Tangani Karhutla, Kalbar Kerahkan 3 Pesawat untuk Operasi Modifikasi Cuaca
Kamis, 10 Sep 2026, 14:07 WIBPONTIANAK - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Barat bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengoptimalkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan mengerahkan tiga pesawat.
"Sampai hari ini sudah ada tiga pesawat yang kami kerahkan bersama-sama dengan BNPB. Terhitung mulai tanggal 4 (September) kemarin kami sudah menggunakan tiga pesawat," kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Barat (Kalbar) Ridwan di Pontianak, Kamis (10/9).
Ridwan mengatakan OMC telah dilaksanakan sejak 28 Agustus 2026 dan dijadwalkan berlangsung hingga 10 September 2026 dengan menyesuaikan kondisi atmosfer serta potensi pertumbuhan awan hujan di wilayah Kalbar.
âAwalnya hanya dua pesawat. Kemudian atas perintah Kepala BNPB dilakukan penambahan satu pesawat lagi. Jadi, sampai hari ini ada tiga pesawat OMC yang sudah beroperasi di Kalbar,â katanya.
Penambahan satu armada dilakukan untuk memperkuat upaya penyemaian awan hujan di tengah kondisi bibit awan yang masih minim di sejumlah wilayah Kalbar.
Ia menjelaskan pelaksanaan OMC tidak dilakukan secara sembarangan karena setiap penerbangan dan penyemaian awan mengacu pada data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), terutama terkait keberadaan bibit awan, potensi hujan, serta arah angin.
Apabila bibit awan tersedia tetapi arah angin tidak mendukung, kata dia, penyemaian tidak dilakukan karena kondisi tersebut dinilai tidak efektif untuk menghasilkan hujan di wilayah yang membutuhkan.
âWali data kita adalah BMKG. Untuk awan yang bisa disemai, apakah memungkinkan untuk menghasilkan hujan atau tidak, termasuk arah angin, semuanya berdasarkan ketetapan yang dikeluarkan oleh BMKG,â ucap Ridwan.
Namun optimalisasi OMC masih terkendala karena terbatasnya bibit awan yang dapat disemai. Kondisi tersebut tidak hanya terjadi di Kalbar, tetapi juga masih menjadi tantangan dalam pelaksanaan OMC di wilayah Kalimantan secara keseluruhan.
Berdasarkan data BMKG, potensi bibit awan relatif tinggi pada 4-7 September dan peluang penyemaian masih tersedia hingga 10 September. "Hujan juga telah turun di sejumlah wilayah, terutama Kapuas Hulu, Sintang, dan kawasan perhuluan Kalbar," ujarnya.
Sementara itu Ketapang dan Kubu Raya, kata dia, masih menjadi wilayah prioritas penanganan karena titik panas dan titik api di kedua daerah tersebut masih relatif kuat, sedangkan curah hujan masih minim.
âYang paling kuat titik panas dan titik apinya adalah di daerah Ketapang dan Kubu Raya. Di sana masih sangat minim hujan,â katanya.
Selain itu pemerintah menyesuaikan metode penanganan karhutla dengan kondisi dan lokasi kebakaran. Tim darat dinilai lebih efektif menangani kebakaran di kawasan permukiman, sedangkan pemadaman melalui water bombing digunakan untuk wilayah yang sulit dijangkau personel di darat.
Redaktur: Lili Lestari
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Indonesia Berpotensi Digugat ke Mahkamah Internasional Jika Gagal Atasi Kebakaran Hutan dan Lahan
-
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo: Polisi Sudah Tangkap Sejumlah Pelaku Karhutla.
-
Karhutla Meluas, BMKG Deteksi Lonjakan 2.671 Titik Panas di Sumatera
-
Karhutla Tak Kunjung Padam, MUI Ajak Gelar Shalat Istisqa Agar Hujan Turun
-
Satu Rumah di Bangka Tengah Terkena Dampak Karhutla
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.