Schneider Electric Dorong Transformasi Jaringan Listrik lewat Elektrifikasi dan Digitalisasi
Senin, 14 Sep 2026, 19:20 WIBJAKARTA â Perkembangan sistem kelistrikan menuju sumber energi yang lebih beragam membutuhkan infrastruktur jaringan yang semakin fleksibel, andal, dan mampu merespons perubahan kebutuhan energi. Tantangan tersebut menjadi salah satu isu yang akan dibahas Schneider Electric dalam ajang Enlit Asia 2026 di ICE BSD City, Tangerang, pada 22â24 September 2026.
Perusahaan teknologi energi tersebut mengusung tema âPowering the Intelligent Gridâ dengan menampilkan sejumlah teknologi dan solusi yang menggabungkan elektrifikasi, digitalisasi, dan kecerdasan buatan (AI). Pendekatan tersebut diarahkan untuk mendukung modernisasi sistem kelistrikan, mulai dari pembangkitan hingga transmisi dan distribusi.
Kebutuhan modernisasi jaringan listrik di Indonesia semakin besar seiring dengan rencana pengembangan kapasitas energi nasional. Berdasarkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025â2034, terdapat target penambahan kapasitas pembangkit sebesar 69,5 gigawatt (GW). Dari jumlah tersebut, 42,6 GW berasal dari energi baru terbarukan dan 10,3 GW berupa sistem penyimpanan energi.
RUPTL tersebut juga mencakup pembangunan hampir 48.000 kilometer sirkuit jaringan transmisi. Perkembangan ini membuat pengelolaan jaringan listrik tidak hanya membutuhkan tambahan kapasitas, tetapi juga sistem yang mampu mengintegrasikan berbagai sumber energi secara lebih efektif.
Dalam Enlit Asia 2026, Schneider Electric akan memperlihatkan teknologi yang mencakup tiga bagian utama dalam rantai kelistrikan, yakni pembangkitan, transmisi, dan distribusi.
Pada sektor pembangkitan, teknologi yang ditampilkan diarahkan untuk mendukung sistem energi yang lebih efisien, berkelanjutan, dan tangguh. Sementara pada sisi transmisi, digitalisasi digunakan untuk membantu meningkatkan keandalan, ketahanan, serta efisiensi operasional jaringan.
Adapun pada tingkat distribusi, konsep jaringan listrik cerdas atau smart grid menjadi salah satu pendekatan yang ditawarkan. Sistem tersebut memungkinkan operator memperoleh visibilitas yang lebih baik terhadap kondisi jaringan sekaligus meningkatkan fleksibilitas dan kinerja distribusi energi.
Beralih dari SFâ
Melalui siaran pers pada hari Senin (14/9), Schneider Electric mengungkapkan, salah satu teknologi yang menjadi sorotan adalah medium-voltage switchgear yang tidak lagi menggunakan sulfur heksafluorida (SFâ) sebagai media isolasi.
SFâ selama puluhan tahun digunakan dalam peralatan kelistrikan karena memiliki karakteristik teknis yang mendukung fungsi isolasi. Namun, gas tersebut memiliki potensi pemanasan global yang sangat tinggi, sekitar 24.300 kali lebih besar dibandingkan karbon dioksida SFâ, serta dapat bertahan di atmosfer selama lebih dari 3.000 tahun.
Kondisi tersebut mendorong industri kelistrikan mencari teknologi alternatif yang dapat mempertahankan fungsi dan keandalan peralatan sekaligus mengurangi penggunaan gas rumah kaca berpotensi tinggi.
Schneider Electric akan memperkenalkan SM AirSeT dan RM AirSeT sebagai contoh teknologi switchgear tegangan menengah bebas SFâ. Kedua teknologi tersebut menggunakan udara sebagai media isolasi dan teknologi vakum untuk proses pemutusan arus.
Penggunaan udara sebagai media isolasi menjadi salah satu pendekatan untuk mengurangi ketergantungan terhadap SFâ pada infrastruktur distribusi listrik. Teknologi tersebut juga menunjukkan bagaimana aspek keberlanjutan mulai menjadi bagian dari pengembangan peralatan jaringan listrik, bukan hanya berkaitan dengan sumber energi yang digunakan.
Digitalisasi dan AI dalam Jaringan Listrik
Selain teknologi kelistrikan fisik, digitalisasi menjadi bagian penting dalam upaya membangun jaringan yang lebih adaptif. Penggunaan data, perangkat terhubung, serta AI dapat membantu operator memperoleh informasi mengenai kondisi jaringan dan mengambil keputusan berdasarkan data yang tersedia.
Kebutuhan tersebut semakin relevan ketika sistem kelistrikan mulai mengakomodasi lebih banyak energi terbarukan. Karakteristik sejumlah sumber energi terbarukan yang bergantung pada kondisi alam membuat sistem jaringan membutuhkan kemampuan pemantauan dan pengelolaan yang lebih dinamis.
Melalui tema âPowering the Intelligent Gridâ, Schneider Electric menempatkan elektrifikasi, digitalisasi, dan AI sebagai bagian yang saling berkaitan dalam proses modernisasi sistem energi.
Selama pameran tiga hari, pengunjung juga akan dapat mengikuti sejumlah kegiatan yang membahas perkembangan sektor kelistrikan. Di antaranya adalah podcast mengenai masa depan sistem kelistrikan, ketahanan jaringan, serta perkembangan lanskap energi.
Terdapat pula permainan interaktif bertema Power & Grid yang dirancang untuk memberikan gambaran mengenai tantangan dan perkembangan sistem kelistrikan.
Schneider Electric akan menempati Hall 5, booth #501, selama Enlit Asia 2026 yang berlangsung pada 22â24 September 2026 di ICE BSD City, Tangerang. Pameran tersebut menjadi ruang bagi pelaku industri untuk melihat perkembangan teknologi yang tengah membentuk sistem kelistrikan yang lebih terhubung, digital, dan rendah emisi.
- Digitalisasi
- elektrifikasi
- Schneider Electric
- teknologi AI
- energi terbarukan
- transisi energi
- kecerdasan buatan
- Kelistrikan
- Enlit Asia 2026
- Jaringan listrik
- Smart grid
- Jaringan listrik cerdas
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Haryo Brono
Berita Terkait:
-
ESDM Bongkar Jejak Penyelundupan Emas, Sumbernya Bakal Ditelusuri dari Hulu
-
Andrea Bocelli Gelar Konser di Borobudur dan Jakarta, Cek Harga Tiket dan Jadwalnya
-
Harta Koruptor Jadi Sorotan, DPR Targetkan RUU Perampasan Aset Disahkan Desember 2026
-
Gubernur Minta PWNU Banten Jaga Kekompakan Jelang Muktamar Ke-35 NU
-
Mesin Ekonomi Baru di Pesisir! KNMP Konawe Suplai 8 Ton Ikan Kualitas Ekspor ke Luar Kota
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.