Dompet Dhuafa Sediakan Ruang Belajar Darurat di Nagekeo

Rabu, 09 Sep 2026, 13:45 WIB

JAKARTA - Sejumlah sekolah di Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), masih menghadapi keterbatasan ruang belajar setelah gempa melanda wilayah tersebut. Kondisi itu membuat kegiatan belajar mengajar harus dilakukan di ruang terbuka, bahkan terdapat siswa yang belajar di bawah pohon karena belum tersedianya tempat yang aman dan layak.

Melihat kondisi tersebut, Dompet Dhuafa melalui Disaster Management Center (DMC) dan Dompet Dhuafa NTT membangun Sekolah Darurat di sejumlah instansi pendidikan di Nagekeo. Pembangunan dilakukan pada Rabu (9/9/2026) di SMPN 5 Aesesa dan TK Waemburug di Kelurahan Waekokak serta SDN Natakupe di Kelurahan Rendutenoe.

Ket. Foto: Sejumlah sekolah di Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), masih menghadapi keterbatasan ruang belajar setelah gempa melanda wilayah tersebut. Kondisi itu membuat kegiatan belajar mengajar harus dilakukan di ruang terbuka, bahkan terdapat siswa yang belajar di bawah pohon karena belum tersedianya tempat yang aman dan layak. — Sumber: Dompet Dhuafa

Di SMPN 5 Aesesa, kegiatan belajar mengajar sebelumnya dilakukan di lapangan dengan memanfaatkan tenda seadanya. Keterbatasan fasilitas bahkan membuat salah satu jenjang harus mengikuti pembelajaran di bawah pohon karena tidak memiliki ruang yang dianggap layak dan aman.

“Kami belajarnya di ruangan, yang atapnya menggunakan pohon,” ujar Quirinus Anjelo Senggo, salah satu murid SMPN 5 Aesesa. Kondisi tersebut menggambarkan tantangan yang dihadapi siswa untuk tetap mengikuti pembelajaran di tengah proses pemulihan pascagempa.

Dompet Dhuafa kemudian mendirikan dua ruang Sekolah Darurat di SMPN 5 Aesesa untuk mendukung kegiatan pendidikan selama masa tanggap darurat. Salah satu tenda digunakan sebagai ruang perpustakaan, sedangkan tenda lainnya difungsikan sebagai ruang kelas.

Keberadaan ruang belajar tersebut langsung dimanfaatkan para siswa untuk mengikuti kegiatan sekolah. Saat Sekolah Darurat berdiri, anak-anak terlihat memenuhi tenda untuk mengerjakan ujian di tengah kondisi sekolah yang masih dalam proses pemulihan.

Selain menyediakan tempat belajar, Dompet Dhuafa juga memberikan edukasi mengenai mitigasi bencana gempa bumi kepada siswa SMPN 5 Aesesa. Materi disampaikan dengan cara sederhana agar mudah dipahami anak-anak, terutama mengenai tindakan yang perlu dilakukan ketika gempa kembali terjadi.

“Kami ada nyanyi-nyanyi tentang ketika gempa kita harus melindungi kepala supaya bangunan tidak jatuh terkena kepala,” lanjut Anjelo. Menurutnya, kegiatan tersebut membuat pembelajaran mengenai kesiapsiagaan bencana terasa lebih mudah diterima oleh para siswa.

“Kehadiran Dompet Dhuafa sangat membuat kami happy, karena kami punya tenda Sekolah Darurat di sini,” sambungnya.

Pihak sekolah juga menyampaikan apresiasi karena bantuan tersebut membuat kegiatan belajar dapat berlangsung dengan kondisi yang lebih aman dan nyaman.

Guru Pengajar Pancasila SMPN 5 Aesesa, Ananias, mengatakan keberadaan tenda Sekolah Darurat sangat membantu sekolah dalam menjalankan kegiatan pembelajaran. Menurutnya, fasilitas tersebut memberikan perlindungan lebih baik bagi siswa dan guru selama kegiatan belajar berlangsung.

“Kehadiran Dompet Dhuafa sangat membantu kami. Tetapi dengan ada bantuannya Dompet Dhuafa ini, tendanya lebih aman,” ungkap Ananias.

Ia menambahkan bahwa siswa juga mendapatkan pembekalan mengenai tindakan yang perlu dilakukan ketika bencana terjadi.

“Selain itu anak-anak juga dibekali edukasi penanganan ketika terjadi bencana,” sambungnya.

Edukasi tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kesiapsiagaan siswa agar dapat merespons kondisi darurat dengan lebih baik.

Berdasarkan laporan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada 8 September 2026 pukul 17.00 WIB, tercatat sebanyak 13.657 gempa susulan terjadi. Kondisi tersebut membuat sejumlah instansi pendidikan tetap memilih lokasi yang lebih aman untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar.

Pembelajaran kemudian dilakukan di tempat terbuka seperti lapangan atau di bawah pohon yang rindang. Namun, kegiatan tersebut tetap menghadapi kendala karena tidak semua sekolah memiliki fasilitas pendukung seperti terpal atau tenda untuk melindungi siswa dan guru dari panas maupun hujan.

Keterbatasan fasilitas tersebut membuat keberadaan Sekolah Darurat menjadi penting selama proses pemulihan berlangsung. Selain menjadi tempat untuk menjalankan kegiatan belajar, fasilitas tersebut juga memberikan ruang yang lebih terlindungi bagi anak-anak dan guru dari kondisi cuaca maupun risiko bencana susulan.

“Kami melihat dengan kehadiran Sekolah Darurat ini mampu menjadi ruang aman anak dan guru dari bencana maupun cuaca untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar dengan nyaman,” pungkas Abdul ‘Labing’ Aziz, tim DMC Dompet Dhuafa sekaligus PIC Respons Gempa NTT Penugasan Kabupaten Nagekeo.

Dompet Dhuafa melalui DMC masih melanjutkan pendampingan untuk mempercepat proses pemulihan masyarakat yang terdampak gempa di NTT. Pendampingan tersebut diharapkan dapat membantu para penyintas, termasuk anak-anak, kembali menjalani aktivitas pendidikan dan kehidupan sehari-hari secara bertahap.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Paundra Zakirulloh

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.