• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Berat Badan Sulit Turun Me...

Berat Badan Sulit Turun Meski Sudah Diet? Ini Penjelasan Medisnya

Senin, 14 Sep 2026, 18:15 WIB

JAKARTA — Upaya menurunkan berat badan tidak selalu memberikan hasil yang sama pada setiap orang. Sebagian orang mungkin sudah mengurangi porsi makan, membatasi makanan manis, dan meningkatkan aktivitas fisik, tetapi berat badan tetap sulit berkurang.

Kondisi tersebut kerap dikaitkan dengan kurangnya disiplin dalam menjalani diet. Namun, dari perspektif medis, persoalan berat badan jauh lebih kompleks. Obesitas saat ini dipahami sebagai penyakit kronis yang dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari genetik, neurobiologi, perilaku makan, kondisi psikologis, hingga lingkungan.

Ket. Foto: Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Gizi Klinik Indonesia (PDGKI), dr. Erwin Christianto, Sp.GK, M.Gizi. Berat badan sulit turun meski sudah diet tidak selalu disebabkan kurang disiplin, melainkan karena obesitas merupakan penyakit kronis yang dipengaruhi banyak faktor. — Sumber: PDGKI

Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Gizi Klinik Indonesia (PDGKI), dr. Erwin Christianto, Sp.GK, M.Gizi, mengatakan pandangan bahwa obesitas semata-mata disebabkan oleh terlalu banyak makan sudah tidak lagi memadai untuk menjelaskan kondisi tersebut.

“Kalau dulu kita hanya mengenal obesitas karena makan terlalu banyak, sekarang kita tahu penyebabnya jauh lebih kompleks,” ujar Erwin melalui keterangannya pada Senin (14/9).

Menurut dia, obesitas merupakan penyakit multifaktorial karena melibatkan berbagai mekanisme yang dapat saling memengaruhi. Faktor tersebut antara lain genetik, hormonal, fungsi otak dalam mengatur rasa lapar dan kenyang, kondisi psikologis seperti stres dan kurang tidur, serta efek samping obat-obatan tertentu.

Karena faktor penyebabnya dapat berbeda, perjalanan obesitas pada setiap orang juga tidak selalu sama. Hal tersebut menjadi salah satu alasan mengapa pendekatan penurunan berat badan yang berhasil pada satu orang belum tentu memberikan hasil serupa pada orang lain.

Mengapa Berat Badan Bisa Sulit Turun?

Erwin menjelaskan, diet pada dasarnya merupakan pengaturan pola makan dan tidak identik dengan berhenti makan atau mengurangi makanan secara ekstrem. Ketika seseorang sudah mengurangi asupan makanan tetapi berat badannya tidak mengalami penurunan, menurut dia, kondisi tersebut perlu dilihat lebih jauh untuk mengetahui penyebabnya.

“Kalau seseorang sudah mengurangi makan tetapi berat badannya tidak turun, kita perlu mencari penyebabnya,” katanya.

Salah satu kemungkinan adalah adanya asupan kalori yang tidak disadari, misalnya dari kebiasaan ngemil. Faktor lain juga dapat berkaitan dengan kondisi metabolisme dan berbagai mekanisme biologis yang memengaruhi bagaimana tubuh menggunakan dan menyimpan energi.

Karena itu, berat badan yang tidak kunjung turun tidak selalu dapat disimpulkaan sebagai bukti bahwa seseorang kurang berusaha. Penilaian perlu dilakukan secara menyeluruh dengan mempertimbangkan pola makan, aktivitas fisik, kondisi metabolik, tidur, stres, obat-obatan, serta faktor lain yang relevan.

Erwin juga mengingatkan masyarakat agar tidak mengikuti tren diet di media sosial secara sembarangan. Pola diet yang memberikan hasil pada seseorang belum tentu memberikan hasil yang sama pada orang lain karena kondisi tubuh dan faktor yang memengaruhi berat badan dapat berbeda.

Obesitas dan Risiko Penyakit Kronis

Persoalan obesitas di Indonesia juga menjadi perhatian kesehatan masyarakat. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, hampir satu dari empat orang dewasa di Indonesia mengalami obesitas. Obesitas tidak hanya berkaitan dengan ukuran atau berat tubuh, tetapi juga dengan peningkatan risiko sejumlah penyakit kronis. Kondisi tersebut antara lain berhubungan dengan diabetes melitus tipe 2, penyakit kardiovaskular, dan beberapa jenis kanker.

Salah satu cara yang umum digunakan untuk melakukan skrining awal adalah Indeks Massa Tubuh (IMT) atau Body Mass Index (BMI). Namun, BMI tidak dapat digunakan sebagai satu-satunya penentu kondisi kesehatan seseorang karena tidak secara langsung menggambarkan komposisi tubuh maupun distribusi lemak. Karena itu, hasil pengukuran BMI sebaiknya dipahami sebagai indikator awal dan bukan sebagai diagnosis.

Perubahan berat badan dan lingkar perut secara terus-menerus juga dapat menjadi alasan untuk melakukan evaluasi kesehatan. Erwin menyarankan masyarakat memperhatikan perubahan tersebut, terutama jika disertai keluhan yang mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.

“Kalau dalam dua sampai tiga bulan berat badan atau lingkar perut terus meningkat, itu sudah menjadi tanda bahaya awal,” ujarnya.

Keluhan seperti mudah lelah, nyeri lutut ketika melakukan aktivitas, tubuh terasa tidak segar setelah bangun tidur, atau aktivitas harian yang mulai terganggu juga dapat menjadi alasan untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.

Penanganan Tidak Sama untuk Setiap Orang

Karena penyebab dan kondisi setiap orang berbeda, penanganan obesitas tidak dapat menggunakan pendekatan yang sama untuk semua pasien. Evaluasi oleh dokter dapat mencakup penilaian pola makan, kondisi metabolik, komposisi tubuh, aktivitas fisik, serta kemungkinan adanya penyakit penyerta. Hasil evaluasi tersebut kemudian menjadi dasar untuk menentukan pendekatan penanganan yang sesuai.

Dokter Spesialis Gizi Klinik, misalnya, tidak hanya berfokus pada penyusunan menu makanan. Evaluasi juga dapat mencakup faktor-faktor yang berkontribusi terhadap penumpukan lemak dan kondisi kesehatan pasien secara keseluruhan.

Perubahan gaya hidup tetap menjadi bagian penting dalam penanganan obesitas. Perubahan tersebut mencakup pengaturan pola makan, peningkatan aktivitas fisik sesuai kemampuan, tidur yang cukup, serta pengelolaan stres.

Pada kondisi tertentu, perubahan gaya hidup saja mungkin belum cukup. Dalam situasi tersebut, dokter dapat mempertimbangkan terapi medis tambahan, termasuk penggunaan obat-obatan untuk obesitas, berdasarkan kondisi dan kebutuhan pasien.

Penggunaan obat tidak seharusnya dilakukan secara mandiri. Jenis terapi, dosis, manfaat, risiko, dan kesesuaiannya perlu ditentukan berdasarkan evaluasi tenaga kesehatan.

Mencari Informasi yang Tepat

Meningkatnya informasi mengenai diet dan penurunan berat badan di media sosial membuat masyarakat memiliki banyak pilihan metode. Namun, banyaknya informasi tidak selalu berarti seluruh informasi tersebut memiliki dasar medis yang memadai.

Pemahaman bahwa obesitas merupakan penyakit kronis dapat membantu mengubah cara pandang terhadap persoalan berat badan. Kesulitan menurunkan berat badan tidak selalu menunjukkan kegagalan atau kurangnya kemauan seseorang, tetapi dapat berkaitan dengan berbagai faktor biologis dan lingkungan yang membutuhkan evaluasi lebih lanjut.

Untuk membantu masyarakat memperoleh informasi mengenai obesitas, PT Anugerah Pharmindo Lestari (APL) menghadirkan platform edukasi www.obesityisadisease-id.com melalui kampanye #BeraniBicaraBerat.

Platform tersebut menyediakan informasi dan materi edukasi mengenai obesitas, termasuk panduan untuk memahami kondisi berat badan. Salah satu fitur yang tersedia adalah kalkulator BMI yang dapat digunakan sebagai alat skrining awal.

Meski demikian, informasi daring dan kalkulator BMI tidak menggantikan pemeriksaan medis. Bagi seseorang yang mengalami kenaikan berat badan atau lingkar perut secara terus-menerus maupun memiliki keluhan kesehatan yang berkaitan, konsultasi dengan dokter tetap menjadi langkah penting untuk mengetahui kondisi dan menentukan penanganan yang sesuai.

Pada akhirnya, pengelolaan berat badan bukan sekadar persoalan seberapa banyak seseorang makan atau seberapa sering berolahraga. Obesitas memiliki mekanisme yang kompleks sehingga penanganannya juga perlu mempertimbangkan kondisi setiap individu.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.