FIFA Buka Pintu Investor, AFC dan CONCACAF Meradang: “Kami Tahu dari Media”

Kamis, 30 Jul 2026, 00:10 WIB

MELBOURNE — Rencana mengejutkan FIFA menjual sebagian kepemilikan anak perusahaan komersial senilai sekitar 330 triliun rupiah memicu kemarahan dari sejumlah konfederasi sepak bola dunia.

Konfederasi Sepak Bola Amerika Utara, Tengah dan Karibia (CONCACAF) serta Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) mengaku terkejut karena mengetahui rencana tersebut bukan melalui jalur resmi FIFA, melainkan dari pemberitaan media.

Ket. Foto: Gianni Infantino dan perwakilan AFC. — Sumber: FIFA

FIFA pada hari Selasa (28/7) mengumumkan rencana membentuk FIFA Forward Enterprise, sebuah anak perusahaan yang akan menangani operasi komersial dan penyelenggaraan berbagai event FIFA, termasuk Piala Dunia.

Dalam struktur tersebut, FIFA akan tetap memegang kendali atas perusahaan. Namun, hingga 20 persen saham akan ditawarkan kepada investor eksternal dengan target menghimpun dana hingga sekitar 69,3 triliun rupiah.

Langkah itu menjadi salah satu upaya paling agresif FIFA untuk menarik modal swasta ke dalam bisnis sepak bola global.

CONCACAF: “Kami Sangat Prihatin”

CONCACAF menjadi salah satu pihak yang paling keras mengkritik proses tersebut.

Dalam pernyataannya, konfederasi yang menaungi sepak bola Amerika Utara, Tengah dan Karibia itu mengatakan baru mengetahui rencana FIFA melalui pemberitaan media dan kemudian siaran pers resmi.

“CONCACAF hanya mengetahui persoalan ini melalui pemberitaan media dan kemudian melalui siaran pers. Kami sangat prihatin dengan kurangnya proses yang semestinya,” demikian pernyataan CONCACAF.

Mereka juga mempertanyakan mengapa proposal dengan dampak sebesar itu telah dirancang dan dipublikasikan sebelum ada pembicaraan dengan badan-badan tata kelola serta pemangku kepentingan terkait.

“Sebagai pemimpin dalam sepak bola, kami adalah penjaga olahraga ini. Secara kolektif, FIFA, konfederasi dan setiap asosiasi anggota memiliki tanggung jawab untuk selalu bertindak demi kepentingan terbaik olahraga.”

CONCACAF menegaskan bahwa setiap keputusan harus didasarkan pada tata kelola yang baik, proses yang kuat dan pengelolaan jangka panjang.

AFC: Proposal Sebesar Ini Harus Dibahas

Sikap serupa datang dari AFC. Konfederasi Asia tersebut mengakui pentingnya mengeksplorasi pendekatan inovatif dalam mengembangkan sepak bola, tetapi kecewa karena proposal sebesar itu diumumkan sebelum AFC memiliki kesempatan untuk mempelajarinya secara menyeluruh.

“Inisiatif seperti ini harus berlandaskan prinsip tata kelola yang baik, transparansi dan konsultasi yang bermakna,” kata AFC.

Menurut AFC, keputusan yang berpotensi mengubah masa depan komersial dan finansial sepak bola harus melalui pembahasan terlebih dahulu dengan konfederasi, asosiasi anggota dan pemangku kepentingan lainnya.

AFC juga menegaskan seluruh pihak harus memperoleh informasi yang cukup dan waktu memadai untuk menilai proposal tersebut, termasuk dari sisi tata kelola, hukum, komersial dan strategi.

143 dari 211 Anggota FIFA Terseret

Besarnya jumlah anggota AFC dan CONCACAF membuat persoalan ini memiliki dimensi politik yang tidak kecil.

AFC memiliki 47 asosiasi anggota, sedangkan CONCACAF menaungi 41 anggota. Jika digabung dengan 55 anggota UEFA, terdapat 143 dari total 211 asosiasi anggota FIFA yang konfederasinya telah menyatakan kritik atau kekhawatiran terhadap proposal tersebut.

Artinya, lebih dari dua pertiga anggota FIFA berada dalam konfederasi yang saat ini mempertanyakan proses maupun dampak rencana investasi tersebut.

Reuters telah menghubungi konfederasi Amerika Selatan (CONMEBOL), Afrika (CAF) dan Oseania (OFC) untuk meminta tanggapan.

FIFA sendiri belum memberikan tanggapan langsung atas permintaan komentar.

Prancis dan Inggris Ikut Mempertanyakan

Gelombang kritik juga datang dari federasi sepak bola nasional.

Presiden Federasi Sepak Bola Prancis, Philippe Diallo, mengatakan pihaknya juga tidak diberi informasi sebelumnya.

“Rencana ini jelas menimbulkan banyak pertanyaan, khususnya karena, sejauh yang saya pahami, ada dana investasi yang akan masuk ke dalam entitas komersial bersama FIFA,” kata Diallo kepada radio Prancis Inter.

Ia menegaskan persoalan tersebut menjadi lebih serius karena federasi anggota tidak dilibatkan dalam proses pembahasan.

“Kami tidak dilibatkan dan tidak memiliki informasi spesifik yang dibutuhkan untuk memberikan pandangan terhadap persoalan yang jelas-jelas fundamental bagi masa depan sepak bola.”

Federasi Sepak Bola Inggris (FA) bahkan mengaku “sama sekali tidak mengetahui” proposal tersebut.

Berdasarkan informasi terbatas yang tersedia, FA mengatakan sangat prihatin dengan proses dan tata kelola yang telah membawa FIFA sampai pada tahap tersebut.

“Ketika proposal ini dibagikan secara lengkap dan transparan seperti yang kini dijanjikan FIFA, kami akan menyampaikan pandangan kami secara jelas dan memberikan komentar lebih lanjut,” kata FA.

UEFA Siapkan Pertemuan Darurat

Langkah FIFA juga memicu reaksi keras dari UEFA. Badan sepak bola Eropa tersebut menuduh FIFA telah menempatkan “jiwa” sepak bola untuk diperjualbelikan.

UEFA dilaporkan tengah menyiapkan pertemuan darurat dengan 55 asosiasi anggotanya untuk membahas proposal FIFA. Pertemuan tersebut diperkirakan berlangsung secara virtual dan akan membahas kemungkinan langkah bersama sepak bola Eropa dalam merespons rencana investasi tersebut.

Jika benar terealisasi, pertemuan itu dapat menjadi titik penting dalam perseteruan baru antara FIFA dan UEFA mengenai masa depan komersialisasi sepak bola dunia.

Uni Eropa Soroti Konflik Kepentingan

Komisioner Olahraga Uni Eropa, Glenn Micallef, turut menyampaikan kekhawatiran mengenai dampak masuknya modal swasta terhadap independensi FIFA.

Menurut Micallef, persoalan muncul ketika nilai investasi swasta bergantung pada keputusan yang dibuat oleh FIFA.

“Ketika nilai investasi bergantung pada keputusan yang dibuat FIFA, hal itu menimbulkan pertanyaan mendalam mengenai tata kelola, independensi dan konflik kepentingan,” tulis Micallef melalui media sosial X.

Kekhawatiran tersebut menyentuh inti persoalan yang kini dihadapi FIFA.

Jika investor memiliki saham dalam entitas komersial yang mengelola kompetisi FIFA, bagaimana memastikan keputusan olahraga dan regulasi tetap independen dari kepentingan finansial?

FIFA mengatakan langkah tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat kapasitas komersial dan operasional organisasi.

Namun, bagi para pengkritiknya, persoalannya bukan sekadar mengenai bagaimana FIFA mendapatkan tambahan modal.

Yang dipertaruhkan adalah siapa yang mengendalikan bisnis sepak bola dunia, bagaimana keuntungan dibagikan, dan sejauh mana kepentingan investor swasta dapat memengaruhi keputusan sepak bola internasional.

Dengan nilai perusahaan yang mencapai sekitar Rp330 triliun dan potensi dana investasi hingga 69,3 triliun rupiah, rencana FIFA jelas bukan proyek bisnis biasa.

Bagi Infantino, proyek ini dapat menjadi instrumen penting untuk memperbesar kekuatan finansial FIFA. Tetapi bagi UEFA, AFC, CONCACAF dan sejumlah federasi nasional, cara FIFA menjalankan proses tersebut justru telah membuka persoalan yang jauh lebih besar: transparansi, tata kelola, independensi dan masa depan sepak bola global.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.