banyak penonton AS untuk mengenal budaya Tiongkok.
Disutradarai sekaligus ditulis oleh Mou Zhengyang, “All Wishes Come True” mengadaptasi kisah klasik Delapan Dewa yang dikenal dalam Taoisme Tiongkok, tetapi menghadirkannya dengan pendekatan baru.
Alih-alih menggambarkan para tokoh sebagai sosok sempurna seperti dalam cerita rakyat, film ini menampilkan mereka sebagai manusia muda yang memiliki kelemahan, melakukan kesalahan, dan pada awalnya tak selalu bertindak demi kebaikan.
Mou menjelaskan kepada Xinhua bahwa penggambaran tersebut sengaja dipilih agar penonton dapat membangun hubungan emosional yang lebih kuat dengan karakter. Dia juga memandang keabadian bukan semata sebagai pencapaian kekuatan supranatural, melainkan hasil dari perubahan diri, proses pendewasaan, dan tumbuhnya rasa tanggung jawab.
Pendekatan itu juga terlihat dari cara film menggambarkan Penglai. Dunia para dewa tidak dibuat sepenuhnya sakral dan jauh dari kehidupan manusia, melainkan memiliki sistem seperti organisasi dengan peringkat, target, hingga evaluasi. Film ini mengemas legenda klasik menjadi komedi ringan mengenai pencarian harta karun dan perjalanan menemukan jati diri.
Selain itu, pendekatan modern juga tercermin dalam aspek visual “All Wishes Come True”, yang memadukan estetika tradisional China dengan teknologi animasi kontemporer untuk membangun dunia fantasi yang tetap berakar pada budaya.
Dalam proses pembuatannya, produser Cao Linlin mengatakan tim produksi melakukan riset langsung ke sejumlah situs budaya, termasuk Istana Yongle di Shanxi dan Gunung Qingcheng di Sichuan, yang kemudian menjadi referensi dalam perancangan dunia dan berbagai elemen visual film.
Salah satu contohnya adalah kereta yang ditarik oleh ikan yang terinspirasi dari mural kuno. Palet warna film juga mengambil inspirasi dari lukisan Tahun Baru tradisional Tiongkok dan seni rakyat, sehingga unsur budaya tidak hanya hadir melalui cerita, tetapi juga melalui tampilan visual.
Identitas Budaya
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!