• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Philips Future Health Inde...

Philips Future Health Index 2026 : AI Berikan Manfaat Nyata bagi Layanan Kesehatan di Tanah Air

Senin, 14 Sep 2026, 19:22 WIB

JAKARTA - Royal Philips telah meluncurkan Future Health Index 2026 edisi ke-11 untuk wilayah Indonesia. Laporan ini mengungkap bahwa kecerdasan buatan (AI) telah memberikan manfaat nyata bagi tenaga kesehatan, pasien, dan institusi layanan kesehatan di Indonesia. Temuan ini menandai perubahan penting dalam perjalanan penggunaan AI di sektor kesehatan Indonesia.

Jika Future Health Index 2025 berfokus pada pentingnya membangun kepercayaan serta menciptakan kondisi yang mendukung adopsi AI, maka laporan tahun ini mengulas bagaimana AI telah memberikan dampak nyata dalam praktiknya. Tenaga kesehatan Indonesia melaporkan alur kerja dan proses diagnosis yang lebih cepat, kapasitas yang lebih besar untuk melayani pasien, akses informasi yang lebih baik, serta berkurangnya tekanan di tempat kerja.

Ket. Foto: — Sumber: Dok. Istimewa

Laporan ini diluncurkan dalam acara bertemakan “AI in practice: Scaling AI for better care in Indonesia” atau “Penerapan AI: Memperluas adopsi AI untuk layanan kesehatan yang lebih baik di Indonesia”, yang diselenggarakan oleh Philips di Jakarta bersama para pemimpin dari Kementerian Kesehatan, penyedia layanan kesehatan, dan asosiasi rumah sakit untuk mendiskusikan tahap selanjutnya dalam adopsi AI yang bertanggung jawab di Indonesia.

Presiden Direktur Philips Indonesia, Astri Ramayanti Dharmawan mengatakan diskusi mengenai AI dalam layanan kesehatan di Indonesia kini memasuki babak baru. Pertanyaannya bukan lagi sekadar apakah AI dapat meningkatkan kualitas layanan kesehatan melainkan bagaimana AI telah membantu tenaga kesehatan memiliki lebih banyak waktu, memperkuat pengambilan keputusan, dan membantu mereka memberikan pelayanan kepada lebih banyak pasien. 

"Prioritas kita saat ini adalah memastikan manfaat awal tersebut dapat diterjemahkan menjadi peningkatan layanan kesehatan yang berkelanjutan. Untuk itu, AI perlu terintegrasi dengan alur kerja klinis dan data kesehatan yang tepercaya, didukung oleh peningkatan kapabilitas tenaga kesehatan, serta tetap menempatkan penilaian dan akuntabilitas manusia sebagai inti dari setiap pelayanan kesehatan," kata Astri dalam keterangan tertulisnya, Senin (14/9).

Manfaat Nyata

Tenaga kesehatan di Indonesia melaporkan manfaat nyata dari penggunaan AI, terutama yang berkaitan langsung dengan peningkatan kapasitas dan pemberian layanan kesehatan.

Hampir 9 dari 10 tenaga kesehatan (88%) mengatakan AI telah meningkatkan efisiensi alur kerja, angka ini cukup tinggi jika dibandingkan dengan 71% secara global. Sebanyak 87% tenaga kesehatan melaporkan akses yang lebih cepat terhadap hasil diagnosis, sementara 82% mengatakan bahwa AI telah mempercepat pengambilan keputusan terkait diagnosis.

Tiga perempat tenaga kesehatan (75%) melaporkan kemudahan akses terhadap data pasien yang terintegrasi lintas tim medis, dibandingkan dengan 57% secara global. Akses informasi yang lebih baik secara relevan dapat mengurangi waktu yang terbuang untuk mencari data di berbagai sistem dan mendukung keputusan yang lebih terkoordinasi.

Peningkatan ini mulai berdampak pada kapasitas klinis. Lebih dari dua pertiga tenaga kesehatan Indonesia (69%) mengatakan alat berbasis AI telah meningkatkan kapasitas mereka untuk melayani lebih banyak pasien, dibandingkan dengan 50% secara global. Di antara mereka yang melaporkan peningkatan kapasitas, median peningkatannya adalah empat pasien tambahan per minggu.

Presiden Direktur Siloam International Hospitals, David Utama menambahkan AI memberikan manfaat terbesar ketika diintegrasikan ke dalam alur kerja klinis dan membantu mengurangi hambatan dalam pekerjaan sehari-hari tenaga kesehatan. Bagi Siloam, peluangnya bukan sekadar menerapkan lebih banyak teknologi, tetapi mempercepat transformasi Siloam menuju Hospital of the Future yang selalu berfokus pada hasil klinis dan outcome terbaik bagi pasien.

"AI membantu tenaga kesehatan mengambil keputusan yang lebih cepat dan tepat, sekaligus menghadirkan lebih banyak waktu untuk interaksi yang bermakna dengan pasien. Dalam visi tersebut, teknologi berperan sebagai enabler yang memperkuat kapabilitas klinis, sementara dokter dan tenaga kesehatan tetap menjadi pusat pengambilan keputusan serta pemberian layanan bagi pasien. Untuk memperluas penerapan AI secara luas dan bertanggung jawab, dibutuhkan kepemimpinan klinis yang kuat, data yang tepercaya dan saling terhubung, tata kelola yang jelas, serta kolaborasi erat di seluruh ekosistem kesehatan,” katanya.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Mohammad Zaki Alatas

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.